Rasa yang mudah timbul dan tenggelam. Satu-satu tenggelam, hilang, dan pergi.

Dulu banget, jangan kepedean tapi. Sampeyan adalah peran utama dalam tulisan-tulisan awalku. Ini hanya karena hubungan senior-junior saja. Tapi tahu sendiri kan, bagaimana kompleksnya perasaan seorang cewek. Faktanya apa, tafsirannya apa. Penafsiran atas sebuah sikap yang tidak selalu nyambung dan berkaitan. Hanya mengait-ngaitkan.

Sudah sewajarnya dong, senior perhatian dengan semua juniornya. Tapi ada salah satu junior yang merasa dispesialkan oleh seniornya. Junior itu bermain-main dengan perasaannya sendiri karena kegeeran. Dikira sang senior menaruh rasa pada juniornya. Iya sih menaruh rasa. *Rasa muak. Wkwkwk.

Seiring perjalanan sang waktu, junior menuliskan lebih banyak nama lagi. Tentu nama-nama yang lain. Selalu begitu siklusnya. Menjadikan seseorang sebagai tokoh utama dalam setiap tulisannya. Ia tidak pandai mengartikan sebuah perasaan. Hanya bisa menerka-nerka. Sayang sekali, terkaannya sering meleset.

Perasaan si junior terhadap seseorang mudah berubah haluan. Ia tidak yakin apakah perasaannya adalah perasaan yang sebenar-benarnya perasaan atau perasaan sesaat saja. Barangkali hanya rasa sesaat dimana ia mudah tersipu malu dan deg deg ser. Sepintas lalu saja. Tanpa benar-benar memahaminya.

Sekian lama ia tidak berkomunikasi dengan seniornya. Sesekali hanya menyapa lewat medsos. Sapa basa-basi biasa. Tanpa ada maksud yang sedemikian rumitnya. Di suatu kesempatan, senior masuk lagi ke dalam dunia junior. Itu terjadi saat seolah mereka adalah teman yang sangat jauh. Atas dasar apa, mereka berdua bisa dekat kembali? Tidak ada yang menjaminnya. Pertanyaan yang menjadi teka-teki junior, bisa-bisanya senior itu masuk lagi ke dalam hidup junior.

Sudah tersering ia bertanya pada senior, namun ia belum menemukan titik terang. Nampaknya, jawaban yang diperolehnya adalah jawaban-jawaban yang sangat permukaan. Ia tentu tidak bisa menuntut pertanyaan lebih banyak lagi. Atas dasar apa ia boleh bertanya banyak-banyak pada seniornya? Takut-takut, ia melampaui batas kewajaran. Biarlah puzzle itu akan tersusun pada waktunya.

Senior dan junior itu sama-sama dinginnya. Keduanya tergolong orang yang mati rasa. Datar-datar saja menyikapi hubungannya. Hal itu berpengaruh pada pola komunikasi yang juga sangat datar. Mereka belum bisa berkomunikasi sebagaimana mestinya. Pertanyaan yang selalu mendapatkan jawaban tertutup dari masing-masing pihak. Mereka sulit beradaptasi antar satu sama lain. Meski demikian, mereka tetap mencoba dan berusaha. Perasaan mereka sulit dikembangbiakkan. Ya begitu-begitu saja.

Dalam suatu penilaian, apa yang mereka lakukan membuahkan hasil yang menggembirakan. Meski belum hasil yang sempurna. Setidaknya ada benih-benih harapan di antara mereka. Sedikit-sedikit, mereka mulai nyaman. Sampai tahap ini pun, mereka harus melalui jalan yang panjang. Karena dengan munculnya “rasa” di antara mereka hanyalah permulaan. Setelah itu, mereka harus menempuh jalan-jalan yang lain. Ibarat kata, katakanlah sudah memiliki cinta atau rasa kasih pada sesamanya, lalu apakah persoalan akan selesai begitu saja?

Jawabannya tentu tidak. Ada komponen-komponen yang lebih besar. Bahwa ini bukanlah hidupku yang berhubungan dengan hidupmu. Ada hidup-hidup lain yang berkaitan dengan hidup kita. Ibumu, ibuku, keluarga besar kita, kesiapan jiwa dan raga kita. Seandainya kita sudah beres dengan hidup kita, namun kita belum mendapatkan lampu hijau dari hidup-hidup orang tua kita, hidup kita akan gugur secara otomatis. Orang tua adalah pintu utama. Daripada kita sudah bermain-main dengan perasaan sendiri, namun kalau orang tua belum bisa memberikan restunya, meminjam bahasanya anak muda, kita akan sulit move on.

Apa hakku menuntut jawab atas segala tanya? Tidak ada. Tapi bagaimana ya, namanya juga penasaran. Tentu kita tidak bisa mengintip apa yang bakalan terjadi pada hari esok. Setidak-tidaknya, ah entahlah.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

05 April 2017 (04:17)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s