Gawean

Mungkin apa yang kulakukan dengan transkripsi bukanlah pekerjaan besar. Aku hanya ingin mengumpulkan materi-materi yang disampaikan di dalam kelas. Tidak akan tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Hanya menyayangkan jika proses dialektika dan ilmu hanya berputar di kepala-kepala kami yang masuk kelas. Kami ingin mendokumentasikan dan membocorkan kepada khalayak luas. Biar tidak penasaran dengan term Islam Nusantara. Istilah yang menimbulkan perdebatan sengit. Ada yang marah-marah pula, tidak terima. Maksud kami, kami ingin ada komunikasi di antara kita. Biar tidak salah paham mulu. Barangkali bisa dijadikan bacaan ringan pengantar tidur. Hehe. Memang, inilah yang bisa dilakukan.

Karena aku belum begitu mengetahui banyak hal mengenai makul-makul di kampus ini, aku belum bisa menarasikan dengan penjelasan-penjelasan yang baik lagi menarik. Hanya begini adanya. Jika belum menuntaskan dahaga, mari menyelam lagi dan lagi. Sok yes banget sih gw. Kalau tulisan ini tidak sesuai dengan judul mata kuliah, ya memang demikian yang terjadi. Kami hanya menyajikan segala yang terucap. Tanpa mengelompokkan menjadi sebuah tema tertentu. Pembahasannya seolah tidak fokus dalam kesatuan persoalan.

Mungkin pekerjaan ini terinspirasi dari apa yang sedang dilakukan para takmir Majlis Jendral Sudirman Jogjakarta dengan projectnya. Mendokumentasikan materi-materi dalam bentuk rekaman audio, video, dan tulisan. Kami juga ingin melakukan hal yang sama di kalangan para pengkaji Islam Nusantara. Jika setiap orang memiliki kesadaran untuk mendokumentasikan dan menuliskan hasil-hasil diskusi di kelas, kita akan memiliki banyak literatur. Perdebatan di kelas, terkadang merupakan pemikiran yang orisinil dan jujur. Tiba-tiba respon yang muncul dari sebuah wacana yang sedang diperbincangkan.

Kalau mau telaten, hal-hal kecil ini dapat dijadikan buku. Hal-hal kecil yang akan menjadi salah satu aspek dalam sebuah bangunan peradaban. Selain itu, ketika perbincangan telah berwujud dalam sebuah tulisan atau dokumentasi lainnya, generasi selanjutnya tinggal mengembangkan. Generasi yang datang setelahnya pun hanya melanjutkan dan mengembangkan. Tidak mengulang terus-menerus. Jadi teringat diri yang malas membaca. Membaca buku-buku yang sudah ada pun aku ogah, apalagi mau meneruskan estafet peradaban. Terlalu utopis dan mengada-ada. Yasudahlah, jalani sebaik-baiknya.

Aku pernah mengutarakan maksudku pada salah satu tman kelas yang kuanggap memiliki kepedulian terhadap proses tulis-menulis. Ia memang mendukung, namun masih memikirkan hal-hal lain yang bisa menjadi penghambat. Maksud kami, ayo dilakukan sebisanya, yang mau saja. Tanpa memaksa atau memberikan tugas tambahan. Lagian, hidup ini tidak hanya soal menulis dan Islam Nusantara. Dengan demikian, kami belum memiliki tim yang solid. Masih berjalan sendirian. Akan sangat minimal hasilnya. Dari pada tidak sama sekali. Hahaha. Mengingat Islam Nusantara sebagai keilmuan merupakan hal yang tergolong sangat baru.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

20 Maret 2017

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s