Tak Bisa Kumengerti

Kemarin sore, yang datang ke asrama Cuma dua bocah. Qisti sama Ismi. Jadi teringat dulu jaman masih ngaji di rumah bu Subi. Seringnya, aku dan Mbak Idha yang ngaji. Teman-teman lain absen dan bolos, tidak berangkat. Ibunya bu Subi (Makdhe Narti) pernah bilang bahwa tidak anak di RT kami yang serajin Mbak Idha dan aku. Pernyataan yang membuatku jumawa untuk sepersekian detik. Artinya, kami memang benar-benar legenda. Tiada dua, apalagi tiga. Em sombongnyaa.

Karena berdua saja, kuminta mereka menggambar. Gambar yang membuatku tidak begitu mengerti apa yang sebenarnya mereka mau. Ismi membuat kolom-kolom tabel. Aku meminta ia menceritakan gambarnya. Kolom yang berisi gambar orang, tempat makan, dapur, gudang, dan pak satpam.

“Ismi, ini gambar apa?”

Ia runtut menjelaskan detail gambarnya. Tentang orang-orang yang melakukan pesta.

“Pesta kok sendirian? enaknya kan rame-rame Ismi.” Komentarku atas gambar orang-orang yang berada di kamarnya sendiri-sendiri. Dalam benakku, pesta ya bergerombol, berbanyak orang sambil makan-makan.

“Kan mereka dapat uang sejuta-sejuta”

Batinku, “maksudnyaaa?”. Tapi aku tidak memperlihatkan keherananku. Aku hanya mengejarnya terus-terusan dengan berbagai macam pertanyaan. Biar aku bisa memahami apa yang terbenak dalam pikiran Ismi.

“Emang pestanya dimana?” lanjutku.

“Di Malaysia”

“Kok ada tempat tidurnya juga?” Aku sudah berpikiran yang enggak-enggak. Anak kecil seusianya sudah memahami urusan orang dewasa. Bisa-bisa, ia dewasa sebelum waktunya. Bagaimana nggak dewasa jika Ismi sudah bisa menghubungkan antara pesta dan kasur. Padahal ia baru kelas dua SD.

“Yang pesta kan anak kecil”

“Lha kok anak kecil malah mainan di kasur?” Aku tambah bingung. Nampaknya, ia telah terjangkit virus orang-orang dewasa. Entah dari tontonan di hape atau dimana.

“Kan kasurnya bagus dan empuk, bisa buat locat-loncatan”

Wadaaaaww. Aku telah membawa pikiran dewasaku (Beneran dewasaaa?) dalam memahami alur pikir Ismi. Ya nggak ketemu. Ismi mengilustrasikan bahwa pesta yang dilakukan anak kecil ya dengan loncat-loncat kegirangan di atas kasur. Karena hanya dengan loncat-loncat pun, ia sudah pasti berbahagia. Kata kuncinya adalah pesta, loncat-loncat di atas kasur, tertawa, dan berbahagia.

Sesederhana itu. Aku yang justru memperumit dengan asumsi-asumsi yang ngelantur. Wkwkwk

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

25 Maret 2017 (4:28)          

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s