Kepentingan dan Uang

Beberapa waktu yang lalu, aku mengikuti istighatsah di salah satu tempat. Mendapatkan uang transport beserta makan. Uang transport dan makan tidak diberikan secara langsung di tempat. Seperti dengan adanya penerima tamu yang duduk di depan dan menyuguhkan snack dan amplop. Bukan demikian yang terjadi. Berbeda dengan di Jogja, kalau ada acara dan mendapatkan fasilitas, akan diberikan secara transparan. Yang datang duluan, pasti kebagian. Siapapun itu.

Di Jakarta beda lagi, sudah kukatakan sebelumnya kan kalau Jakarta kota kepentingan? Anggaran dari panitia sudah dipos-poskan ke beberapa lembaga. Nah, masing-masing lembaga mengutus anggotanya. Kalau tidak ada anggotanya, si pengurus lembaga tinggal meminta orang untuk mengerahkan massa. Jadiii, segala fasilitas tidak dibagikan kepada setiap orang. Tergantung, apakah ia termasuk rombongan suatu lembaga, institusi, atau komunitas. Sehingga, kalau tidak mengenal siapa-siapa, jangan harap akan mendapatkan apa-apa.

Lucunya lagi, banyak hal bisa melambung tinggi secara tiba-tiba. Kalau mau jadi orang besar di Jakarta, cepat-cepatlah mencari siasat. Kukira tidak sulit. Tapi kenapa aku enggan menyelam di Jakarta? Membaurkan diri dengan kehidupan Jakarta gituu. Alih-alih, aku malah menghidarinya. Hatiku selalu berontak. Adakah yang salah dengan semua ini? Aku yang terlalu keras kepala atau memang Jakarta harus dikeras-kepalai. Ketika aku melakukan kompromi-kompromi kecil, serasa ada diriku lain yang menjerit karena terhimpit. Aku menjadi manusia yang tidak merdeka.

Menggelikan sekali hidup di Jakarta. Atau hanya aku saja yang terlalu kolot, tidak bisa memahami Jakarta dengan sebenar-benarnya pemahaman.

Ada suatu organisasi nasional yang baru berdiri. Untuk menjadi pengurus besarnya, tidak perlu menjadi anggota dan pengurus wilayah. Organisasi tersebut adalah bayangan dari salah satu kementrian. Ini baru yang terjadi di wilayah sekitarku yang tahu sendiri kan? dunia Jakartaku belum meluas. Di sekop terkecil pun sudah sedemikian menggemaskan, apalagi di tingkat DPR, kementrian, dan instansi-instansi pemerintahan yang lain. Maka, menjadi keren bagiku, orang-orang yang masih bertahan di dunia politik.

Aku yang hanya merasakan efek sampingnya yang paling pinggiran aja sudah tidak tahan, bagaimana mereka bisa mempertahankan dirinya di tengah gempuran-gempuaran kepentingan? Kalau sudah membicarakan kepentingan, tidak perlu lagi membawa-bawa ideologi, agama, keyakinan, paham, idealitas, dan lain-lain. Persetan dengan semua itu.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

18 April 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s