Kiai Masdar F. Mas’udi

Minggu kemarin, di kelas Pak Kiai Moqsith, kita mendiskusikan pemikiran Kiai Masdar Farid Mas’udi terkait penggabungan zakat dengan pajak. Biar rakyat Indonesia tidak memiliki beban hidup yang berat. Kalo rakyat membayar dua-duanya, tentu akan memperbesar pengeluaran. Padahal, jaman dahulu kala, orang Islam bayar zakat. Sedangkan non-Islam membayar pajak.

Lha kok di Indonesia, umat Islam harus membayar zakat pada agama dan membayar pajak ke negara. Bagaimana pendistribusian harta yang dikumpulkan oleh dua kewajiban tersebut?

Sebelumnya dibahas konsep qath’i dan dzanni menurut Kiai Masdar. Ajaran agama yang bersifat qath’i adalah ajaran yang memiliki nilai-nilai universal. Hal ini berkaitan dengan etik-moral-spiritual. Kalo dalam bahasa fikihnya, mungkin disebut dengan ratio logis atau maqashidi, alasan mengapa sebuah teks keagamaan muncul. Sifat ajaran ini absolut dan mutlak, berlaku sepanjang zaman. Tidak terbatasi ruang dan waktu.

Sedangkan ajaran yang bersifat dzanni masih dimungkinkan lagi untuk diijtihadi. Karena ajaran dzanni bersifat partikular, detail dan teknis-operasinal. Kiai Masdar menyatakan bahwa sesuatu dinilai benar jika mengandung unsur kemaslahatan.

إذا صلحت المصلحة فهو مذهبي

Artinya, kebenaran dilandaskan pada kemaslahatan. Sedangkan kemaslahatan tentu dirasakan oleh realitas. Hal ini berbeda dengan wacana-wacana sebelumnya yang menyandarkan kebenaran pada teks. Suatu ajaran dinilai benar ketika ada teks yang mengatakannya sebagai kebenaran.

Terkait pernyataan Kiai Masdar, apa batu uji kemaslahatan menjadi sahih? Kapan itu terjadi?

Apa yang terjadi di kalangan para pengkaji ilmu-ilmu keislaman berputar-ptar pada teks dan apa konsekwensinya jika kita lari dari teks? Terutama di kalangan Nahdliyyin, tradisi teks sangat kuat sekali. Tentu ada plus minusnya. Warga Nahdliyyin memiliki akar keilmuan yang kokoh. Fondasinya sudah terbentuk dan berdiri tegak.  Di sisi lain, ada pertanyaan-pertanyaan nakal, lalu kenapa? lalu apa? Maksudnya, setelah menguasai ilmu yang bejibun, mau apa lagi? Apa yang bisa diperbuat? Apa manfaatnya untuk masyarakat kecil?

Menurut Kiai Moqsith, kita tidak boleh lari dari teks dan kemudian menghamba pada konteks. Niat hati tidak mau memberhalakan teks, eh malah memberhalakan yang lain. Ini adalah contoh kecil dari dinamika kehidupan manusia. Bagaimana menterjemahkan bahasa langit ke dalam bahasa bumi. Banyak tokoh yang ingin menjembatani hal ini. Masih ingat dengan istilah teks-konteks, otentisitas-historisitas, dan lain sebagainya? Perbincangan UIN bangett.

Maslahat terbagi menjadi dua, yaitu maslahat individual dan maslahat publik. Kemaslahatan individual diputuskan oleh individu yang bersangkutan. Contohnya adalah ketika seseorang akan menikah. Tentu tidak perlu menseminarkan pernikahan antara si A dengan si B, apalagi dengan mendatangkan audien dari banyak kalangan. Biarkan pihak-pihak terkait yang memutuskan. Misalkan dengan istikharah. Saya tidak berniat modus atau memberi kode. Inilah yang dicontohkan Kiai Moqsith kemarin. *Beneran!

Sedangkan kemaslahatan publik yang menyangkut kepentingan orang banyak harus dibicarakan dan dimusyawarahkan. Misalkan mengenai calon pemimpin yang akan maju di suatu daerah. Nah, kiai-kiai di daerah tersebut tidak memutuskan akan memilih siapa dengan berdasarkan istikharah. Jika hasil istikharah tersebut diberlakukan bagi umat. Karena apa? Memungkinkan sekali jika hasil istikharah dari sertiap kiai berbeda. Padahal ini urusan publik. Mestinya dibicarakan di kalangan publik juga.

Terkadang, terjadi benturan antara kemaslahatan publik dengan kemaslahatan individu. Yang dimenangkan adalah kemaslahatan publik dan mengesampingkan kemaslahatan individu. Namun, muncul pertanyaan lain, bagaimana dengan hak-hak asasi (mendasar) manusia, bagaimana menyikapinya?

Duh, menuliskan ini kembali, menjadikanku merasakan suasana tegang di kelas kemarin. Padahal sudah hampir seminggu. Lagian, ngapain baru dinarasikan? Semakin banyak hal-hal yang bolong. Ada jarak waktu antara kejadian dengan penulisan ini. Tentu akan mereduksi satu dua perkara. Feel dan nuansanya nggak dapet. Sebenarnya, aku menunda-nunda menarasikan hasil diskusi kelas karena merasa bahwa menuliskan materi kuliah tidak seenjoy menulis cerita keseharian. *Huh, alasan! Bilang aja males, pake muter-muter dulu.

Kemaslahatan ini, apakah membutuhkan pembenaran dari luar dirinya? kemaslahatan tidak hanya dilihat dari aspek teoritik, namun juga dilihat secara empiriknya seperti apa. Seberapa kuat ia mempertahankan dirinya di tengah-tengah masyarakat? Apakah masyarakat benar-benar membutuhkan isu tersebut? Isu yang terlahir berbeda dari keilmuan sebelum-sebelumnya.

Kiai Moqsith menceritakan satu hal yang kukira adalah cerita yang terlampau spesial. Mungkin karena aku baru mengetahui hal ini. Atau baru menyadarinya. Demikian, Kiai Masdar adalah pemikir yang tidak akrab dengan pidato dan ceramah-ceramah. Beliau bukan penceramah, melainkan pemikir. Sehingga perlu forum kecil untuk menguji pemikiran-pemikiran Kiai Masdar. Jangan di forum besar. Argumen Kiai Masdar kuat lho. Hanya saja, ya itu, beliau bukan penceramah. Mungkin sama seperti Pak Phil kali ya.

 

Asrama Mahasiswa, Gang Nusa Indah, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

06 April 2017 (20:59)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s