Sowan Krapyak

Setiba di Krapyak, aku tidak langsung sowan ndalem. Menunggu waktu yang pas terlebih dahulu. Jadilah aku sowan ke ndalem pada sore hari menjelang Maghrib. Kalau menunggu malam, takutnya Gus Nang dan Ibuk tindak ke pusat. Ada pembacaan Burdah di Al-Munawwir pusat.

Aku bukan tergolong santri yang teramat dekat dengan ndalem. Juga bukan santri yang teramat jauh dari ndalem. Santri  yang biasa-biasa saja. Mungkin berbeda dengan teman-teman yang telah mengabdi lama di ndalem, MTPA, dan di kepengurusan-kepengurusan lain. Meski demikian, aku tetap bersyukur bisa sowan ndalem.

Gus Nang bercerita banyak hal. Sebenarnya aku ingin menimpali dengan kalimat-kalimat yang lebih panjang. Namun apakah pantas seorang santri melakukan hal ini? Aku juga ingin bertanya apakah Gus Nang dan Ibuk sehat. Aku ingin mengetahui kabar beliau lebih banyak. Justru Gus Nang yang menanyaiku banyak hal. Aku tidak berdaya mengeluarkan banyak tanya.

Selama hidup di luar pondok, aku menemui diriku yang belum bisa membawakan diri dengan pas. Maksudku, aku masih tersering bingung dan terombang-ambing dalam menentukan sikap dan prioritas hidup. Tantangannya nambah lagi. Sewaktu di pondok, kita memiliki banyak penunjang seperti lingkungan yang kondusif, dekat dengan sosok guru, teman-teman yang senasib, dan lain-lain. So, kita tidak terlalu pusing dalam menjalankan kehidupan. Lha sekarang, aku harus pinter-pinternya mensikapi keadaan. Harus tahu mana yang mesti didahulukan. Aku sering lalai dan tidak mengenali diriku sendiri. Entah bagaimana ceritanya sampai aku tidak mengetahui orientasi hidupku. Aku jarang nderes.

Gus Nang berpesan bahwa aku harus nderes lima jus sehari. Tidak harus bil-ghaib, bin-nadzri saja. Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk menjaga apa yang semestinya dijaga. Kalau tidak, lidah kita akan kelu sendiri. Kita akan terasing dengan al-Qur’an. Mulut kita akan belepotan ketika mendaras Kalam-Nya. Duh.

Selain ke ndalem, aku juga sowan ke Maqbarah Simbah dan Bapak di Dongkelan. Sowan singkat yang hanya membaca tahlil dan doa. Di sela-sela itu, aku memohon doa restu pada beliau atas hidup yang sedang kujalani. Simbah, Bapak, Mbah Ali, Gus kelik, dan juga dzurriyyah-ahlan yang lain. Betapa aku harus berterima kasih kepada beliau-beliau. Beliau yang telah memberikan hidupnya untuk hidup orang lain. Termasuk juga hidupku. Matur nuwun sanget.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

12 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s