Diary, Buku Tulis, dan Hi-Tech

Semenjak bebas membuka laptop dimana pun berada, aku jadi jarang menulis di buku tulis. Dulu, ketika di Krapyak, buku tulis dan polpen Hi-Tech adalah dua benda yang teramat dekat denganku. Sebelum tidur, aku menyapanya. Bangun tidur pun aku langsung mencarinya. Entah dapat wangsit apa, bangun-bangun langsung nulis. Mungkin menuliskan mimpi dikejar-kejar hantu.

Pergi kemana pun juga mereka berdua nggak pernah kutinggal. Selalu kubawa. Duh, jadi kangen masa-masa itu. Menulis di 6B, Konblok, luar kamar 6E, lantai tiga, Q8, Kampus, perpustakaan, masjid, emperan Shopping, dan lain-lain. Betapa hal kecil itu sungguh melekat kuat dalam ingatan yang tidak seberapa canggih ini.

Biasanya, aku menyelesaikan tulisanku dalam dua sampai tiga buah buku selama setahun. Kuabsen mereka satu-satu. Buku hijau Acer, buku hitam, buku biru (kertas hvs dijilid), buku orenge tipis, buku orenge tebal, buku coklat tebal, buku biru tebal, buku biru (sekarang). Kalau dijumlah ada delapan buku. Jadi ingin membuka-buka lagi. Catatan-catatan kecil mengenai perjalanan hidupku. Perjalanan rasa, perjalanan pikiran. Hiks, kangen mereka. Sekarang bukunya di rumah. Yang di sini Cuma dua. Semoga nggak dibuka-buka Bapak, bisa malu bangett. Hahaha

Tahun 2013, aku memfoto buku-bukuku. Jumlahnya baru empat. Sekarang 2017, jumlahnya delapan. Cuman nambah empat doang. Kalau dirata-rata, setahun cuman nulis dalam satu buku. Terhitung sejak tahun 2011 sampai 2017 hanya ada delapan buku. Wadaww, kukira aku sangat rajin menulis. Ternyata jumlahnya tak seberapa. Kualitasnya pun berkembang dengan sangat lambat. Barangkali karena aku tidak terlalu menseriusinya. Hanya sebagai pelengkap hidup belaka. Hahaha

Apalagi sekarang ini yang nggak begitu mengandalkan buku tulis, aku jarang menulis tangan (manual). Tekhnologi yang katanya memudahkan mampu menggeser buku tulis dan penanya. Padahal, kalau mau dipikir ulang, menulis di hape atau laptop tetap berbeda dengan menulis di buku tulis. Ada kesan dan nuansa yang khas. Kalau menulis di buku tulis, ada keintiman antara diri kita dengan pikiran, perasaan, sekitar, dan apa yang kita tulis.

Kita bisa menuliskan segalanya di sana. Tanpa perlu malu-malu. Kita bisa menulis secara blak-blakan. Tanpa tedeng aling-aling. Apapun itu, perkara yang menjijikkan bahkan dosa dan ratapan kita. Coba deh, dijamin asyik banget. Kita bisa mengungkapkan segalanya dengan jujur. Aku sudah mengalaminya sendiri. Seperti kemarin ketika aku mumet karena hal sepele yang kubesar-besarkan, aku menjadi waras lagi setelah menulis di buku tulis.

Tergerak menulis ini setelah membaca statusnya Afi Nihaya Faradisa yang berjudul “Menulis Diary Nggak Rugi.” Itu juga yang kurasakan selama ini. Selamat mencoba. Kalau nggak merasakan sendiri, kita nggak akan pernah tahu sensasinya.

Aku sering berpikiran iseng apakah aku akan mati cepet gara-gara aku menulis diary. Buku diary-nya Ahmad Wahib dan Anne Frank, siapa sih yang nggak tahu? Mereka meninggal dulu untuk membawa catatan hariannya  ke publik. Publik mengetahui diary mereka setelah mereka meninggal. Buku mereka diterbitkan dan tergolong buku yang we o we. Aku jadi berpikir, apakah aku harus mati duluan biar buku diary-ku diterbitkan? Sungguh pemikiran yang aneh. Namanya juga iseng.

Namanya buku diary, kenapa kupersilakan teman-temanku untuk membacanya? Tante, Mbak Zaem, Dek Ara, dan Mbak Pita adalah orang-orang yang membaca tulisanku. Mbak Pita yang paling ekstrem. Katanya, ia mengenaliku sampai dalam-dalamnya gara-gara membaca buku diaryku. hahaha. Lha gimana lagi? Aku tidak pernah kuasa menolak permintaannya. Barangkali bisa memberi sedikit umpan. Tapi kukira, Mbak Pita hanya membaca bagian-bagian yang sensitif, masalah perasaan. hahaha

Menulis diary adalah salah satu upaya untuk menjaga kewarasan diri yang tersering nggak bisa berpikiran jernih saat menghadapi sesuatu. Barangkali kalau nggak menulis, pikiranku akan mbulet terus-terusan. Kata temenku yang meriwayatkan matan dari Pak Faiz, “Kalian yang nggak bisa berpikir sistematis dan runtut, menulislah!” Temanku itu namanya Mbak Nufi. Kami terlibat perbincangan intens dalam waktu yang lama. Kami sama-sama orang sunyi. Klop deh kalau ketemu. Ngobrol berdua di musholla fakultas dakwah untuk menghindari orang-orang yang kami kenal. Mbak Nufi anak filsafat. So, kita sama-sama anak Ushuluddin. Selain di fak Dakwah, masjid adalah tempat ngobrol kami. Kalau aku terbiasa dengan keramaian, mungkin kami akan nongkrong di warung-warung kopi. Wkwkwk. Untung waktu itu aku belum begitu nyaman dengan dunia pertongkrongan.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

16 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s