Di Kelas Bu Sri

Di semester ini, Bu Sri Mulyati mengajar di kelasku. Mendapati dosen perempuan, aku senang tak terkira. Bagaimana pun, perempuan adalah minoritas di kampus ini. Seperti nasibku dan Bu Zakiyah di kelas. Dua banding delapan belas. Apalagi Bu Sri memiliki ilmu yang teramat luas, mengenai tasawuf dan tarekat. Selain peneliti, beliau juga praktisi. Penyampaiannya kena deh.

Baru kali ini bertemu dengan perempuan yang memiliki akar ilmu keagamaan yang kuat. Rasa-rasanya, aku sering banget menulis “akar keilmuan yang kuat.” Memangnya aku paham dengan istilah yang sering kupakai ini? Maksudku, beliau menguasai dan mempelajari ilmu-ilmu agama dari teks-teks kitab kuning. Aku mau bicara apa sih sebenarnya?

Begini lho, dalam asumsiku, orang yang menguasai bahasa Arab dan kitab kuning, ia akan mudah menulusuri khazanah ilmu-ilmu ke-Islaman. Semakin lama, kalimatku semakin kabur. Aku membuat istilah yang abstrak dan belum bisa dijelaskan secara operasional. Biarlah, aku juga baru belajar berkata-kata.

Di kelas tasawuf dan tarekat Nusantara, aku belajar bagaimana seseorang perlu dan harus mengetahui hal ini. Nilai-nilai yang diajarkan adalah salah satu komponen yang dibutuhkan manusia. Mengenai perjalanan seseorang menuju Tuhannya. Buya Hamka dan Pak Harun Nasution diceritakan Bu Sri sebagai orang yang bertarekat pada waktunya. Tahu sendiri kan Buya Hamka dari Muhammadiyah yang tentu tidak akrab dengan dunia-dunia seperti ini. Juga Pak Harun yang terkenal sebagai Bapak Muktazilah Indonesia karena pemikiran-pemikirannya yang rasional banget.

Buya Hamka berkata “Aku ini Hampa, bukan Hamka” sebelum beliau berbaiat pada Abah Anom. Di Sumatra, Buya Hamka sudah mengikuti tarekat Syattariyah. Kemudian di sini bergabung dengan tarekat Qadiriyah wan Naqsyabandiyah.

Beliau berdua adalah contoh kecil dari kedirian manusia yang mengalami pergulatan batin. Kita juga seperti itu. Mencari-cari apa yang sebenarnya hilang dari diri kita. Entah apanya. Aku Jadi senang dengan pengibaratan seseorang yang terlepas dari asalnya. Seperti seruling yang membunyikan suara melengking penuh nestapa atas terpisahnya sang bambu dari akarnya. Kita juga begitu barangkali. Meraung-raung ingin kembali ke asal kita. Betapa kita berada di wilayah antara cinta dan benci jadi satu. Perasaan yang sesungguhnya perasaan.

Bu Sri meskipun sudah menjadi dosen, beliau telaten sekali mencari buku-buku. Kini beliau mengumpulkan buku-buku yang berbicara tentang Indonesia Timur. Iya, Indonesia Timur. Kita masih beruntung berada di Jawa yang selalu mendapatkan suplai yang memadai dari pemerintah. Baik dalam pendidikan, fasilitas umum, dan lain-lain.

Katanya warga Papua ingin memisahkan diri dari NKRI. Aku sungguh tak paham dengan urusan batas wilayah dan seberapa pentingnya kita menjadi bangsa dari sebuah negara. Rakyat Indonesia mandiri, tidak membutuhkan pemerintah. Justru pemerintah hidup dari patungan uang rakyat. Nggak pemerintah aja nding. Aku juga begitu. Bisa hidup dengan cukup karena disokong rakyat. Terus peran Islam Nusantara bagaimana?

Inilah, dilematis sekali. Di sisi lain memiliki jargon NKRI harga mati. Namun, Islam Nusantara juga mengaku melakukan dakwah dengan cara yang damai. Non-kekerasan. Kok malah membahas sampai sini sih?

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

09 April 2017 (19:19)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s