Bayi-bayi

Kakak iparnya Mbak Dewi baru melahirkan anak ketiga. Dua anaknya dititipin Mbak Dewi di asrama selama beberapa hari ini. Anaknya kembar, bernama Dafa dan Raka. Kami turut kebagian momong bocah-bocah itu. Kembar berusia tiga tahun. Dafa dipanggil “abang” sedangkan Raka dipanggil “adek.” Dengan keberadaan bayi-bayi itu, aku menjadi berpikir betapa kerennya teman-temanku di kelas yang memiliki anak dan bayi-bayi.

Apalagi Bu Zakiyah. Anaknya tiga, dan kini hamil yang keempat. Aku yang Cuma ikut momong kembar sebentar-sebentar saja sudah tidak bisa konsentrasi pada tugas dan belajar. Melihat kembar yang aktif, aku ikut-ikutan capek. Teman-teman sekelas memiliki tenaga lebih. Kenapa begitu? Mereka memikirkan istri, anak, pekerjaan, dan banyak hal lainnya. Sedangkan aku? Memikirkan diri sendiri aja masih pontang-panting, bagaimana bisa memikirkan orang lain?

Mendengar nama bayi-bayi, pikiranku langsung melesat jauh ke Krapyak. Teringat temanku yang memotivasi dirinya dengan menuliskan sesuatu di pintu lemarinya. Isi tulisan itu, si teman harus semangat mendaras al-Qur’an. Juga harus semangat mengerjakan skripsi karena ada bayi-bayi lucu yang telah menunggunya di masa depan. Tulisan itu lebih terkesan ditulis oleh seorang laki-laki untuk menyemangati si teman. Padahal, itu tulisan teman sendiri. Dasarr!!!

Kembar memanggil Mbak Dewi dengan panggilan “Tante Nok.” Mau tidak mau, kami seasrama juga dipanggilnya tante. Jadi merasa gimana gitu. Diminta memanggil kakak, tetap saja akan memanggil tante dalam selang beberapa menit.

Aku sungguh terharu sama bocah itu. Sebelum ke asrama, mereka sudah dipesan ayahnya supaya tidak mencari emak dan bapaknya, tidak boleh rewel dan lain-lain. Bener saja, mereka tidak pernah menangis gara-gara kangen emaknya. Kukira, mereka sudah dewasa untuk ukuran anak seusianya. Kalo ada sesuatu yang tidak disukainya, ia tidak menangis. Namun bertanya mengapa hal yang tidak disukainya itu terjadi. Mereka sudah meninggalkan bahasa “tangis” dan mulai menggunakan bahasa lisan untuk mengkomunikasikan apa yang dimauinya.

Di hari pertama, mereka tidak lekas tidur di malam hari. Bermain kuda-kudaan dengan boneka. Si Adek sudah mengantuk sehingga ia sudah gluntungan di kamar. Banyak diantara kami yang melihat peristiwa bayi-bayi tidur sebagai peristiwa yang teramat lucu dan menggemaskan. Kami mengerubungi bayi-bayi itu. Sedangkan mereka berpolah dan berpindah-pindah ketika tidur. Tubuhnya muter terus. Bahkan tadi malam hampir sampai pintu.

Kemarin, Mbak Dewi mengembalikan kembar ke asrama. Sebelumnya, mereka diajak ke kampus. Kemudian Mbak Dewi menitipkannya padaku karena mereka ngantuk. “Tante, susu,” kata salah satu dari mereka. Aku turun ke bawah, merebus air, mengaduk susu, dan mendinginkannya di kulkas. Mereka gampang banget dirumat. Tidak nangisan. Mau-mau aja disuruh makan. Kalau haus, mereka bilang.

Si Adek bilang ke Duroh kalau Abangnya pengen ee’. Kata Duroh, anak seusia mereka mah sudah bisa cebok sendiri. Tapi aku nggak yakin. Kuantar abang ke kamar mandi, kutuntun dan kunaikkan ke atas wc duduk. Sebentar kemudian, aku mengeceknya dari pintu, memastikan kalau ia nggak jatuh. Wc-nya lumayan tinggi. Nggak tega melihat bocah itu yang ngeden dan berjuang di atas wc. Aku pengen tertawa juga mendengar suaranya “eee’, eee’.”

“Abang, udah keluar belum?”

“Belum Tante,”

“Nanti bilang ya kalau udah”

Kutinggal sebentar, lalu aku datang lagi ke kamar mandi. Kuminta Abang turun, lalu aku dilema sendiri. Masak iya aku harus menceboki bocah itu pake tangan. Aku memiliki ide untuk mencebokinya pake kaki. Dulu, Mbah Kakung melakukan itu padaku sewaktu aku dititipkan pada Mbah, Mamak ke sawah. Aku berpikir lagi setelah itu, takut nggak bersih. Aku hanya menyiram-nyiram bagian itu dengan air. Lalu, kuberani-beranikan saja dengan tangan. Aku mengambil sabun cair dan mengusapkannya ke bagian yang harus dibersihkan. Sudah deh. Satu masalah beres.

