Kekinian Kiai Moqsith

Kemarin Bu Zakiah tidak masuk karena sakit. Jadilah hamba perempuan satu-satunya di kelas. *Abaikan

Pak Moqsith adalah intelektual muda NU. Beliau memiliki artikulasi yang runtut dan bagus. Selalu menyelingi penjelasan dengan guyonan ringan. Meski kami tertawa karena kelucuan yang diceletukkan Pak Moqsith, beliau bersikap biasa-biasa saja. Kalau tubuhku sampai terguncang menahan tawa, Pak Moqsith hanya tertawa ringan. Tanpa ngakak. Kalau aku berada di situasi seperti ini bersama Encop, Tante, atau Upin, dijamin tambah nggilani. Menertawakan hal yang tidak-tidak.

Kemarin itu beliau bercerita bahwa Kanjeng Nabi adalah lelaki romantis dan selalu wangi. Kalau dibahasakan dengan bahasa jaman sekarang, lelaki metroseksual. Cool dan ganteng. Suatu ketika, Kanjeng Nabi datang ke rumah Ummu Hani, sepupu beliau yang menjanda dan telah berusia lanjut. Kanjeng Nabi bermaksud melamar Ummu Hani. Kira-kira demikian percakapan yang terjadi.

“Wahai Ummu Hani, tidakkah kau ingin menikah lagi?”

“Ibarat barang yang sudah kuno dan lawas, pasti akan terbuang dan tersingkir. Lelaki mana yang mau?”

“Bahkan, barang yang terbuang pun pasti ada yang mengambil. Barang yang terjatuh, akan ada yang memungutnya. Bagaimana jika laki-laki yang berdiri di hadapanmu ini yang akan mengambilnya?” Bagian ini yang bikin klepek-klepek. Duh Kanjeng Nabi.

Singkat cerita, Ummu Hani tidak menerima lamaran Kanjeng Nabi karena ketiadaan cinta darinya untuk Kanjeng Nabi. Kemudian Pak Moqsith mendendangkan lagunga Anji yang berjudul “Dia.” Sebagai ilustrasi urusan percintaan, jika terjadi di kalangan muda-mudi masa kini.

Kucinta dia

Kusayang dia

Kurindu dia

Inginkan dia

Karena cintanya bertepuk sebelah tangan, maka si pecinta merasa kesakitan sendiri. Ia tidak nyaman dengan situasi seperti itu. Apalagi jika teringat bayang-bayang orang yang dicintainya. Lalu Pak Moqsith mempuisikan lagunya Geisha.

Lumpuhkanlah ingatanku tentang diaaa….

Di bagian inilah tubuhku terguncang-guncang, menikmati kelucuan Pak Moqsith. Bagaimana beliau yang doktor dan alim dalam ilmu-ilmu keagamaan, membahasakan fenomena anak muda. Pak Moqsith sampai menunjuk ke arahku karena reaksiku yang terlalu dominan dibanding teman-teman yang lain. Secara, mereka bapak-bapak, tentu akan sulit membayangkan dan menghayati hal-hal yang macam begini.

Pemikiran-pemikiran Pak Moqsith oke punya. Berangkat dari tradisi keilmuan pesantren yang kuat dan beliau telah memodifikasinya dengan kemodernan. Beliau melakukan otokritik terhadap NU. Dilakukan dengan argumen-argumen yang berdasar pada penguasaan yang mumpuni terhadap apa yang dikritisinya.

Beliau menyangsikan ilmu laduni, ilmu yang diperoleh tanpa belajar sungguh-sungguh. Kalau ada ilmu laduni, kenapa Imam Syafi’i melakukan perantauan sampai Yaman, Baghdad, Mesir dan kota-kota lain? Imam Syafi’i berguru kepada 1000an guru. Imam Bukhari juga demikian, merantau dari Uzbekistan dan mencari-cari hadits.

Sewaktu di pesantren, Pak Moqsith dikira ustadznya memperoleh ilmu laduni. Padahal beliau setelah shalat, wiridannya ya hafalan Alfiyah, Nadzm Maqshud, dll. Di tengah-tengah sawah yang ditanami pohon jagung, Pak Moqsith memuthola’ah kitab-kitabnya. Pak Moqsith mengaku bahwa beliau sering hafalan saat tidur (fil manam). Ketika bangun, Pak Moqsith masih mengingat apa yang telah beliau hafal selama waktu tidur itu. Seperti hafalan dalam keadaan terbangun.

Yang jadi artis dalam pertemuan kemarin adalah Gus Jauhar. Pak Moqsith melihat potret masa lalunya ada pada diri Gus Jauhar. Sosok santri glutuk yang ibaratnya, tidak berani berdekatan dengan cewek. Selalu gemeteran. Terlalu tawadhu’. Pak Moqsith meminta Gus Jauhar untuk terbuka pada kekinian. Seperti dalam berpakaian atau berpikiran.

Dalam usia dua puluhan, Pak Moqsith mengikuti kaderisasi suriyah yang diadakan PBNU. Beliau belajar langsung pada kiai-kiai sepuh seperti Kiai Ahmad Sahal Mahfudz. Pak Moqsith diajari membaca kitab dengan pembacaan yang baru.

Mendengar cerita orang-orang berilmu, seakan ingin pergi ke tempat-tempat jauh. Tapi kan ada hal lain yang musti dipahami. Belajar dan kuliah adalah dua entitas yang berbeda. Idealitas sama realitas tidak diabaikan salah satunya. Aku memiliki orang tua. Hidupku tidak hanya milikku.

Saat mengabsen kami satu per satu, Pak Moqsith bertanya padaku.

“Gimana rasanya menjadi perempuan sendiri di kelas?”

“Biasa saja Pak”

“Apakah pernah merasa terganggu?”

“Kadang-kadang Pak”

“S1-nya dimana?”

“UIN Jogja Pak”

“Oh, sudah terbiasa ya?”

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

26 Maret 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s