Naira Layali (Semacam Cerpen)

NB: Lagi nyoba nulis cerita fiksi, bagaimana jadinya? Secara, aku bukan orang yang bisa berimajinasi tinggi. Kalau berpikiran absurd dan aneh sih sering. Tapi kan nggak menjamin, kualitas pikiran absurdnya dapat diterima orang ketika sudah tertuang dalam tulisan. Juga, aku bukan orang yang memiliki kelembutan hati, dijamin tulisan ini akan terasa sangat “datar” dan “dingin.” Cerminan dari yang menulis. Apologi banget sih. Nulis ya tinggal nulis aja, ribet amat jadi orang. Mari memulai, Bismillah banyak-banyak. Takut pingsan karena shock membaca cerita model begini.

Angkutan umum adalah salah satu benda yang teramat dekat dengan Naira. Sewaktu SMP, Naira menjadi penumpang tetap angkutan selama tiga tahun. Angkutan desa yang mengangkut orang-orang desa menuju kota kecamatan. Orang-orang akan turun di kota kecamatan, termasuk Naira yang masih berseragam biru-putih. Di dalam angkutan itu, Naira menyaksikan banyak cerita yang terjalin. Cerita yang kini hanya tinggal cerita. Tidak bisa ditemuinya lagi. Sudah menjadi dongeng dengan tokoh-tokoh aneh di tempat antah-berantah. Padahal, semua itu nyata. Bukan cerita rekaan pada masa lalu.

Penumpang angkudes milik Bang Amat saling mengenal satu sama lain. Lha wong mereka masih tetangga satu desa. Akan terasa ganjil jika orang satu desa tidak kenal seluruh penduduk desa. Karena sudah saling kenal, obrolan di dalam angkudes menjadi sangat berisik. Bakul gendong yang membawa dunak, petani yang menjual hasil panennya, anak sekolah yang menuju sekolahan, pemuda yang bekerja di kota kabupaten, pensiunan yang mengambil uang pensiunan di kantor pos adalah segerombolan penumpang.

Mereka bersahut-sahutan, melemparkan kalimat demi kalimat. Pemuda yang menggoda anak sekolahan, bakul gendong yang dunaknya memenuhi space angkudes, tumpah-ruah jadi satu. Tidak jelas antara pangkal dan ujung, utara dan selatan. Semua bebas menimpali. Tidak ada larangan sama sekali. Semua orang boleh kehilangan fokus. Asal bang Amat tidak.

Angkudes menjadi idola seluruh penduduk kampung ketika orang-orang belum terlalu mengenal sepeda motor. Masa dimana motor Honda Astrea adalah motor sejuta umat. Dimana-mana, motornya Honda Astrea, entah yang warnanya merah atau hijau. Lelaki-perempuan, muda-mudi, tua-muda menaiki Honda Astrea.

Naira merekam detail peristiwa dengan seksama. Terlebih, ia memang orang yang mudah tersentuh. Hanya kehidupan per-angkudesan pun, ia seolah memiliki ikatan batin dengannya. Sungguh cara kerja perasaan yang sia-sia. Ngapain ia susah-susah mengumpulkan puzzle kehiduapan yang telah dilaluinya? Kurang kerjaan banget kan? Bukan karena terlalu sentimentil, sangat perasa, atau kurang kerjaan, ia hanya ingin merekam gerak zaman.

Setiap kali Naira menaiki angkutan umum di ibukota, ada segenap perasaan yang berkecamuk. Apapun itu, ia tetap memilih tempat duduk di dekat pintu. Dengan begitu, wajahnya akan diterpa angin. Betapa Naira sangat menyukai hal ini, saat ia merasakan angin yang sribit-sribit. Sesekali Naira memejamkan matanya, menikmati hubungan yang intim dengan angin dan hidupnya sendiri.

Angkutan yang mengakrabkan, mendekatkan, menghangatkan orang-orang. Kemanusiaan manusia yang masih hidup dan bersenyawa dengan manusia. Kini, Naira mendapati orang-orang se-angkutan yang saling diam. Tidak ada sapaan atau sekedar ramah-tamah. Minimal basa-basi. Merasa frustasi dengan sekitar, Naira kembali membiarkan wajahnya tersapu angin.

“Nginep sini ya?” tanya sepupu Naira saat Naira bermain di rumahnya.

“Tidak Mbak, besok aku akan ke kota kabupaten. Nanti ketinggalan angkudes lagi”

“Hari gini naik angkudes??”

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

20 Maret 2017 (0:17)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s