Aku dan Mba Aam: Mas Zia

Semula aku dan mbk Aam berniat ke UGM, mengikuti seminar manuskrip dan naskah. Namun, menghitung beberapa perkara, akhirnya kami muter-muter di pasar Bringharjo. Mencari ini-itu, menjelajahi pasar yang belum kutahu sebelumnya. Ternyata di sana tersedia banyak barang yang dijual. Diantaranya adalah hasil kerajinan tangan.

Tibalah kami di Krapyak dan berhenti di warung mie ayam. Aku dan Mbak Aam ngobrol banyak mengenai hidup kita masing-masing. Keberlangasungan hidup kami setelah ini. Lalu, obrolan kami merembet ke Mas Zia dengan segala kebermanfaatan hidupnya. Mas Zia adalah salah satu santri terkeren di Krapyak. Ia adalah pemikir, penggagas, penggerak, dan pelaku. Sulit kan mempunyai banyak peran di dalam kehidupan ini.

Mas Zia adalah pembelajar yang baik. Ia memiliki akar keilmuan yang kuat. Baik itu di bidang agama, pendidikan, sosial, politik, pesantren, kitab kuning, dan lain sebagainya. Terlihat dari tulisan-tulisannya yang berbobot tinggi. Ketika membaca tulisannya, kita selalu tertampar dan tersindir. Kena banget dah. Pas karena itu terkait dengan hidup kita. Tidak hanya sekedar wacana, isu, atau teori yang melangit tinggi. Melainkan juga sesuatu yang mengakar dan menginjak bumi, berbau tanah yang mencirikan kehidupan riil.

Mas Zia selalu memberikan pandangan-pandangan yang seger dan fresh. Misalnya seperti bagaimana hendaknya kita bersikap di masa kini. Masa-masa ketika kita tidak bisa memandang dan memilah banyak unsur yang berkelindan. Kita selalu mencampur-adukkan berbagai persoalan sehingga nggak bisa melihat persoalan dengan lebih jernih lagi.

Mas Zia adalah tipe wong lanang yang mudah dikagumi banyak orang. Seperti ketika aku melihatnya secara langsung, Mas Zia berjalan kaki saat aku pulang dari Koppontren. Aku mengikuti langkah kakinya. Sana kaki kanan, sini juga kaki kanan. Mas Zia mengayunkan kaki kiri, kaki kiriku pula yang di depan. Wkwk. Kurang kerjaan banget kan? Perasaanku saat itu, seperti orang yang bertemu dengan idolanya.

Mas Zia selalu melihat semua kehidupan sebagai kehidupan yang sama. Ia mendudukkan semua orang sebagai pihak yang setara. Terlihat ketika Mas Zia menulis sosok Mbok Yem, pemulung yang lewat pondok, bocah cilik-cilik, dan lain sebagainya. Siapa sih yang bisa bersikap kepada semua orang secara adil? Memanusiakan manusia, apapun latar belakangnya.

Ketika kebanyakan anak muda berjuang dan berebutan beasiswa LPDP dan sekolah di luar negri, Mas Zia tetap konsisten dan berjalan di jalannya. Ketika banyak dari kita yang gampang berbangga karena beasiswa, Mas Zia tidak terlalu berkeinginan. Padahal, kalau mau, Mas Zia akan sangat mudah memperoleh semua itu. Tapi memang bukan itu yang dituju Mas Zia. Aku melihat bahwa dalam hidup mas Zia, tersimpan hidup yang sebenar-benarnya hidup. Tidak tertipu dengan berbagai tawaran dunia. Termasuk beasiswa, kuliah luar negri, pekerjaan bergengsi, dan lain sebagainya.

Mas Zia adalah contoh individu yang berdaya. Juga kepada alam, Mas Zia tahu bagaimana bersikap padanya. Keren dah. Kalau kebanyakan dari kita suka salaing nyinyir, Mas Zia sebaliknya. Tidak menempatkan dirinya berhadap-hadapan dengan orang yang berlawanan dengannya. Mas Zia menampilkan sosok-sosok orang yang mengkampanyekan perdamaian, toleransi, pelestarian lingkungan, dan semcamnya. Mas Zia tidak membuka aib lawan dengan menyinyirinya. Salah satu hal yang belum bisa dilakukan oleh orang kebanyakan.

Ia adalah santri yang kritis. Beberapa hal yang harusnya dikritisi, Mas Zia kritisi. Sikap kritis ini tidak tercerabut dari keadaban dan keakhlakan Mas Zia. Mas Zia bisa memposisikan dirinya sebagai pengkritik yang beradab. Sifat yang telah lama hilang dari budaya kita. Sementara ini, banyak orang yang asal ceplos tanpa mempertimbangkan sopan santun dan unggah-ungguhnya sebagai manusia.

Selain membicarakan kepribadian Mas Zia, aku dan mbak Aam juga membicarakan dan menyinggung urusan pribadi Mas Zia. Hubungan asmaranya dengan seseorang yang kebetulan sudah kutahu sejak Mts. Guruku, bu Fina dan bu Hindun pernah bercerita mengenai kelompok belajar Qoryah Thayyibah di Salatiga. Salah satu muridnya bernama Fina, sosok keren yang mengkritisi UAN. Ia mengikuti UAN karena ingin menulis tentang UAN. Bukan karena menginginkan nilai tinggi sebagai prasyarat untuk memasuki sekolah-sekolah elit. Bukan karena itu, bukan.

Orang keren memang dapetnya orang keren. Begitu kesimpulanku dengan Mbak Aam. Semoga menjadi pasangan yang selalu keren dan ketjee.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

12 Maret 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s