Balada Halte

Emaknya Dududu ke Jakarta, piknik sama rombongan TK. Aku dan Du menyusulnya di Ragunan. Sejak berjalan kaki, sudah ada konflik internal di antara kami. Kami akan transit di halte Dukuh Atas, akan sangat efisien jika kami berjalan menuju halte Matraman II. Memotong jalan dengan menyeberang jalan raya. Duroh nggak mau diajak nyebrang. Ia takut menghadapi jalan raya Jakarta yang lebar dan ganas. Padahal, kami bisa ngintil dan mbuntutin orang-orang yang nyebrang.

Sedangkan aku malas jika muter-muter lewat halte Matraman I. Soalnya, kami harus naik tangga, turun lagi, naik, dan turun lagi. Sungguh jarak yang tidak dekat. Perbandingannya jika kita langsung ke halte Matraman II, kita tinggal nyebrang jalan raya dan masuk ke halte. Tidak perlu naik dan turun jalan halte. Praktis.

Kuminta ia jalan sendiri lewat Matraman I, biar aku nyebrang sendiri ke Matraman II. Ia nggak mau. Gimana sih ni bocah. Membingungkan dan menjengkelkan. Terpaksa aku mengalah dan ngomel-ngomel di sepanjang jalan. Kalau saja ia mau diajak memotong jalan, tentu tidak akan terlalu capek.

Aku meminta Du bertanya pada petugas halte, adakah halte lain yang bisa kami transiti selain Dukuh Atas? Pengalaman, transit di Dukuh Atas akan ribet. Kami harus berjalan lagi, naik dan turun menuju halte Dukuh Atas yang di seberang jalan. Ternyata nggak ada. Yaudah, kami turun di Dukuh Atas. Untungnya, kami bisa langsung mengantri di pintu naik-turunnya penumpang busway jurusan Ragunan.

Di pintu antrian, kami mendapati kruci-krucil yang digendong orang tuanya. Maklum, menuju Ragunan. Tempat dimana orang-orang menghabiskan hari libur. Ragunan adalah kebon binantang di Jakarta. Tapi perlu diketahui kalau di sana lebih banyak manusianya daripada binatang-binatangnya. Jadilah kita namai Ragunan sebagai kebon manusia saja. Lebih pas. Hush ngawur. Ampun daaah, binatangnya tidak terlalu bervariasi sih.

Di bus way, ibu-ibu yang membawa bocah cilik adalah penumpang yang diprioritaskan. Jadilah aku berdiri sambil mengamati bocah-bocah. Yang paling menggelikan adalah bocah yang meronta-ronta dari pangkuan emaknya. Beberapa kali dinaikkan ke pangkuan, beberapa kali itu pula ia memelorotkan (menurunkan) tubuhnya ke lantai busway. Tidak mau diem.

Kaki bocah cilik itu mengenai kakiku. Kusapa ia dan apa reaksinya? Bocil itu senyum-senyum tanpa henti sembari memandangiku sedemikian rupa. *Beneran! Nggak bohong. Lalu emaknya mencie-cie si bocil. Ibu-ibu di belakangku juga menyorakinya sebagaimana menyoraki lelaki dewasa yang terpana pada pandangan pertama. Bocil itu malu-malu memandangiku. Aku jadi salting sendiri.

Kutarik tangannya supaya mendekat ke arahku. Eh, mau-mau aja. Kuminta ia bernyanyi, hanya senyum-senyum tanpa ada suaranya. Ibu di belakangku ngomong ke bocah itu “Kakaknya pake kacamata ya dek kayak Mamah?” Mungkin aku kayak Mamahnya, jadi ia welkom aja kepadaku, orang baru baginya.

Duroh ditelpon emaknya terus-terusan. Menanyakan ia berada dimana. Sampai di Ragunan, kami mencari-cari keberadaan emak Duroh. Beliau berada di tempat yang ada bonekanya. Kami diteriakinya dan menyusul ke tempat emak Duroh. Kami salim daaan disuruh makan. Inilah yang kita tuju sebenarnya. Makan masakan rumah. Duroh sengaja tidak sarapan karena mengandalkan masakan emaknya. Padahal, di pagi-pagi buta, ia selalu ribut ngajakin ke pasar. Nyari makan.