Sore harinya, aku dan Duroh memandikan dua bocil itu. Abang sudah selesai dan mau dihanduki. Sedangkan Adeknya masih kepengen mainan air. Lampunya sengaja dimatikan Duroh. Kami bertiga keluar dari kamar mandi. Si Adek langsung ngambek dan ngamuk. Sabunku dibuang. Duroh diciprati air. Duroh menghandukinya secara paksa. “Adek, lari yuuuk,” Aku membawanya berlari dan bilang kalau ia sedang terbang. Nggak jadi marah deh.

Itulah yang kupelajari dari Pak Zaki. Namanya, jurus pengalih perhatian. Kalau anak sedang bermain sesuatu yang tidak semestinya (menurut pandangan orang dewasa), kita bisa mengalihkan perhatiannya dengan sesuatu yang lain. Hal ini dilakukan untuk menghindari penyiksaan psikis sang anak. Si Adek memang mudah sekali ngambek, selalu ingin menang. Di sisi lain, Adek memiliki banyak akal. Ia selalu mempunyai inisiatif dan jalan keluar dari setiap persoalan. Sekalipun genting. Sedangkan Abangnya selalu membuat kami merasa sayang padanya. Ia sangat dewasa memperlakukan Adeknya. Selalu mengalah dan berpikiran jangka panjang.

Seperti ketika wafer Rechees tinggal tiga biji. Maksud hatiku, akan membagi kepada mereka berdua. Masing-masing mendapat satu setengah. Adeknya tidak mau. Ia melarangku memotong satu wafer. Ia harus mendapat dua wafer. Sedangkan Abangnya hanya diperbolehkan satu wafer saja, itu pun tidak utuh. Aku bersikeras memotongnya yang kemudian menyebabkan si Adek ngambek dan nangis. Ia langsung tiduran dengan miring di atas bantal, nangis. Kayak orang dewasa dah ngambeknya. Tak disangka, si Abang memberikan bagiannya ke Adek. Tapi karena sudah terlanjur uring-uringan, Adeknya nggak mau menerima. Di situlah aku berpikir, aku kalah bijak dibanding bocah berusia tiga tahun.

Kejadian seperti itu tidak hanya sekali dua kali dialami Abangnya. Seringkali malahan. Banyak kejadian-kejadian serupa. Kalau Abangnya tidak sengaja mengenai tubuh Adeknya, si Abang meminta maaf dengan bilang “maaf ya Dek, Abang nggak sengaja.” Bukannya memaafkan, namun si Adek marah ke Abangnya. “nggak mau, Abang sengaja.” Terjadi ketika kami sedang main bola di jemuran. Si Abang tertawa, aku membantunya tertawa untuk mencairkan hati Adeknya. Bener saja, Adeknya ikut tertawa.

Mbak Dewi pulang ke asrama, namun sekitar jam delapanan malam pergi lagi ke kampus. Latian padus. Karena Adek sudah tidur, Abang nggak jadi ikut ke kampus. Kutungguilah mereka berdua. Karena nggak memiliki teman bermain, Abang lama-lama tidur juga. Aku hanya tidur-tiduran di sampingnya sambil baca buku, ngerjain tugas.

Belum seberapa lama, mereka berdua bangun sambil mrembeh-mrembeh. Wajah mau menangis. Kudekati dan kutidurkan lagi. Syukur mereka mau tidur lagi. Kayak orang yang kebangun gitu loh, bahasa Jawanya ngeliler. Tapi mengkhawatirkan kalau terjadi pada anak kecil. Rawan menangis. Kuteruskan baca buku, eh Abang bangun dan menunjuk ke arah bantal yang bergambar boneka.

Kukira, ia takut pada bonekanya, tapi ternyata tidak. Kupangku dan kutidurkan lagi, Abang nggak mau. Ia menangis dan bertanya, “Tantenya manaaa??? hiks-hiks-hiks” Pecahlah tangis bocah itu. Aku menggendongnya, berharap ia tertidur kembali. Nangisnya semakin menjadi. Kuminta Ibah menghubungi Mbak Dewi, kalo keponakannya mencarinya. Kuajak Abang melihat gerbang dari jendela, kubilang, “nanti Tante Nok muncul dari situ.”

Kini, dua bocil itu sudah diantarkan Mbak dewi ke rumahnya. Naik Grab bike. Sebelum pulang, mereka diminta Mbak Dewi untuk salaman dan mencium kami satu per satu. Yah, sepi deh asramanya. Kebetulan, sore tadi kami sedang duduk-duduk di depan asrama sambil makan pempek. Lalu teringat bahwa susunya kembar belum diminum.

Bangun dari tidur siang, mereka minta dibuatkan susu. Untuk menunggu susu mendingin, aku memandikan dua bocil itu. Lalu ada Putri dan Abang Jihad yang datang ke asrama, mau mengaji. Kuminta Neli dan Duroh untuk memakaikan kembar baju. Tahu-tahu, Rafa memakai shod yang melorot terus-terusan karena kegedean. Kami tertawa tiap melihat Rafa menaikkan celana shodnya. Mungkin, itu shod Mbak Dewi. Wkwkwk. Jadi kangen dengan panggilan “Tante-tante.”

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

05 April 2017 (15:57)         

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s