Pak Ulinnuha Husnan

Pak Ulin adalah dosen yang mengujiku saat wawancara tes masuk kampus ini. Bersama dengan dosen perempuan yang sampai saat ini belum pernah kulihat di sini. Aku belum mengenalnya. Satu-satunya dosen perempuan adalah Bu Sri. Kukira, Ibu Dosen Pengujiku kemarin bukan Bu Sri. Wajahnya berbeda.

Aku melihat Pak Ulin sebagai sosok dosen yang tidak banyak bicara. Namun, aku selalu terkesan ketika beliau mulai membuka suaranya. Beliau diam pada waktunya, dan bicara jika waktunya tiba. Beliau tidak ribet dengan urusan teknis dan keremeh-temehan. Pak Ulin selalu menunjukkan dirinya sebagai guru yang membersamai murid-muridnya. Tidak pernah menilai jelek hasil kerja kami. Beliau selalu mengapresiasi pemakalah dan petugas presentasi. Sekalipun kami memaparkan tema dengan amburadul.

Beliau tidak pernah menggunakan nada-nada kemarahan. Itu yang membuat kami menghormati beliau. Beda kan antara mengkritik dan memarahi. Dua hal yang sering kabur penerapannya saat ini. Pernah menyaksikan orang beragama yang gemar marah-marah? Aku juga heran kenapa mereka bisa semarah itu setiap menghadapi hal yang tidak disukainya.

Pak Ulin selalu memiliki bahasa halus dalam menyampaikan maksudnya. Bahasa halus yang digunakan untuk mengkritik secara terselubung. Kami tidak pernah sakit hati karena beliau tidak menyampaikan kritiknya dengan kemarahan. Masukan-masukan tersebut bertujuan untuk memperbaiki tugas kami.

Kalau kami tidak memahami dan menguasai apa yang kami tulis, Pak Ulin hanya bertanya “Sebenarnya anda ingin menulis apa? Bicaralah supaya saya bisa membantu.” Pak Ulin mencoba mengurai ketidaktahuan kami. Kami bingung, Pak Ulin menunjukkan jalan-jalan yang harus kami tempuh supaya tidak bingung lagi.

Beliau adalah orang yang sederhana. Tidak mencolok di antara dosen-dosen lain. Biasa saja. Selalu diam di dalam keramaian. Ketika ada acara tadarus Islam Nusantara, beliau memperhatikan dengan seksama. Beliau hanya akan bicara kalau waktunya telah tiba. Jika tidak pernah tiba, Pak Ulin tidak akan berbicara.

Beliau mengampu matkul Seminar Proposal. Pertanyaan sederhana dan simpel yang terlontar setelah kami presentasi adalah “Anda ingin menulis apa?” Pertanyaan yang mampu memporak-porandakan benteng pertahanan kita. Kami hanya berpikir, tadi kami berbicara apa?

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

09 April 2017 (8:28)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s