Sekelumit Perbincangan di Kelas Historiografi Islam Nusantara

Tulisan ini dirangkum dari kuliah Historiografi Islam Nusantara yang diampu oleh Kiai Agus Sunyoto, Dr. Nasrullah Jassam, dan Pak Ali mashar. Sedangkan materi di bawah ini, disampaikan oleh Pak Agus Sunyoto. Beliau tinggal di Malang, dua minggu sekali masuk kelas. Di jam-jam lain, berganti-gantian dengan dosen lain. Untuk mengenal beliau lebih lanjut, berikut kuketikkan kembali biografi Pak Agus dari buku Atlas Wali Songo.

Agus Sunyoto, Drs. H.K.Ng., M.Pd. dilahirkan di Surabaya, 21 Agustus 1959. Pendidikan S1 diselesaikan di Jurusan Seni Rupa, FPBS IKIP Surabaya tahun 1985. Magister Kependidikan diselesaikan di sekolah Pascasarjana IKIP Malang bidang Pendidikan Luar Sekolah. Ketua Lesbumi PBNU ini bukan orang baru di dunia sastra dan sejarah. Ketertarikannya terhadap dua bidang ini semakin terasah sejak dirinya bekerja sebagai wartawan harian Jawa Pos tahun 1986-1989. Setelah keluar dan menjadi wartawan free-lance, dia mulai aktif melakukan penelitian sosial sejak tahun 1990 hingga sekarang. Hasil penelitiannya ditulis dalam bentuk laporan ilmiah atau dalam bentuk novel.

Beberapa karyanya yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku antara lain: Dajjal (LkiS, 2006), Rahwana Tattwa (LkiS, 2006), Suluk Abdul Jalil: Perjalanan Ruhani Syekh Siti Jenar (LkiS, 2003), Sang Pembaharu: Perjuangan dan Ajaran Syekh Siti Jenar (LkiS, 2004), Suluk Malang Sungsang: Konflik dan Penyimpangan Ajaran Syeikh Siti Jenar (LkiS, 2005), Dhaeng Sekara: Telik Sandi Tanah Pelik Majapahit (Diva Press, 2010), Lubang-lubang Pembantaian/Pemberontakan FDR/PKI 1948 (Graftipress, 1990), Sumo Bawuk (Jawa Pos, 1988), Darul Arqam: Gerakan Mesianik Melayu (Kalimasahada, 1996), Banser Berjihad Melawan PKI (LKP gP Ansor Jatim, 1996), dan karya terbarunya: Wali Songo: Buku Pertama yang Mengungkap Wali Songo Sebagai Fakta Sejarah.

Suami dari Nurbaidah Hanifah dan ayah dari empat putra ini berdomisili di Pesantren Global Tarbiyyatul Arifin, Jl. Anggodo 99, Lowoksuruh RT 03/ RW 10, Mangliawan, Pakis, Malang. Telp (0341) 793872, 085649922026, atau 082141162811. Untuk interaksi melalui email: dewasimha@yahoo.com.

Langsung masuk ke ringkasan materinya. Lets Go!!!

Tulisan (aksara) “Jawa Baru” muncul setelah perang Mataram (Perjanjian Gianti). Pada masa-masa sebelumnya, masih menggunakan aksara Jawa Lama. Disebabkan karena aksara Jawa Lama hanya bisa diakses oleh kaum elit. Orang tertentu yang bisa membacanya karena terlalu rumit. Sehingga perlu dilakukan penyederhanaan. Muncullah aksara Jawa Baru.

Cerita mengenai Meriam atau bedil, portugis sudah melihat adanya meriam di Malaka. Meriam itu didatangkan dari Jawa. Portugis tiba dan mendarat di Malaka pada tanggal 23 Juli 1511. Orang Jawa kok bisa memiliki meriam segala? tidak lain karena Jawa memiliki hubungan dekat dengan China. China adalah negara pertama yang memiliki tekhnologi pembuatan senjata. Barat dan Eropa belum ada apa-apanya.

Kenapa dinamakan meriam? Demikian ceritanya. Portugis setiap melakukan penyerangan terhadap Nusantara selalu meneriakkan “Santa Maria!!!”. Moyang kota samar-samar mendengar teriakan tersebut sembari membatin “mereka ngomong apa sih?”. Moyang kita menangkap pendengaran bahwa portugis mengucapkan “meriam,” sehingga mengait-ngaitkan bahwa senjata yang diapakai portugis untuk meyerang mereka adalah meriam. Jadilah kata “meriam” disematkan pada sebuah senjata yang mengeluarkan suara dentuman keras. Dor!! Bumm!

Pendahulu kita biasa melakukan perjalanan jauh, termasuk juga ke Makkah via kapal laut. Setelah dibukanya Terusan Suez pada tahun 1716, moyang kita menempuh perjalanan selama dua bulan untuk sampai ke Makkah. Menggunakan transportasi kereta. Aku pun masih bingung, membayangkan kereta yang bisa mengantar orang sampai Makkah. Itu kereta apa? Atau pake transit-transit dulu gitu. Berhenti di sebuah negara dan ganti kereta. Hahaha. Tidak bisa langsung. Kalau menggunakan kapal, harus memakan waktu sembilan bulan. Sudah kayak orang mengandung saja. Seperti yang diceritakan Tereliye dalam novelnya, Rindu. Orang hamil yang naik haji akan melahirkan di dek kapal.