Kami tiba disana jam setengah sebelas. Di pintu keluar halte, mengantri panjang. Tidak habis pikir, kami langsung loncat dari halte ke jalan. Kami melenggang pergi, berjalan penuh kemenangan. Serasa hero yang berjalan tanpa rintangan di  hadapan antrian. Membayangkan orang-orang yang mengantri memandangi kami penuh takjub. *heleeh, mbel

Emak Duroh membawa nasi dan banyak lauk. Oseng jamur, tumis jamur, tempe goreng, sambel, terong, mentimun, daging, dan telur. Surga dunia, banyak lauk.

Bertemu temen KKN, temen Diniyah, temen sepondok, keluarga teman, dll adalah pengobat rindu pada kampung halaman karena kita merasa disambangi oleh mereka. Mbak Siwi yang datang ke kampus, mencariku dan DB. Menemaniku tidur di Stasiun Pasar Senen. Ketemu dek Fiqih di halte Harmoni dan muter-muter dengan busway ke TMII, pit-pitan di sana. Ketemu Agung di stasiun Cikini dan berjalan kaki menuju TIM, nonton filmnya Chelsea Islan yang perang-perangan. Kejemput Mbak Sasa di stasiun Pasar Senen, ia menginap di asrama. Di malam tahun baru, kami main-main di sekitaran Monas. Ketemu Pak Maola di Kemenag, ke perpustakaannya lalu diajak makan di hotel. Ketemu keluarganya Duroh saat haul Gus Dur. Terakhir, ketemu emak dan adiknya Duroh di Ragunan.

Setelah di Ragunan, kami diajak emaknya Duroh ke TMII. TMII lagi, TMII lagi. Sampai bossyeen. Di jalan, hujan deras mulai berdatangan. Rombongan tiba di sana saat hujan belum mereda. Jadilah satu rombongan tidak bisa menikmati liburan di TMII secara layak. Tidak bisa naik kereta gantung, naik sepur, pit-pitan, dan lain lagi. Kasihan, sudah datang jauh-jauh dari Subang.

Habis Maghrib, rombongan pulang ke Subang. Sedangkan kami pulang ke Matraman. Kami diturunkan Pak Sopir di pintu keluar TMII. Kami berjalan mencari halte terdekat. Kami menemui ibu-ibu yang berjualan di tempat yang teramat gelap. Apakah ada halte busway di dekat situ. Soalnya kami melihat jembatan, tapi tidak melihat haltenya. Ibu itu memberikan informasi kalau halte  di dekat situ hanya halte sekolah. Kalau mau naik busway, kami harus berjalan ke pintu keluar TMII. Aku dan Du melihat busway jurusan TMII-Grogol.

Aku berlari-lari, takut ketinggalan. Soalnya busway tidak akan mengangkut penumpang di tempat yang tidak semestinya. Maksudnya, bukan di halte atau tempat pemberhentian bis. Setiba di dekat busway, kami mencari-cari mana sopirnya. Busnya masih kosong. Nggak ada sopir dan penumpangnya. Aku merasa menjadi orang bodoh. Mengejar apa yang tidak perlu dikejar. Lha buswaynya berhenti gitu kok.

Kami bertanya pada staff busway yang sedang nongkrong di salah satu warung. Katanya, busway akan jalan pada pukul delapan, kami harus menunggu 40 menit kalau mau. Jadilah Duroh memesan taksi yang bisa mengantarkan kami ke halte depan TMII Square. Duroh yang bayarin, kan die yang disambangi (banyak duit-ed). Pak Taksi malas mengantarkan kami karena jaraknya terlalu dekat. Pak Taksi menawarkan jalan ini-itu, kami menangkap maksud dan gelagat Pak Taksi. Mau nyari untung. Memang mendingan pake Grabcar atau Gocar. Terjamin dan sopirnya ramah-ramah.

Yasudah. Kami masuk ke halte. Menunggu busway yang datang duluan. Kami naik bus jurusan Pluit. Busway berjalan merayap. Aku hampir shock karena melewati jalan yang kami lalui dengan taksi. Intinya, tadi malam kita melewati jalan tersebut sebanyak empat kali. Jalan kaki menuju halte yang zonk dan menakutkan, balik ke pintu keluar TMII, naik taksi ke halte dan busway yang membawa kami pulang. Itu adalah jalanan yang sama. Betapa rempongnya jalanan di Jakarta. Muter-muter dan rumit. *eeea

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

29 Maret 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s