The Kite Runner

Pertama kali mengenal film The Kite Runner ketika aku masih tinggal di Jogja. Mungkin di awal masa-masa kuliah. Sebelumnya, aku membaca seri novelnya yang kupinjam dari Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Kampus tercintah. Film ini tergolong film yang ampuh karena masih kupertahankan di laptop. Kalau film-film yang tidak menempel di hati, aku akan segera menghapusnya setelah menontonnya. Sedangkan film-film bagus kujadikan sebagai koleksi.

Secara garis besarnya, film ini berkisah mengenai persahabatan antara anak pelayan dengan anak majikan. Hassan adalah teman sekaligus pelayan yang setia. Ia tidak pernah berkata “tidak” untuk semua perkataan Amir. Di sisi lain, Amir merasa geregetan dengan sikap Hassan yang tidak pernah berbuat jahat kepada Amir. Hassan tidak bisa membaca dan menulis. Ia tidak pintar sekolahan, tapi ia pandai menjalani kehidupan. Pintar hidup. Hassan selalu mengejar layang-layang yang terputus. Ia melakukannya untuk Hassan.

Film ini diproduksi pada tahun 2007. Aku lupa penulis novelnya. Khalid Hosseini kalau nggak salah. Aku juga nggak begitu faham dengan artis-artis yang bermain dalam film ini. Beberapa hal yang menjadi alasan untuk selalu menggandrungi film ini adalah: 1) Banyak adegan yang menampilkan buku-buku. Misalnya, Amir (pemeran utama) adalah anak yang suka menulis sejak kecil. Ia dihadiahi buku oleh Rahim Khan (teman ayahnya) sebuah buku ketika ia ulang tahun. Rahim Khan adalah orang yang mengapresiasi cerita-cerita yang ditulis Amir. Hassan (tokoh sentral juga) selalu ingin mendengarkan cerita-cerita Amir.

2) Filmnya bersetting di sebuah negara yang mengalami konflik, Afganistan. Barangkali, yang terjadi saat itu tentara Rusia masuk ke Afganistan dan menjajah negara tersebut. Amerika sebagai negara adidaya tentu nggak akan tinggal diam dengan hal ini. Amerika mempersenjatai, membiayai, melatih, menernak Taliban di Afganistan. Supaya apa? Untuk memerangi Rusia. Intinya, dua negara sedang berperang dan mengadu kekuatan di negara orang lain. Proxy war, perang boneka. Sebab perang, negara ini mengalami krisis yang tak kunjung usai. Tak ada rasa aman di sana. Nyawa tidak berarti lagi. Hanya ada ketakutan. Namun, masih tersisa harapan, kenangan, dan mimpi untuk dunia yang lebih baik. Orang-orang yang suka berperang, sebenarnya apa yang mereka kehendaki dari dunia ini? Aku tidak benar-benar bisa memahami.

3) Setiap dialognya bermakna. Ini tentu tidak digarap dengan main-main. Krunya banyak sekali. Kulihat di bagian akhir. Berikut merupakan percakapan-percakapan yang kusalin. Sengaja kupilih bagian-bagian yang mengena di hati. Cuma cuplikan-cuplikan dialog yang tidak utuh.

Rahim Khan berbicara pada ayah Amir yang mengeluhkan tingkah Amir yang tidak berani bertengkar, tidak jagoan.

“Anak-anak bukanlah buku mewarnai. Kau tidak bisa mewarnai dengan warna kesukaanmu. Dia tidak sepertimu. Tidak akan pernah bisa. Tapi lihat saja. Dia akan baik-baik saja.”

Ini jawaban ayah Amir.