Terbukanya jalur transportasi Nusantara-Timur Tengah, telah memudahkan orang-orang dalam berlalu-lalang. Plesiran. Hal ini berpengaruh juga pada jalur keilmuan Timteng yang masuk ke Nusantara. Kitab-kitab Timur Tengah dibawa oleh mukimin-mukimin dari Nusantara. Lalu, tulisan Jawa mulai ditinggalkan. Keilmuan dan bahasa Arab menggantikan peran bahasa Jawa.Terjadi pada akhir abad 17.

Tulisan Jawa mulai ditinggalkan sejak abad 18. Jesuit-jesuit Barat datang ke pesantren-pesantren dan membeli manuskrip-manuskrip berbahasa Jawa. Mereka bilang pada pihak pesantren bahwa manuskrip tersebut milik agama budha karena beraksara Jawa. Hilanglah manuskrip dan peradaban kita. Diboyong orang-orang Londo.

Pesantren yang dulunya dapat diandalkan dalam menghadapi penjajah, lambat laun kehilangan kekuatannya. Pesantren tidak berdaya apa-apa. Bersamaan dengan diasingkannya Sultan Hamengkubuwono ke-2 ke Sri Langka.

Kemudian Ilmu Fikih menjadi sangat dominan di Nusantara. Ilmu Fikih adalah ilmu ndalil. Ketika penjajah menantang orang-orang pesantren untuk melakukan pertempuran, orang pesantren tidak bisa mempertahankan dirinya. Kira-kira demikian dialog yang terjadi di antara penjajah (P) dengan santri (S).

P: Hei santri, ayo keluar kalau berani!

S: Apa?

P: Akan kutembak kau

S: Tidak apa-apa, gugurku adalah syahid

P: Terserah. Yang penting kau kutembak sekarang. DOR!

Selesai dah. Maksudnya, kalau kita memiliki ilmu dan hafalan-hafalan, tetap tidak berdaya jika dihadapkan dengan situasi riil seperti berperang. Kalau harus berperang, dengan dikeluarkan dalil yang macem-macem pun tidak membantu apa-apa. Kata Pak Agus yang ternyata memiliki persinggungan dengan penjelasan Pak Radhar, mengenai keberagamaan kita yang ilusif. Ilmu yang berdasarkan khayalan dan jauh dari realitas. Ialah ilmu…. (secret).

Penjelasan Pak Agus melebar sampai mana-mana. Gajah Mada membagi hukum menjadi 19. Moyang kita di zaman kerajaan telah memiliki seperangkat aturan hukum yang menurut orang Barat tidak manusiawi. Aku lupa jenis kesalahan apa yang dihukum bunuh dan dimu****si. Penggambaran hukumannya seperti ini. Tubuhnya dipotong-potong. Kepalanya dibuang ke laut biar nggak mencemari pikiran orang lain. Tubuhnya dibuang ke hutan biar dimakan binatang buas. Sedangkan tubuh bawah perut sampai kaki dikembalikan pada keluarganya karena itu hak keluarganya.

Hukum tersebut dibuat sebelum Gajah Mada. Setelah Gajah Mada menjadi kepala negara di negara bagian, Tumapel, Gajah Mada mulai menyusun tatanan hukum. Setelah ia naik menjadi patih di kerajaan Majapahit, hukum tersebut mulai diterapkan. Yang direvisi adalah hukuman mutilasi, menjadi hukuman gantung. Pembaruan hukum yang dilakukan Gajah Mada dinilai orang Barat sebagai hukum yang lebih manusiawi. Salah satu universitas di Jerman, Utrech, memberikan bintang Gajah Mada kepada setiap mahasiswa yang mencapai derajat cumlaude atau summa cumlaude.

Berlanjut ke masalah pendidikan formal, sekolah. Di Indonesia, baru ada sekolah pada tahun 1905. Orang-orang terdahulu tidak sekolah, namun apakah mereka tidak bisa menghadapi kehidupan dan bodoh? Sekolah nyatanya ulah Belanda yang memberlakukan politik etis atau politik balas budi supaya bisa selalu diterima orang Indonesia. Karena pada saat itu, ada banyak perlawanan pada Belanda. Ia hanya mampu menguasai Batavia dan Indonesia Timur.

Narasinya loncat-loncat ya? Hehehe. Cuma mendasarkan narasinya pada tulisan di buku tulis. Jadinya begini deh. Lebih enak kalau mentranskrip rekamannya langsung. Kemudian dikelompokkan sesuai temanya. Tidak ada bagian yang terlewati. Juga menimalisir kesalahan. Kalau narasi begini kan sudah bercampur dengan pemahamanku terhadap penyampaian Pak Agus Sunyoto. Pendengaranku juga terbatas. Belum dengan tulisanku yang memungkinkan adanya kesalahan-kesalahan kecil. Any way. Aku juga belajar. Semoga ada yang berkenan mengkoreksi.

 

Asrama mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

23 Maret 2017 (10:25)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s