Reza dan Kirana

Mereka berdua adalah putra-putri Bu Dina Y. Sulaeman. Bu Dina sering menuliskan kisah dua bocah itu untuk pembelajaran para orang tua. Istilahnya, parenting. Reza dan Kirana tidak sekolah. Kerjaannya membaca buku, les, menulis, dan berkegiatan yang lainnya. Mereka belajar dengan sistem belajar di rumah alias Home Schooling.

Kurasa, Bu Dina adalah ibu yang mendedikasikan hari-harinya unntuk menemani kedua buah hatinya. Bagaimana tidak? Bu Dina mengantar Kirana les biola, liputan ke Kendeng, melakukan perjalanan ke Jogja, menemani Reza jualan dan lain-lain. Hal itu dilakukan Bu Dina untuk merangsang bakat, hobi, kecenderungan yang dimiliki sang anak. Untuk memunculkannya, perlu tenaga lebih. Bu Dina selalu mendampingi mereka.

Anak yang sudah mengetahui apa yang mereka senangi, bisa mandiri sejak usia baligh. Berbeda dengan kita-kita yang sekolah, diajari untuk mandiri setelah lulus kuliah. Padahal, jauh sebelum itu pun kita sudah memiliki potensi untuk hidup mandiri. Hidup mandiri bisa terlaksana jika sang anak sudah memiliki pijakan. Sudah mengetahui apa yang mereka maui di dunia yang fana ini. *Tsaaah

Tidak mudah mengetahui bakat sang anak. Misalnya nih, Bu Dina memasukkan anak-anaknya ke suatu kelompok belajar atau kerajinan. Semua hal dicoba dan dijajal. Sekali dua kali, sang anak mogok di tengah jalan karena mereka tidak berminat dengan hal itu. Padahal Bu Dina sudah membayar mahal di muka. Tidak hanya itu.

Terkadang aku berpikir, apakah di kemudian hari aku bisa membersamai anak-anakku belajar secara mandiri. Tidak bergantung pada bangku sekolah. Secara, aku bisa apa sih? Tidak banyak yang bisa kuandalkan. Aku hanya manusia biasa yang hidup secara wajar saja. Namun, di dalam lubuk hati yang entah dalam atau tidak, aku ingin mendidik anak-anakku sendiri. Nanti diikutkan siapa saja atau kelompok/komunitas sekitar untuk menstimulasi kecenderungannya. Ia bisa mengaji ke guru kampung setelah Maghrib, latihan pramuka sore harinya, les musik, mancing ke kali, pergi ke sawah, jualan di alun-alun, jalan-jalan ke toko buku, ngeblog, dan lain-lain. Wkwkwk. Sok yes banget sih gue, padahal punya konsep yang matang pun belum. Hanya angan-angan belaka. Padahal nggak boleh lho thulul amal. Ngayal.

Kirana. Di usianya yang masih belasan tahun, ia sudah menerbitkan beberapa buku. Aktif di blog juga. Coba saja buka blognya. Nama lengkapnya Kirana Mahdi Sulaeman. Kirana sering mengikuti diskusi-diskusi berat. Perbincangan mengenai gerakan kiri, kaum marginal, kemanusiaan, dan lain sebagainya. Hasil diskusinya dituangkan dalam tulisannya di blog. Selain mahir menulis sejak kecil, Kirana sering tampil konser memainkan biola di suatu acara. Keren sekali kan? Masih ada lagi, Kirana sudah magang di Watchdoc. Sebuah perusahaan yang membuat film-film dokumenter kerakyatan. Lulus magang, Kirana nampaknya menekuni pembuatan film dokumenter. Anak sekecil itu sudah memiliki banyak prestasi dan mengetahui apa yang akan dilakukannya.

Berbeda denganku yang masih sering galau dan bingung. Tidak benar-benar tahu apa yang akan kulakukan. Menjalani hari-hari dengan sangat datar, sewajarnya orang hidup. Belum bisa mandiri pula. Semuanya butuh jeda, waktu, dan proses. Kalau melihat bocah-bocah keren berprestasi, sempat merasa pengen juga. Apalagi mereka berusia jauh di bawahku. Ingin bertanya pada diri sendiri, apa yang sudah kulakukan selama ini? Aku belum ngapa-ngapain ternyata. Hiks-hiks. Sedihnyaaa.

Untung aku bisa membela diriku sendiri. Entah untuk berapologi atau karena putus asa. Kirana bisa seperti itu ya sangat wajar karena memiliki orang tua pakar TimTeng dan dosen filsafat. Keluarganya mendukung. Plus memiliki dana untuk mewujudkan gagasan serta projetcnya. Bukannya aku ingin mengutuki hidupku yang terlahir sebagai anak desa, anak petani. Justru di sisi-sisi inilah aku merasakan kehidupan yang lain. Kehidupan yang berbeda dengan kehidupan Kirana. Kehidupan yang satu tidak lebih unggul dari kehidupan yang lain. Tinggal bagaimana kita mensyukuri dan menikmati setiap detak dan detik kehidupan. Em em em. Ngomong apa sih?

Balik ah ke topik utama. Reza. Usianya mungkin belum mencapai belasan tahun. Ia memiliki blog pribadi, tulisannya banyak juga, ingin menulis buku seperti kakaknya, jualan online, dan tertarik sama animasi Jepang. Reza sudah membuat videonya. Kini sedang dicarikan Bu Dina perusahaan yang bisa menampung Reza magang.

Tampilnya bocah-bocah ini di panggung dunia, ah sungguh menyenangkan. Semoga selalu optimis menghadapi segala kemungkinan hidup. Dan selalu tahan banting. Jualannya laris. Bukunya terbit. Amiin. Baik-baik ya Dek…

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

17 April 2017 (23:53)          

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s