“Seorang yang tidak bisa membela dirinya, dia tidak akan membela apapun”

Amir melihat ayahnya meminum alkohol dan mengatakan bahwa yang dilakukan ayahnya adalah perbuatan dosa menurut guru agama. Jawab ayahnya,

“Apa kau ingin tahu apa yang ayah pikirkan mengenai dosa? Hanya ada satu dosa, yaitu mencuri. Dan dosa lainnya hanyalah variasi dari mencuri. Saat kau membunuh seseorang, kau mencuri sebuah nyawa. Kau mencuri hak seorang istri kepada suaminya. Hak anak-anaknya kepada ayahnya. Saat kau berbohong, kau mencuri hak seseorang pada kebenarannya. Tidak ada perbuatan yang lebih buruk dari mencuri.”

Lalu ketika tentara Rusia mempratoli mobil rombongan yang akan melewati jalan. Tentara Rusia melihat seorang wanita dengan bayinya di dalam mobil itu. Tentara ingin “tidur” setengah jam dengan wanita tersebut. Ayah Amir juga berada di dalam mobil rombongan dan maju menantang tentara Rusia. Apakah tentara tersebut tidak memiliki rasa malu.

“Tidak ada rasa malu dalam peperangan,” gertak tentara Rusia.

“Kau salah. Perang tidak meninggalkan kesusilaan”

Amir dan ayahnya pindah ke mobil tangki. Mereka berdua hendak pergi ke Amerika karena Afganistan dirasa tidak akan memberikan keamanan.

“Aku tidak bisa bernapas, Ayah,” kata Amir.

“Pikirkanlah hal lain, pikirkan sebuah puisi”

“Rumi?”

“Kau mengingat sebagian bukan? Aku ingin mendengarnya.”

Jika kita tidur, kita adalah pengantuk bagi-Nya

Dan jika kita bangun, kita adalah tangan bagi-Nya

Jika kita menangis, kita adalah awan-Nya yang penuh air mata

Dan jika kita tertawa, kita adalah cahaya bagi-Nya saat itu

Jika kita marah dan bertengkar, itu adalah cermin kemurkaan-Nya

Dan jika kita berdamai dan memaafkan, itulah cermin cinta-Nya

Siapakah kita di dunia yang rumit ini?

Setelah di Amerika, Amir dan ayahnya berhubungan baik dengan orang-orang Afganistan yang tinggal di Amerika. Bertemulah dengan sebuah keluarga yang dikepalai Jenderal Taheri. Mereka sama-sama berdagang di sebuah pasar. Jenderal Taheri memiliki anak gadis yang manis. Datanglah Amir ke kios Jenderal Taheri. Kebetulan si gadis yang menjaga kiosnya, duduk membaca buku. Sampai pada suatu masa, Amir mengharapkan Soraya anak Jenderal Taheri untuk menjadi istrinya. Amir bilang pada ayahnya,

“Aku ingin kau meminta jenderal Taheri untuk melepaskan putrinya”

“Apa kau yakin?”

“Lebih dari apapun”

Amir kembali lagi ke Kabul atas permintaan Rahim Khan. Ada sesuatu yang ingin disampaikan Rahim Khan, dan itu hal penting. Amir datang ke Pakistan terlebih dahulu untuk menjenguk Rahim Khan yang tinggal di sana. Amir bertanya pada sopir yang mengantarnya, ketika melihat keadaan tanah kelahirannya seburuk dan separah…

“Taliban masih seburuk yang mereka katakan?”

“Lebih buruk. Mereka tak membiarkanmu menjadi manusia. Mereka bahkan melarang perlombaan layang-layang.”

Sesampai di rumah Rahim Khan, mereka berpelukan, minum teh dan ngobrol-ngobrol. Amir mengeluarkan buku yang telah ditulisnya. Dalam buku itu, tertulis persembahan untuk Rahim Khan.

Untuk Rahim Khan yang telah mendengarkan ceritaku, bahkan sebelum aku tahu cara menulis.

Melihat Rahim Khan yang sakit-sakitan, Amir menawarinya untuk ikut pulang ke Amerika. Di Amerika, Rahim Khan akan mendapat perawatan yang lebih baik.

“Orang Amerika terlalu yakin dengan rasa optimis mereka. Tapi ada hal lain yang disebut kehendak-Nya.”

