Agora

Seharian di Perpusnas dari jam setengah sembilan sampai jam empat sore. Pulang ke asrama, ada tiga bocil yang mengaji. Leyeh-leyeh sampai Isya’. Mandi dan kemudian ngobrol dengan Kang Isnen sampai jam 10 malam. Mataku sudah berat, badanku lemes, tapi tidak bisa tidur. Sudah mapan di kamar, eh bangun lagi.

Ijul dan Duroh ke bawah, masak mie. Aku meminta Ijul untuk membuatkanku kopi. Kami bertiga makan mie, nasi, dan minum kopi. Nyatanya, kami tak lekas mengantuk. Ada ide untuk menonton film Agora. Film yang direkomendasikan teman-teman di Grup WA Ngaji Filsafat Masjid Jenderal Sudirman Yogyakarta. Kebetulan, di laptop Mbak Dewi ada filmnya.

Jadilah kita menonton sampai jam setengah tiga. Film ini bercerita mengenai berbagai hal mulai agama, pendidikan, politik, sejarah, peradaban, daaan tentunya perpustakaan. Salah satu hal yang paling kusuka di dunia ini. Kalau ada film yang mengisahkan perpustakaan, aku akan sangat bahagia. Entahlah, namanya juga suka.

Hypatia, filosof perempuan yang mengajar murid-muridnya di perpustakaan. Poin atau inti dari film ini, atau yang paling sering dibicarakan adalah mengenai pergerakan semesta. Jadi jangan tanya mengenai hal ini padaku. Aku belum paham. Untuk mengetahui alur cerita film ini, aku perlu berpikir keras dan tidak cukup jika hanya menontonnya satu kali. Film ini sangat serius. Apalagi hubungan antar agama dan temuan-temuan ilmu astronomi oleh Hypatia.

Apa nih yang harus diuraikan? Nampaknya perlu dipreteli satu per satu biar nggak tumpang tindih. Pertama, pendidikan. Hypatia berperan sebagai pengajar perempauan. Pada masa itu, Hypatia mendapat deskriminasi yang sangat keras dari kalangan Gereja. Karena apa? Tidak layak perempuan mengajar. Ia harus berada di bawah laki-laki. Saat para pemeluk agama mulai terpancing karena merasa tersinggung atas perlakuan dari pemeluk agama lain, Hypatia dan murid-muridnya adalah kelompok yang masih berpikiran jernih. Di sinilah aku melihat contoh bahwa beragama tidak hanya menggunakan perasaan. Akal kita perlu juga dipakai. Hypatia meredamkan emosi murid-muridnya. Juga ia menahan murid-muridnya supaya tidak turun ke gelanggang.

Kedua, agama. Betapa agama ini tumbuh dan berkembang tidak bisa luput dari peran para pemeluknya. Aku juga melihat contoh kecil bagaimana pemeluk-pemeluk agama merasa bahwa ia adalah orang yang paling mengerti apa kehendak Tuhan. Meyakini bahwa agamanya paling benar sungguh tidak menimbulkan masalah. Masalah muncul ketika mereka telah kehilangan kendali, memaksa orang lain untuk memeluk agamanya, dan mengkafir-kafirkan orang yang tidak sekeyakinan. Nah kan?

Apa yang terjadi di film ini barangkali juga terjadi pada kehidupan nyata, dimana terjadi pembersihan dan pengusiran terhadap kelompok tertentu. Dalam hal ini, penganut Kristen mengusir orang-orang yang menyembah patung-patung. Pengusiran tersebut tidak hanya pengusiran semata, namun dibarengi juga dengan perusakan barang-barang peninggalan dari peradaban sebelumnya. Hukum perang beserta konsekwensinya memang sulit dipahami. Setelah merusak bangunan dan segala fasilitas dan properti, tentu mereka harus membangunnya lagi dari awal. You know boi, perang merusak tatanan.

