Huru-hara Jakarta

Setelah Dzuhur baru nyari lauk untuk makan pagi. Aku berjalan ke warung Perisai yang terletak di dekat kampus. Jarak asrama-kampus sekitar 300 meter. Jarak yang cukup membuat ngos-ngosan kalau jalan kaki.

Saat melewati Masjid Matraman, aku mendengar suara seseorang yang sepertinya kukenal. Mas Anis penggerak Indonesia Mengajar, Mendikbud sebentar, dan kini sedang mencalonkan diri sebagai gubernur Jakarta. Oh betapa Mas Anis masih seperti yang dulu, dalam bertutur kata. Tertata, runut, santun, menginspirasi, dan “berhati” banget. Aku mendengarkan pemikirannya secara langsung ketika Mata Najwa melakukan kunjungan-kunjungan ke kampus. Saat itu, UGM menjadi tuan rumah. Pesertanya ribuan. Kami berebut masuk GSP.

Semula pintunya tertutup karena tidak bisa menampung peserta lebih banyak lagi. Terjadi aksi saling dorong di kerumunan massa. Sendalku terjatuh satu. Untungnya ada seseorang yang berbaik hati mengambilkan sandalku. Beberapa pintu samping GSP dibuka. Kami berlari-larian, merangsek masuk.

kebetulan aku dan Tante mendapatkan tempat di samping panggung, meskipun lesehan. Tak mengapa, kami sudah bungah. Tamu yang diundang saat itu adalah Pak Jokowi, Pak Makhfudz MD, Kang Emil, Mas Anis, Pak CT, Pak Hamengkubuwono. Episode kali itu diberi judul “Dari Jogja Untuk Indonesia.”

Mas Anis membuat kami terpukau dengan bahasanya yang aduhai… entahlah. Kalimat-kalimatnya tersusun rapi. Pas banget untuk orang-orang yang mencari motivasi dari orang lain. Penuturan ala-ala Pak Mario Teguh.

Tadi siang juga begitu. Samar-samar aku mendengar Mas Anis menyampaikan kata-kata penuh mutiara mengenai bagaimana seorang pelajar yang memasuki dunia perkuliahan. Tidak melulu belajar di kelas, tapi juga berorganisasi dan berenterpreneur.

Sebenarnya aku ingin masuk ke masjid, tapi urung. Beberapa hal yang menjadi pertimbanganku 1) Sudah terlalu siang, acaranya sebentar lagi selesai (asumsiku) 2) Aku hanya memakai pakaian  di bawah standar alim dengan celana trening, kaos, sweater, kerudung dan sandal jepit 3) Aku belum mandi sesiang itu. Selain itu, aku tak benar-benar ingin belajar dari Mas Anis. Hanya mencari peruntungan, barangkali dapat makan siang. kan aku keluar dari asrama dengan tujuan mencari makan.

Keberadaanku di sini belum genap setahun. Tapi huru-hara Jakarta sedemikian menjengahkan. Mau nggak mau, aku menutup mata dari berita-berita yang beredar di medsos-medsos. Untuk menjaga hati, “jagalah hati! jangan kau kotori!” kata Aa Gym. Bagaimanapun, media tidak bisa lagi objektif dalam memberitakan suatu peristiwa. Aku muak.

Seperti pengakuan mantan redaktur salah satu berita online yang telah menyatakan afiliasinya terhadap salah satu paslon, beritanya tentu mengikuti kebijakan-kebijakan yang akan menguntungkan paslon tersebut. Selalu dibaik-baikkan. Media aja sudah begitu, kepada apa lagi kami bisa membaca berita dengan jernih. Dunia dalam berita. Jadi teringat lagunya Nasyida Ria.

Orang-orang menjadi sangat fanatik terhadap paslonnya masing-masing. Lihatlah Mas Anis, orang yang pernah kuharapkan untuk bangsa yang lebih baik, sungguh sangat mengecewakan. Apapun dilakukan untuk meraih kursi Jakarta. Ada teman yang menjadi pengurus di salah satu masjid besar di Jakarta. Katanya, mas Anis berada di balik setiap isu yang muncul pra pilkada. Entah kebenarannya seperti apa.

Mas Anis kalau mengajar itu oke banget. Pantas menjadi dosen yang menyampaikan ilmu. Kalau kini ia menyampaikan gagasan, dan kita melihat tingkah lakunya seperti itu, kami malas sendiri. Ucapan dan tindakannya tidak sesuai. Keterlaluan! Mungkin Mas Anis, politik, atau bahkan aku yang keterlaluan. Tidak bisa menerjemahkan hal ini ke dalam pikiranku dengan baik.

Ngomong memang mudah, menulis juga mudah. Seperti yang kulakukan saat ini. Yang sulit adalah menjaga konsistensi antara apa yang kita sampaiakan dengan laku kita. Kalau nggak bisa, mending diam saja. Atau tidak perlu berbusa dalam berkata-kata. Biasa-biasa saja. Bikin mules perut saja.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

02 April 2017 (22:49)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s