Rahim Khan mengutarakan maksudnya kepada Amir. Alasan kenapa ia meminta Amir kembali ke Kabul. Tidak lain tidak bukan untuk menjemput Sohrab, anak Hassan yang tertinggal di Afganistan. Hassan adalah anak pelayan keluarga Aga Sahib, ayahnya Amir. Runutannya, Ali dipungut oleh kakek Amir. Ali punya anak bernama Hassan. Ayah Amir memiliki anak, yaitu ayah Amir (Agha Sahib).

Agha Sahib punya anak, Amir. Amir dan Hassan berteman baik. Rahim Khan menceritakan cerita aslinya. Bahwa Hassan adalah adik Amir. Agha Sahib selingkuh dengan istrinya Ali dan melahirkan Hassan. Ali mandul. Hassan telah meninggal, ditembak tentara Rusia bersama istrinya. Ia memiliki anak yang diberi nama Sohrab. Nama yang diambil dari cerita yang selalu dibacakan Amir kepada Hassan. Tentu Amir shok mendengar kebenaran ceritanya. Sohrab masih hidup. Sebagai paman, Amir diminta menjempt Sohrab yang kini masih di Afganistan. Amir keberatan karena kembali ke Kabul adalah hal konyol. Di sana berbahaya. Amir tidak mau mengambil resiko.

“Ini bukan tentang uang. Tapi kau adalah penulis cerita. Dan sebagian dari dirimu selalu menginginkan sebuah cerita”

Rahim Khan menyerahkan surat dari Hassan untuk Amir.

Dengan nama-Nya yang Maha Pengampun. Amir, dengan hormat terdalamku. Istri dan anakku berdoa kau sehat dan dalam lindungan-Nya. Dan berharap suatu saat suratku akan sampai di tanganmu. Dan kau bisa membacanya di Amerika. Aku mencoba belajar bahasa Inggris. Itu bahasa yang sulit. Aku merindukan cerita-ceritamu. Aku menyertakan foto diriku dan anakku Sohrab. Dia anak yang baik. Aku membuat dia belajar membaca dan menulis agar dia tidak bodoh seperti ayahnya. Dan agar dia bisa menyinariku sinar mentari seperti yang kau lakukan. Tapi aku merasa khawatir akan anakku. Mereka menginginkan kematian anak kecil. Kebaikan telah hilang di tempat ini. Dan kau tidak bisa mencegahnya datang. Aku bermimpi Tuhan akan memberikan kami hari yang lebih baik. Aku bermimpi anakku akan tumbuh menjadi pria yang baik. Seorang yang bebas. Seorang yang penting. Aku bermimpi bunga akan mekar kembali di Kabul. Dan musik berbunyi di rumah-rumah. Dan layang-layang akan mengudara. Dan aku bermimpi suatu hari kau akan kembali ke Kabul. Mengunjungi kembali tanah saat kita masih kanak-kanak. Jika kau melakukannya, kau akan menemukan teman lamamu yang setia. Semoga Tuhan selalu bersamamu. Hassan.

Setelah membaca surat Hassan di kedai kopi, Amir bertolak menuju Kabul. Ia harus memakai jenggot palsu karena sudah menjadi peraturan Taliban. Amir risih dengan jenggot palsunya. Ia ditegur sopir yang mengantarnya.

“Berhentilah memainkannya.”

“Apakah aku harus memakai ini?”

“Kau tau yang kaum Taliban lakukan padamu jika mereka mengenalimu?”

“Aku merasa seperti turis di negaraku sendiri”

“Apa yang terjadi dengan pepohonan?”

“Orang Rusia memotongnya”

“Apa kau tahu apa yang mereka lakukan?” ada beberapa orang yang kakinya terpotong. Amir masih di dalam perjalanan menuju Afganistan. Di jalan-jalan, ia melihat orang-orang yang pincang.

“Mereka menjual kakinya. Kau bisa mendapat uang yang banyak dari itu. Kau akan kesakitan beberapa minggu lamanya.”