Ketiga, perpustakaan. Sebagai penyangga peradaban, keberadaan perpustakaan menjadi sangat urgen dan penting. Saat kelompok Kristiani telah menguasai perpustakaan dan gedung-gedung lain, buku-buku di sana dibakar. Perpustakannya berubah menjadi kandang ayam dan kambing. Ironis sekali. Sebelum terusir, Hypatia mencoba untuk menyelamatkan buku-buku yang ada. Keburu pasukan lain masuk dan menduduki perpustakaan. Hal ini terjadi juga di Baghdad yang saat itu menjadi pusat peradaban. Saat tentara Mongol menguasai Baghdad, buku-buku yang ada di perpustakaan turut dibakar. Diceritakan bahwa sungainya sampai berwarna hitam gara-gara habis dibakar, abunya dialirkan ke sungai. Belanda juga membawa manuskrip-manuskrip moyang kita ke negaranya.

Keempat, ilmu pengetahuan. Hypatia mencoba menguraikan apa yang sebenarnya terjadi dengan pergerakan bumi, matahari, bintang-bintang, dan planet-planet yang lain. Seluruh hidupnya dihibahkan dan diwakafkan untuk penelitian. Otak dan pikirannya tidak pernah berhenti berpikir. Otaknya selalu berputar dan bekerja dengan cepat. Saat ilmu pengetahuan masih asing terdengar di telinga masyarakat, ilmu pengetahuan menjadi momok yang sangat menakutkan. Takut-takut, agamanya akan ternodai dan ternista dengan penemuan baru. Sehingga Hypatia dijatuhi hukuman mati.

Kelima, Hypatia. Ia adalah pemeran utama dalam film ini. Meskipun akhirnya mati, kami tahu bahwa ia berperan besar dalam bidangnya. Ngeri melihatnya yang hanya guru biasa, namun diseret-seret dalam pusaran politik dan agama. Padahal ia hanya mengajar dan meneliti. Murid-muridnya menjadi orang-orang yang berpengaruh dalam komunitasnya. Orestes menjadi pemimpin negara. Espesies menjadi Uskup yang didengarkan jemaatnya. Davus, budak sekaligus muridnya juga tokoh penting dalam kaum Kristiani.

Keenam, hubungan guru dan murid. Aku senang melihat hubungan yang tulus antara guru dan muridnya. Betapa mulianya guru-guru yang telah mengajari kita. Apa yang terjadi di kemudian hari? Entahlah, dunia ini bisa berubah hanya dalam sekedipan mata. Di akhir cerita, murid-murid Hypatia meminta supaya Hypatia mau dibaptis. Hypatia tetap pada pendiriannya. Murid-murid Hypatia tidak dapat mempertahankan kehidupan Hypatia. Cyril telah mengeluarkan fatwa bahwa Hypatia adalah orang yang fasik dan tukang sihir. Ia juga tertuduh sebagai orang yang memprovokasi sang raja, Orestes, muridnya sendiri.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana orang-orang bisa berbuat jahat kepada orang yang telah berjasa besar pada dirinya. Orang yang dulunya membela murid-muridnya di hadapan apapun. Kini, murid-muridnya tidak bisa melindungi dan membela seorang guru.

Tentu ulasan ini hanya permukaan saja karena aku belum mengetahui banyak tema yang termuat dalam film ini. Hmmmm, mataku sudah kiyep-kiyep tapi apakah bisa bertahan sampai Subuh? Tidur setelah Subuh. Kurasa, apa yang kulakukan sungguh tidak terduga sebelumnya. Tidak tidur sehari-semalam. Semoga selalu bisa melek an. Wkwkwk

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

11 April 2017 (03:37)

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. ndaannis says:

    I haven’t finished watching this movie.
    Udah dpet gambaran sedikit sih, ngegambarin skrng bgt dah, paling bahaya rumah yg punya segudang buku.

    Liked by 1 person

    1. Keren banget kan filmnya. Berbicara mengenai sejarah, filsafat, polit, etc. Coba kak ditulis, biar aku bisa melihat persoalan di film lebih banyak lagi. Hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s