Jogja Paska Jakarta

Sengaja membeli tiket ke Jogja sebulan sebelum keberangkatan, biar dapat kereta yang murah. Kereta Bengawan 74 ribeng. Aku tiba di Lempuyangan jam delapan malam. Aku minta tolong pada Eka untuk menjemputku. Mumpung ada kesempatan manja pada temen sendiri, hal yang tidak bisa kuperoleh ketika di Jakarta. Di Jakarta mah ngandelin Abang Gojek.

Di sepanjang perjalan menuju Krapyak, aku menganga melihat jalanan Jogja yang lenggang. Jarang ada kendaraan kecuali di jalan-jalan pusat keramaian seperti Malioboro itu. Tinggal di beberpa kota menjadikanku selalu membanding-bandingkan satu kota dengan kota yang lain. Jepara, Jogja, dan Jakarta. Ngomong-ngomong, kok berhuruf awalan “J” semua ya. Ini bukan klenik dan eklektik. Murni tanpa disengaja. Padahal setiap kota memiliki karakternya sendiri-sendiri. Tidak bisa dinilai dengan tolak ukur yang sama. Banyak hal yang mempengaruhi. Harus arif dalam memandang persoalan.

Tapi bener-bener deh, aku merasakan Jogja yang memberikan kedamaian. Orangnya, rumah-rumahnya, jalan-jalannya, bangunan-bangunannya, toko-tokonya, dan lain sebagainya. Memang aku membawa seperangkat dunia Jakarta di dalam kepalaku. Sehingga aku menilai apa-apa dari kacamata Jakarta. Hal itu juga kulakukan ketika aku baru saja tinggal di Jakarta. Aku masih kebayang-bayang Jogja yang aduhai serba memudahkan.

Barangkali karena aku merasa bukan orang Jogja lagi, sehingga tetap ada rasa kangen pada Jakarta. Kota yang dijuluki sebagai ibu tiri. Aku melihat dan merasakan Jogja yang menawarkan kehidupan yang sangat lambat. Entahlah, mungkin karena di Jakarta kita merasakan atmosfer kehidupan yang selalu buru-buru dan kemrungsung. Tidak pernah nyantai. Lha di Jogja, semua serba nyantai. Tapi tetap, keilmuan di sana berkembang dengan subur. Kota yang berbudaya, beradab, berakhlak, beretika, dan berilmu. Lebai sitik.

Aku menimang-nimang kegiatanku sebelum di Jakarta. Dulu saat masih di Jogja, ketika di luar seharian, pada malam harinya, aku sudah tidak kuat beraktifitas. Kemarin saat di Jogja beberapa hari pun demikian, aku tidak memiliki banyak kekuatan untuk bergerak. Padahal, waktu dalam sehari terasa lebih panjang dibanding waktu dalam sehari di Jakarta. Seolah-olah, aku terbuai dengan kesunyian Jogja. Jogja meninabobokkanku dalam waktu yang teramat lama. Entah apa sebabnya bisa demikian. Di Jogja, kita merasakan kehidupan yang mengalir mengikuti arus yang membawa kita. Atau hanya kesanku saja yang seperti ini.

Kota yang enggan beranjak. Tapi aku masih menyaksikan orang-orang yang tetap bergerak, meski kotanya masih tertidur pulas.  Mungkin, masyarakat Jogja berdinamika dan berdialektika secara keilmuan, olah pikir, dan olah rasa. Sedangkan di Jakarta, selain olah pikir, orang-orang dituntut untuk melakukan olah fisik. Hal ini berkaitan dengan kondisi dan tata kota Jakarta yang begini lah… Kalau menyaksikan sendiri bagaimana orang-orang berlarian mengejar-ngejar Bus Way atau KRL. Gembruduk suara kaki mereka. Dari situ saja bisa terdeteksi bagaimana pola hidup orang Jakarta dan orang Jogjakarta. Dua kota yang namanya hanya dibedakan dengan “Jog.”

Paling ngenes ya Jepara, aku sama sekali tidak mengenalinya dengan baik. Aku keturunan Jepara asli. Tapi saat di Jakarta, kenapa yang kukangeni justru Jogja? Embuh. Ini namanya durhaka pada kota sendiri. Perasaanku pada Jepara sungguh hambar. Semoga nanti bisa menumbuhkan gereget dalam sanubari untuk mengenali Jepara labih banyak lagi. Kalau nggak kenal memang nggak sayang. Ehehehe

Perpusnas, Jakarta Pusat

15 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s