Tentang Apa?

Dalam kehidupan ini, ada momen-momen yang tersimpan rapat di dalam hati. Selalu teringat dan terkenang. Tapi karena aku ini memang orang yang sangat perasa, makanya setiap hal menjadi sangat istimewa. Menurut orang lain, mungkin biasa-biasa aja. Bisa saja sih, namanya juga orang banyak.

Salah satu diantaranya adalah ketika aku iseng mencoba mencari peruntungan di Jakarta. Awalnya, aku melihat pengumuman di FB seseorang. Aku mempelajari persyaratan-persyaratannya. Waktunya terlalu mepet. Antara dikeluarkan pengumuman dengan tes hanya berjarak lima hari.

Kalau mau nekad sendirian tuh kurang berani. Maka kuajaklah Debe yang saat itu menjabat sebagai ketua Q6. Koplak banget dan egois. Sudah tahu resiko apa yang bakalan terjadi, kenapa aku malah mengajaknya melakukan hal gila. Aku membujuk-rayu Debe. Sebenernya kita sama takutnya menghadapi perkara yang berkelindan di antara Jogja, Jakarta, Kampus kecil, jurusan yang tidak linear dan segala macamnya. Kami maju-mundur. Aku sudah memperingatkan Debe kalau hatinya tidak enak, mending nggak usah. Mumpung belum melangkah terlalu jauh, belum banyak yang dikorbankan. Nyatanya ia tidak mau mundur juga.

Sekali Debe memintaku dan meminta dirinya sendiri untuk tidak usah berangkat ke Jakarta. Saat itu kita kehabisan tiket kereta dan bingung mau naik apa. Sebenarnya bisa naik bis tapi kita belum pernah ke Jakarta. Jakarta masih menjadi kota yang teramat asing. Kalau mau naik bis, turunnya dimana. Kubilang pada Debe kalau aku akan tetap berangkat ke Jakarta dengan atau tanpa dia. Seketika ia bergidik mendengar sesumbarku yang terdengar sangat fantastis dan tak gentar itu.

Posisiku saat itu masih menjadi karyawan baru di salah satu toko buku online milik teman sendiri. Aku bilang pada Mbak Zizah, kemudian Mbak Zizah langsung memanggil Mas Gugun, meminta pertimbangan. Mbak Zizah adalah orang yang bijak. Sesungguhnya ia keberatan kalau aku keluar karena akan sangat merepotkan jika harus mentraining karyawan yang baru lagi. Namun, Mbak Zizah paham betul bahwa aku sedang menuju dunia yang kuimpikan selama ini. Dunia sekolah yang penuh dengan buku-buku.

Sebelum itu, aku adalah orang yang menjadikan hari-hariku sebagai aktivitas rutin saja, tanpa memiliki makna yang berarti. Aku seolah telah mengubur mimpi-mimpiku. Sangat realistis namun tanpa gairah. Betapa memang sangat berbeda, hidup tanpa perasaan dengan hidup yang menggairahkan. Bagaimana bisa aku belum bisa bersyukur atas hidup yang kujalani?

Mbak Niswah sebagai teman yang semisi, sangat bungah melihat gairah hidupku bersemi kembali. Orang lain saja tahu akan hal itu, kenapa justru aku yang pura-pura tidak tahu. Mestinya aku yang lebih tahu dong.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s