Dipasung Semen Jilid II

Petani Kendeng melakukan aksi lanjutan dengan mengecor kaki dengan semen di depan Istana. Menuntut para pemangku kuasa untuk menaati hukum. Sebelum-sebelumnya, mereka telah melakukan aksi longmarch sebanyak tiga kali dan mengecor kaki. Aksi yang dikatakan orang-orang sebagai aksi yang melukai diri sendiri. Salah satu peserta aksinya meninggal dunia. Ialah Bu Patmi.

Dengan cara apa lagi mereka melawan pihak yang memiliki kuasa, nama, dan uang yang tak terhingga? dilihat dari apa-apanya, petani tidak memiliki bekal yang cukup untuk melakukan aksi. Hanya kediriannya sebagai manusia. Selain itu, tidak ada. Kedirian sudah cukup bagi mereka. Tidak membutuhkan apa-apa lagi di luar diri mereka. Adapun kalau seandainya ada faktor luar yang mendukung aksinya, itu adalah hal yang sekunder. Yang paling mendasar ya diri mereka sendiri. Diri yang memiliki seperangkat nurani, hati, dan kepedulian. Manusia yang sesungguhnya.

Aku menyetop bus way jurusan Kampung Melayu-Grogol di pinggir jalan. Biar tidak repot-repot menyeberang ke halte Matraman. Mengingat rute perjalananku yang berangkat dari perpusnas, jam setengah satu lebih. Hari ini adalah hari ke delapan aksi pengecoran kaki.

Ketika melihat foto-foto di facebook, aku mengira bahwa tempat aksi sama dengan aksi 212. Deket Monas. Aku menimbang dan menghitung jarak, apakah aku harus turun di halte Monas atau halte harmoni. Mencari jarak terdekat. Sejauh pemandangan mata, aku memperkirakan bahwa halte Monas lebih dekat. Oke fiks. Aku turun dan berjalan menuju lokasi.

Sebenarnya, aku agak canggung berada di tempat demo, dimana orang-orangnya berpenampilan aktivis. Maksudnya, cara berpakaiannya keluar dari pakem. Tidak sepertiku yang begini-begini saja, sewajarnya. Terkadang, dengan pakaian luar yang berbeda, perasaan kita menjadi was-was sendiri. Kukira aku tidak bisa berteman akrab dengan para aktivis. Perkiraanku melesat ketika aku KKN dan aku dapat berteman dengan baik dengan anak pergerakan. Maklum, aku bukan organisatoris, aktivis, anak pergerakan, dan semacamnya. Aku hanya orang yang menyukai kesunyian. Tidak lihai berada di keramaian dan bergerombol.

Bukti kalau aku canggung dengan keberadaanku adalah ketika korlap atau orang-orang yang orasi meneriakkan kata “hidup” berkali-kali. Harusnya, kita menimpali dengan teriakan “hidup” sembari mengepalkan tangan kiri. Lha aku?? malah mengangkat tangan kananku. Sungguh, hamba sangat awam dengan hal-hal kayak begini. Tidak pernah mengakrabinya.

Sependek keberadaanku di sana, aku hanya mengelap air mata yang mengucur secara tertib, bergantian. Rasa-rasanya, aku ini orang anti sama perkala mellow, tapi kalau menyaksikan kondisi semacam ini, mengapa menjadi mudah tersentuh? Cengeng sekali ya? ringkih dan rentan. Tidak pas berada di tempat-tempat demo yang sering berteriak-teriak. Lha wong aku nangisan begini. Nanti tersentak lagi. Aku membayangkan diriku mengambil-alih orasi, mungkin aku tidak bisa berkata-kata. Hanya mewek dan mewek. Atau mengucapkan kalimat-kalimat yang tidak jelas artikulasi dan bunyinya.

Saat jumpa pers di kantor WALHI, aku sebenernya ingin bertanya. Tapi aku tak bisa menghindari skenario lain. Ternyata air mata mendahului pertanyaanku. Aku memang terlalu cengeng. Juga saat mengikuti seminarnya Bu Masriyah Amva di Alma Ata, aku menangis dan dilanjutkan dengan bertanya.

Meski tidak terlalu nyaman dengan keramaian, mau tidak mau aku harus nimbrung di sana karena tuntutan. Tuntutan dari diri sendiri. Kalau mau mengetahui persoalan secara langsung, kita harus melihat lapangan dengan mata kepala sendiri. Tidak katanya dan katanya. Akhirnya aku membaur juga dengan mereka.

Tempat aksi adalah tempat yang sangat strategis karena dekat dengan Monas, istana presiden, gedung-gedung kementrian, gedung MK, TVRI, dan lain-lain. Hanya saja, apakah mereka yang berada di dalam gedung-gedung itu tahu kalau di seberang jalan ada aksi solidaritas Petani Kendeng? Juga polisi-polisi yang terlampau muda, kebetulan ditugaskan untuk menjaga ketertiban aksi, aku juga menjamin bahwa dalam semesta kepala mereka, belum tentu mempedulikan tuntutannya wong cilik.

Pada masa kerajaan, rakyat akan melakukan aksi pepe atau berjemur diri ketika ingin menyalurkan aspirasinya pada raja. Mereka berjemur dan berpanas-panasan di depan istana, menunggu panggilan dari raja. Barangkali Petani kendeng mengikuti cara-cara yang ditempuh moyang kita.

Bisa jadi orang-orang yang kutemui tadi siang adalah orang-orang keren yang membawahi suatu lembaga atau komunitas, namun aku nggak tahu mereka siapa saja. Hanya tahu salah satu orang yang mengecor kakinya, aku pernah melihatnya di kantor WALHI. Saat itu, ia menjadi salah satu pembicara di acara jumpa pers tersebut. Ada Mas Autad an-Nasr, orang GUSDURian Jogja yang kutahu profilnya dari facebook. Kebetulan, ia juga orang Jepara. Namun aku tidak memiliki keberanian untuk sekedar basa-basi dan say hello. Ujung-ujungnya Cuma mencuri poto Mas Autad yang sedang memfoto dan memvideo. Wkwkwk

Ehtapi mungkin aksi atasnama alam tidak membuat orang-orang tergerak. Seperti yang terjadi pada aksi bela-membela. Massanya tidak sebanyak aksi yang mengatasnamakan agama. Sungguh, sentimen agama rupanya mampu menaikkan darah banyak orang.

NB: Ditulis dalam keadaan mood yang buruk. Kondisi fisik lemes. Kondisi pikiran abstrak, dan kondisi jiwa yang hambar. Duh, lengkap syudaaah. Yang nggak memiliki daya hidup, hidup dalam garis minimal kayak zombie. Mayat hidup. Itulah aku saat ini. Rapapa, asal tetap mau melakukan apa yang semestinya dilakukan. Sok yes banget sih. Ditambah dengerin lagu Zombie-nya Canberries, biar menambah kesan kezombianku. Wkwkwk

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

23 Maret 2017 (0:02)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s