Kebenaran, Objektivitas, Perspektif

Di pertemuan Kelas Menulis NU Online Jum’at kemarin, Mas Abah menyampaikan sembilan elemen jurnalistik. Salah satu poinnya adalah mencari dan menyampaikan kebenaran. Pertanyaannya, kebenaran yang mana? Kebenaran versi media yang memberitakan? Satu fakta akan melahirkan banyak cerita karena dilihat dari berbagai sudut pandang. Mempelajari hal ini, seperti berkutat kembali dengan Al-Qur’an yang memiliki ribuan penafsiran. Sama kasusnya dengan berita-berita yang kini memborbardir jagad raya.

Ujung-ujungnya akan berlari pada relativitas dan seberapa valid kah berita yang tersaji? Seperti tafsir Al-Qur’an, Al-Qur’an mengandung kebenaran absolut. Namun, tidak berlaku pada tafsirnya. Sedangkan kita memahami Al-Qur’an melalui tafsir. Sekalipun ada jargon kembali pada Al-Qur’an, kita juga secara tidak sadar melakukan proses penafsiran sederhana saat membaca Al-Qur’an.

Berapa persen tafsir bisa merepresentasikan apa yang dikehendaki Al-Qur’an? Juga, seberapa benarkah sebuah berita yang melaporkan sebuah fakta? Irisan dan persinggungan antara keduanya, banyak atau sedikit? Jangan-jangan, berita itu sama sekali tidak mengabarkan fakta yang terjadi. Memang tidak ada kebenaran yang mutlak. kecuali Tuhan itu sendiri. Selainnya, adalah bayangan, perspektif, ilusif. Kata Marcus Aurelius

Everything we hear is an opinion, not a fact.

Everything we see is a perspective, not the truth.

Hal ini tidak lantas membuat kita menyerah dalam menjalani kehidupan yang tidak hitam-putih. Kita perlu legowo bahwa kita bukanlah orang yang paling benar. Benar menurut kita belum tentu benar menurut yang lainnya. Semuanya tergantung. Tergantung siapa melihat. Jadi teringat Pak Radhar yang meremehkan teori-teori. Yang terpenting adalah data dan data. Kita hanya perlu menganalisis pake kerangka pikir kita sendiri.

Kembali pada masalah berita. Aku menjadi frustasi sendiri melihat dan membaca berita-berita. Betapa apa yang diidealkan dunia jurnalistik dengan sembilan elemennya tidak bernilai apa-apa di lapangan. Nilai luhur itu ditanggalkan begitu saja. Berhenti pada tataran teori yang ideal banget. Hanya dipelajari jurnalis pemula. Apakah masih ada jurnalis yang memegang nilai-nilai itu. Membela yang kecil, mengabarkan kebenaran, dan lain-lain. Masih adakah media yang tidak berkhianat pada prinsip-prinsip dasar tersebut?

Apalagi media saat ini yang tidak bisa mandiri alias menggantungkan keberlangsungan hidupnya pada korporasi, pemerintah, dan semacamnya. Aku tidak yakin. Selama media belum bisa independen dan berdiri di atas kakinya sendiri, mungkin ia tidak akan memiliki kuasa atas apa yang diberitakan.

Maka, alternatif lainnya adalah lari pada para penulis dan jurnalis independen seperti Bu Dina Sulaeman, Eva Barlett, Mas Zia, Pak Helmi Aditya, Mas Zainul Muttaqin (Tapi aku menangkap nada kemarahan pada tulisan-tulisan Mas Zain akhir-akhir ini. Dulu mah nggak begitu. Kan beda ya tulisan yang ditulis dengan kemarahan atau dengan penuh kasih sayang. Mungkin Mas Zain jengah melihat kaum sumbu pendek yang tidak lekas memanjangkan sumbunya. Sama dengan tulisan Muhammad Nuruddin yang bagus dengan penuh ketawadhukan. Itu terjadi sebelum gencar PILKADA. Setelah itu, tulisan-tulisan Muhammad Nuruddin sangat tendensius sekali. Tercium amarah penulisnya. Padahal isinya bagus. Namun, nuansanya yang bikin memanas. Lambat laun aku meninggalkan Mas Zain dan M. Nuruddin. Keculai kalau Mas Nana mengaplot catatan mengenai guru-gurunya di Mesir. Lebih baik, menurutku, Mas Nana kembali ke khittahnya. Hehe. Apa urusanku mengurusi urusan orang lain? Tidak punya kerjaan banget. Dalam hal ini, Mas Zia adalah orang yang tetap tenang menghadapi fenomena zaman. Menyikapinya dengan kepala dingin. Tidak terpancing atau terprovokasi. Mas Zia konsisten dan berjalan di jalannya sendiri.)

Mereka adalah orang-orang yang bebas dan merdeka. Tidak memiliki kepentingan apa-apa. Murni menyampaikan apa yang sedang terjadi dengan pengetahuan pada objek secara mendalam, juga dilengkapi dengan data-data terbaru yang sudah diklaririfikasi. Tidak data-data hoaks.

Bu Dina memperhatikan Timur Tengah sejak lama. Aku mengetahui beliau melalui tulisannya mengenai sekelompok orang beragama di Indonesia yang mencaci pemimpin negara Timur Tengah. Padahal sebelumnya, ia menerima kucuran dana dari pemimpin tersebut. Pura-pura tidak tahu atau lupa ingatan?

Oh iya, berbicara mengenai dana, salah satu cara untuk menganalisis afiliasi seseorang atau kelompok tertentu, lihat dari mana mereka mendapat saluran dana. Kejar terus. Dana, dana, dan dana. Dengan begitu, kita bisa melacak siapa yang berada di belakang kelompok. Pihak-pihak yang membackingi suatu kelompok. Tentu backingan tersebut tidak diperoleh secara gratis. Ada harga yang harus dibayar. Itulah yaaa…

NB: Apa yang kutulis hanyalah pengamatan semata dan sepintas yang penuh spekulasi, terkaan, perkiraan. Tanpa didasarkan pada data-data yang memadahi. Tulisan ini tidak mengandung kebenaran, melainkan perspektifku dalam melihat dunia dalam berita. Kata temenku, hanya non sense.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

09 April 2017 (20:27)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s