Wilayah Baru

Kemarin datang ke Jl. Cikini Raya no. 43, kantornya Indonesia Untuk Kemanusiaan. Tertarik datang karena ada nama Denny Siregar sebagai salah satu pemantik diskusinya. Dua pembicara lainnya adalah Mas Geger Riyanto dan Ms Nomo anak UI. Denny Siregar habis menulis status mengenai ketidaksepahamnya dengan petani-petani yang menyemen kakinya di depan Istana Presiden.

Aku datang agak telat. Barangkali jam dua siang, padahal acaranya dimulai jam satu. Jakarta memang lebih tepat waktu jika mengadakan suatu acara. Molornya tidak lama. Eh, Jakarta yang mana nih? Kalau di kalangan NU mah tetap saja molor. Wkwk.

Telat karena aku bersantai-santai ria. Memesan gojek, eror mulu. Akhirnya pake Grab. Abang Grab agak bingung dengan tempat yang akan kutuju. Kami muter-muter dulu sampai daerah belakang Carolus gara-gara mengikuti petunjuk arah dari Gogle Maps. Kukira tempatnya di TIM. Eh bukan, gedungnya nyempil di antara ruko-ruko di sepanjang Jl. Cikini Raya.

Banyak istilah yang tidak kupahami. Kemarin membahas mengenai budaya populer, hoaks, dan kapitalis digital yang digabungkan dengan aspek spiritual dan nilai-nilai. Sungguh penggabungan yang sulit kucerna. Mereka bicara apa sih?. Lha aku datangnya telat, jadinya agak sulit memahami dialog. Tapi keren banget. Mahasiswa semuda Mas Nomo mengetahui banyak hal mengenai budaya populer.

Yang paling kuingat, hoaks mestinya ditertawakan saja karena berita yang tidak terverivikasi jauh lebih banyak dibanding berita yang terdeteksi kebenarannya. Hoaks hanya efek samping dari ledakan tekhnologi. Tidak disikapi dan dijudge secara benar-salah. Lebih dari itu, bagaimana dampak dan imbas dari hoaks. Ada fenomena apa dibalik hoaks? Karena implikasinya lebih nyata.

Hoaks diibaratkan sebagai berita yang main-main, kalau kita serius menanggapinya, akan capek tenaga kita. Bisa jadi, hoaks adalah perlawanan terhadap…. (aku lupa, mungkin narasi besar).

Di sisi lain, para pemodal memasuki wilayah digital. Sungguh menakutkan. Bagaimana ia membeli penulis-penulis untuk menggiring sebuah wacana. Setiap ada yang ngeshare, dibayar sekian.

Mas Geger menjelaskan apa yang ada di media sosial (maya), tidak selau mencerminkan apa yang terjadi di dunia nyata. Misalkan apa yang kita ketahui mengenai suatu peristiwa, seolah merasa bahwa fenomena tersebut adalah peristiwa yang dibicarakan banyak orang, se-Indonesia raya, belum tentu demikian yang terjadi. Itu tergantung pada informasi yang masuk ke dalam kepala kita. Bisa jadi apa yang kita anggap sebagai berita besar, faktanya tidak seperti apa yang kita kira. Hanya peristiwa kecil saja.

Juga saat melakukan pengerahan massa, di medsos sudah mendapatkn follower ribuan orang. Giliran kopdar Cuma segelintir. Maka dari itu, jangan mudah tertipu dengan apa yang dilihat dari medsos. Bisa-bisa, itu hanyalah kamuflase, bukan fakta sebenarnya.

Aku memperhatikan dengan seksama salah satu peserta diskusi. Ialah mas Iqra Anugrah yang sedang menempuh S3 di luar negri. Sebelumnya, aku mengetahui sedikit tentang sosoknya dari facebook. Oh, ternyata Mas Iqra di Indoprogress. Dalam beberapa kesempatan, aku mencuri-curi pandang ke arahnya. Demikian yang terjadi padaku jika ketemu orang yang kutahu dari dunia maya di dunia nyata. Kupetoloti betul-betul, memastikan tidak salah orang.

Berada di tempat itu, aku menemukan suasana yang berbeda. Selama ini, aku hanya mengenal orang kampus, PBNU, dan lain-lain yang serba NU. Di situ, aku merasakan suasana yang lebih beragam. Tidak seragam seperti yang selama ini kutemui. Wajah-wajah chineese, dan kampus-kampus umum. Semoga bisa belajar. Ternyata ada diskusi filsafatnya juga setiap hari Rabu. Rutinan.

Seusai acara, aku tidak berbicang dan ngobrol sama orang-orang. Aku langsung turun dan berjalan ke arah Taman Ismail Marzuki. Hanya ingin duduk-duduk di sana. Ramai banget, sepertinya ada acara. Lalu aku mengambil tempat duduk di salah satu tempat, mengamati orang-orang yang seliwar-seliwer.

Aku membatin, “inilah Jakarta” yang sebenarnya. Sepertinya aku memang bias memahami Jakarta. Menilai Jakarta berdasarkan yang kusaksikan di televisi. Orang-orang kaya, ganteng, necis, cantik, berbedak tebal, wangi, dan bersih. Tipikal orang yang punya duit banyak.

Sama persis ketika aku menemui Mbak Aam di Studio Trans TV di Mampang Prapatan. Mereka semua nggak ada yang tidak cantik. Bener-bener Jakarta. Kalau hanya “the have” yang kukategorikan sebagai orang Jakarta, bagaimana dengan yang lain? Orang-orang yang biasa mangkal di jalan karena jualan, petugas kebersihan, pasukan orenge, dan lain-lain? Anggepe Jakarta Cuma punya orang berduit aje?

Asrama mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

26 Maret 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s