Perempuan Minoritas

Entah hari apa, aku sudah berada di grup WA kontributor NU Online. Rasanya terharu banget, mengingat posisiku hanyalah murid di Kelas Menulis NUO. Mas Abah memasukkanku, Wiwi, Ilham, dan Syakir. Di dalam grup tersebut, aku melihat foto Mas Savic Ali, Pak Ova Musthofa, dan bapak-bapak yang lain. Mereka sudah senior. Dan aku? Masihlah terlalu muda untuk urusan ini. Muda begimane? Maksudku, pengalamanku dalam dunia jurnalistik ini yang masih muda.

Kontributor perempuan masih sedikit jumlahnya. Rata-rata laki-laki. Seketika langsung digeruduk bapak-bapak dan mas-mas. Inilah resiko menjadi perempuan minoritas di sebuah komunitas. Seperti ketika di Kantor Redaksi NUO, terkadang hanya aku yang perempuan. Mending kalau Wiwi datang, ada temennya. Kurasa, di PBNU, laki-laki sangat mendominasi secara kuantitasnya. Jarang ada perempuan. Entah itu di Perpustakaan, LPTNU, NUO, dan banom-banom yang lain. Biasanya, perempuan hanya mengurusi masalah administrasi dan teknis.

Di kelas, aku juga begitu. Cuman berdua sama Bu Zakiyah. Udah begitu, kami berdua sama-sama tidak banyak bicara. Sehingga apa? Keberadaan kami hanya diperhitungkan dan terlihat karena kami perempuan semata. Itulah yaaa, rasanya ngeri sendiri. Diakui atau tidak, perempuan yang belajar dan menempati posisi penting belum banyak. Masih kalah jauh dibanding laki-laki. Gejala dan fenomena ini, sebenarnya bermasalah atau tidak sih? Ah entahlah.

Kami tidak menuntut kesetaraan atau posisi yang lebih tinggi. Kami hanya menuntut keadilan dari masyarakat umum. Betapa kita (Laki-laki dan perempuan) semua adalah korban dari pandangan dan persepsi umum. Perempuan dianggap lemah secara fisik dan pemikiran. Dengan demikian, tidak sedikit perempuan yang mengalami pelecehan seksual dari kaum laki-laki.

Beberapa teman mengalami hal ini. Aku juga pernah mengalaminya. Di bis malam saat pulang dari Jakarta. Ada juga bapak-bapak yang sudah berkeluarga sering mengirimkan sms, bertanya kabar gara-gara aku mungkin terlalu welkam padanya. Aku berjumpa sepulang dari rumah Opret. Padahal, aku hanya merasa simpati dengan cerita hidupnya. Temanku juga mengalami hal serupa, saat pulang dari Jombang. Aku tidak tahu bagaimana fantasi dan pandangan laki-laki terhadap perempuan muda.

Kalis Mardiasih, penulis online yang sedang berkibar, menulis status panjang mengenai pelecehan-pelecehan yang dialaminya sejak ia SMP sampai kini. Status facebook tersebut ditulis bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Ia ingin mengajak kita semua untuk menyadari hal ini. Banyak dari perempuan yang menerima perlakuan yang tidak menyenangkan. Maksudnya, karena perempuan dipandang lemah, laki-laki bisa berbuat seenaknya terhadap perempuan. Spekulasinya, perempuan tidak bisa melawan dengan kekuatannya.

Suatu saat di bulan februari 2016, aku ikut les Toefl di UGM. Aku keluar kelas jam enam tepat. Biasanya aku akan shalat Maghrib terlebih dahulu di Mushalla fakultas Ekonomi dan Bisnis. Aku memarkir pit ontelku di dekat GSP. Februari biasanya hujan. Aku sudah menyiapkan jas hujan di keranjang sepeda. Aku memakainya saat hujan mulai berjatuhan turun ke bumi.

Betapa aku menyaksikan pemandangan yang teramat indah dan menawan. Di sepanjang jalan beraspal, aku mengamati lampu-lampu jalan yang berjajar rapi. Cahayanya bertaut dengan hujan. Atau rintik-rintik hujan yang jatuh ke aspal di bawah sinar penerang jalan. Aku melambatkan kayuhanku, sengaja menikmati segala yang terhampar. Apalagi aku jarang sekali keluar malam. Hanya melihat lampu kota aja senangnya minta ampun. Selain karena menikmati keindahan, aku juga berhati-hati di jalan. Kalau hujan, kita harus lebih waspada bukan?

Sampai di jalan Parangtritis, aku merasa ada sepeda motor yang melaju di belakangku lambat-lambat. Kupikir, kenapa sepeda motor tersebut tidak mau mendahuluiku? Aku belok kanan, ke jalan yang sekarang jadi jalan satu arah, aku lupa nama jalannya. Aku tetap mencoba stay cool meskipun ada yang membuntutiku. Aku merasa ada tangan yang memegang punggung atau pergelangan tanganku sambil menasehatiku supaya aku berhati-hati. Aku jadi parno sendiri. Ingin berteriak, memanggil Mamak keras-keras, dan mempercepat kayuhan. Kalau mau bilangin supaya aku hati-hati di jalan, bapak itu tidak perlu mengikutiku di sepanjang jalan Parangtritis-Krapyak. Aku jadi berpikir yang tidak-tidak.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

12 April 2017 (20:41)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s