Iseng

Aku baru tahu kalau tetangga depan memiliki anak jejaka. Kukira, anaknya hanya cewek yang sekolah SMA. Ternyata si cewek ini punya dua kakak yang tjakep-tjakep. Yang satunya pun aku belum pernah melihatnya.

Kebetulan kamarku di lantai dua. Ada jendela yang menghadap ke jalan raya. Di seberang jalan, rumah tetangga-tetangga kami berdiri. Aku, Ijul, Mbk Dew memiliki kebiasaan baru, mengintip dan mengawasi tetangga-tetangga kami. Ternyata sudah semacam hiburan tersendiri.

Seperti ketika abang ganteng keluar dari rumahnya. Sungguh keberuntungan tersendiri soalnya abang ganteng jarang keluar dari rumah. Sekalinya ia keluar, kami sekamar langsung mengerubungi jendela, menyaksikan apa saja yang dilakukan abang ganteng. Memindah motor, memindah mabil, atau mengejar kucingnya. Kami diam-diam mencintainya.

Sebenarnya nggak ganteng-ganteng amat sih. Pria kebanyakan yang tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu pendek. Tidak kurus dan tidak gendut. Proporsional. Apalagi pake kacamata. Em, menambah kegantengannya. Pernah di Ushuluddin, aku terkesima melihat kakak tingkat yang berkacamata. Ternyata di kemudian hari, kakak senior ini mengajar di pondok. Dan kini? sudah menikah sama muridnya.

Terkait kacamata, sebenarnya tidak ada yang spesial dengan benda itu. Cuma alat bantu. Seperti kacamataku ini, kalau tak mengenakannya, pandangan mataku menjadi blawur. Tidak bisa melihat dengan jelas. Kadang merasa capek juga memakai kacamata. Ingin bebas darinya. Tapi entahlah, aku sudah bergantung banyak padanya.

Kembali ke cerita dari balik jendela. Sebelah rumah abang ganteng adalah rumahnya sepasang keluarga dengan satu bocah kecil gundul. Pakaian yang dipakai sehari-hari adalah pakaian yang sangat islami. Duroh selalu mengomentarinya sebagai keluarga Wahabi. Padahal belum tentu demikian. Ia menuduh tanpa barang bukti, kecuali dengan sehelai kain.

Sampingnya lagi adalah rumah Renald yang kini sudah pindah ke Bekasi. Pagi ini, aku melihat penghuni barunya. Kami belum begitu tahu. Kemudian tetangga yang pernah mengajakku naik mobilnya. Keluarga kecil dengan satu anaknya yang masih SMA. Kakak-kakaknya sudah bekerja.

Lalu, tetangga yang rumahnya selalu ramai dan berdendang. Nampaknya, hidup yang dijalani tetangga satu ini adalah hidup yang bener-bener hidup. Bertato, bermusik, ngedance, nasionalis dan tidak tercerabut dari adat sukunya. Sebuah keluarga asal Batak. Etapi, Ijul pernah mendapati keduanya bercekcok karena si istri ingin bekerja. Si suami kurang sependapat karena ada bayi yang mesti dijaga tiap waktu.

Di awal-awal keberadaannya di sini, rumahnya selalu ramai pada malam hari. Banyak yang berkunjung. Mereka-mereka ini tidak tahu waktu, ngobrol di sepanjang malam. Kadang sampai pagi. Jagongannya pun di luar rumah yang tentu terdengar sampai asrama kami. Sangat berisik. Mbak Dewi sengaja menutup pintu jendela dengan keras. Tidak hanya itu, Mbak Dewi meminta mereka untuk mengecilkan suaranya.

Tetangga kami tidak terima, menantang Mbak Dewi untuk berkata langsung di hadapannya. Tidak ngumpet di balik jendela. “Ayo sini kalau berani, bicara langsung pada beta. Pake banting-banting jendela segala.” Sejak itu, kami menjuluki tetangga Batak kami dengan “beta.”

“Beta mau kemana tuh?” ketika melihatnya hendak pergi. Atau gosip semacam “istri beta tuh cantik lhooo.”

Rumah di sebelah kami adalah rumah yang cukup besar. Kami tidak mengenali keluarga yang satu ini. Jarang kelihatan berada di luar rumah. Tidak bergaul dengan orang lain. Paling-paling, anaknya pada main sepatu roda di depan rumah. Kami menggunjingnya sebagai keluarga yang tidak serawung dengan sekitarnya. Terlalu tertutup. Kami kurang suka. Iyalah, lagian kita berasal dari desa. Makanya memandang fenomena Jakarta dengan kacamata desa. Ya jelas tidak ketemu.

Sedangkan rumah di samping kanan asrama kami adalah rumah bu Musdah Mulia. Tahu beliau siapa? Tokoh gender Indonesia.

Dari balik jendela kamar itu pula, aku mengamati dua bocah SD dan SMP yang jualan donat. Suaranya nyaring dan melengking-lengking. Menawarkan jajanannya. “Kueee doonat cooklat nanaas kacang ijoooo.” Kata terakhir itu yang paling melengking. Suaranya khas. Kalau kami berkeinginan makan donat, kami tinggal teriak dari jendela kamar. Pake kerudung dan turun menemuinya di teras asrama. Pernah suatu ketika, mereka kuajak foto. Namun dua-duanya tidak mau. Akhirnya aku selpi dengan donatnya.

Menurut cerita bocah itu, mereka menjualkan donat seseorang. Mengedarkannya ke daerah sekitar sini. Mereka mendapat upah lima belas ribu sehari. Jadi teringat waktu aku masih MI. Pernah jualan es lilin di sekolah. Saat aku kelas empat. Satunya dihargai seratus rupiah. Aku menjualkan es lilin mbak sepupu. Sepulang sekolah, aku menyetorkan hasil penjualan ke rumahnya. Dan hari Rabu adalah hari yang kutunggu-tunggu karena upahku dibayarkan pada hari Rabu. Bisa sampai tujuh ribu. Senangnya minta ampun kalau ada yang beli. Ketika esnya nggak habis, aku ingin nangis saja. Sudah tentu sangat sedih.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

02 Maret 2017 (17:54)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s