Sebentar kemudian ada Taliban yang melakukan pratoli terhadap jenggot. Kurang kerjaan banget kan Taliban? Masyarakat sipil Afganistan berada di tengah-tengah pihak yang bertikai. Tentara Rusia dengan Taliban. Betapa kita sudah seharusnya bersyukur hidup di negeri ini.

Amir datang ke tempat panti asuhan yang merawat anak-anak. Direktur panti asuhan bercerita ia didatangi orang Taliban, meminta anak dan membelinya. Terpaksa Direktur menyerahkan satu dua anak. Amir menjadi geram mendengar penuturan Direktur. Direktur tidak bisa menerima perlakuan Amir. Ia balik memarahi Amir.

“Kau melihat tatapan putus asa mereka. Kau datang untuk melindungi seorang anak. Membawanya kembali ke Amerika. Memberikan kehidupan yang baik. Itu terlihat heroik bukan? Tapi bagaimana dengan 200 anak lainnya? Kau takkan melihat mereka lagi. Kau takkan mendengar raungan mereka di malam hari. Aku habiskan seluruh hidupku menyelamatkan anak-anak ini. Semua yang kumiliki telah kujual untuk membeli tempat ini. Kau pikir aku tak memiliki keluarga di Pakistan atau Iran? Aku bisa saja seperti yang lainnya. Jika aku menolak seorang anak, ia akan mengambil 10 anak.”

Sohrab tidak ditemukan di panti asuhan itu. Sohrab sudah berada di markas Taliban. Amir diminta Direntur panti untuk mendatangi lapangan tempat menegakkan hukum Islam. Ngeri daah. Taliban sadis banget. Padahal mereka bukanlah orang yang suci-suci amat. Aku tidak bisa menjangkau cara berpikir mereka. Mereka sungguh aneh. Saat itu, dilaksanakannya hukum rajam bagi pelaku zina. Dilempar dengan batu sampai meninggal. Orang Taliban bilang bahwa apa yang mereka ucapkan adalah perkataan Allah. Nah kan? Seolah mereka paling memahami maksud Allah dan merasa menjadi wakil Allah di muka bumi.

Di sisi lain, aku berpikir juga. Kan kita berasal dari Dzat yang sama. Kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari akarnya. Kita merindukan asal kita. Kita merintih dan galau karena rindu. Tapi kenapa di muka bumi ada orang-orang yang teramat tega kepada sesama hidup? Jahat sedikit-sedikit sih nggak papa. Kalau sudah keterlaluan, aku nggak tahu bagaimana aku harus menyikapinya. Apakah aku melawan ketentuan langit? Mereka terlalu kejam untuk ukuran manusia normal.

Kembali pada cerita perjalanan Amir untuk menemukan Sohrab. Amir mendatangi markas Taliban. Ternyata, di sana ada teman masa kecilnya yang pernah mencabuli Hassan. Setelah melewati lika-liku dan ditonjoki Assef, teman kecil Amir yang bergabung dengan Taliban, Amir berhasil membawa Sohrab. Pertama-tama, Amir mendatangi rumah Rahim Khan di Pakistan. Terjadi dialog antara Amir dengan Sohrab. Sohrab menghilang dari tempat tidurnya ketika Amir terbangun. Sohrab bersembunyi karena berpikir bahwa Taliban akan menculiknya sebelum shalat Shubuh. Amir mencari-carinya. Amir kembali ke rumah dan menemukan Sohrab terduduk di undakan tangga. Sohrab membuka suara,

“Terkadang aku merasa lega mereka telah meninggal”

“Kenapa?”

“Aku tak ingin mereka melihatku. Aku sangat kotor”

“Apa aku pernah memberitahumu bahwa ayahmu adalah penerbang layang terbaik di seluruh Kabul? Dia akan menaikkan layang-layang dan tidak pernah melihat ke langit. Beberapa anak menganggap bahwa ia mengejar bayangan layang-layang. Tapi mereka tak mengenalnya sebaik aku. Ayahmu tidak mengejar bayangan. Dia hanya mengerti. Itu saja.”

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

09 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s