Hanya Macet

Kemarin sore aku datang ke PBNU lagi. Pulang setelah Maghrib. Kalau ingin merasakan kemacetan Jakarta, cobalah keluar rumah pada sore hari sampai jam sembilanan malam. Di waktu-waktu itulah, pas sekali untuk sekedar menyaksikan dan mengumpat kemacetan. Psikis kita yang semula baik-baik saja, bisa berubah total. Ngambek, kesel, marah, jengkel, uringan-uringan jadi satu. Hanya orang terpilih lah yang bisa menjaga kewarasan diri. Dan aku sering tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Terpengaruh kemacetan.

Bagaimana tidak jengkel melihat mobil, bajai, basway, motor, mikrolet saling berjejalan di jalan. Bunyi klakson bersaut-sautan saling meninggikan lengkingan. Raut wajah kesal terpancar di setiap orang. Ada juga yang nampak putus asa. Terbaca dari desahan nafasnya, menarik nafas panjang-panjang sembari cemberut, muka kusut.

Perutku mual-mual karena mikrolet yang kutumpangi sebentar-sebentar berhenti. Mengerem secara mendadak. Asap-asap yang dihembuskan segala jenis transportasi menambah kemualanku. Apalagi tempat duduk favoritku telah ditempati orang, bad moodku bertambah sekian persen.

Bagi yang belum pernah mengalaminya, jangan sekali-sekali bilang, “macet aja diributin.” Betapa pernyataan itu akan menyakiti hati orang-orang yang berhadapan dengan kemacetan saban hari. Kecuali kalau orang yang mengemukakan pernyataan tersebut telah selesai dengan kemacetan. Kata Afi Nihaya Faradisa, tiap orang memiliki titik kelemahannya sendiri-sendiri. Ada yang diuji dari sisi percintaan, keluarga, ekonomi, pendidikan, bahkan kemacetan. hahaha.

Saat bisa menertawakan kemacetan, kemacetan terlihat sebagai sesuatu yang menyenangkan. Sensasinya itu lhoo. Kita bisa bersikap demikian ketika kita tidak baper alias terbawa suasana macet. Kita telah mengambil jarak dengan sesuatu yang sedang kita hadapi. Kalau sudah berjarak dengan fenomena, peristiwa, bahkan perasaan apapun, kita bisa berpikir dan bersikap rasional dan jernih. Tidak ikut-ikutan rusuh.

Penumpang yang duduk di bangku dekat pintu turun, memberikanku kesempatan untuk pindah kursi. Aku melongokkan kepalaku dan memandangi serentetan pemandangan yang tersaji dari balik pintu mikrolet. Ahaa, kudapati lampu kota yang memancarkan sinarnya terkena gerimisan hujan. Menciptakan suasana haru-biru. Aku selalu memilih tempat duduk di samping pintu. Kalau ada penumpang lain yang telah bersemayam di singgasanaku terlebih dahulu, aku melabelinya sebagai perebut singgasana. Alai badai. Biar!

Lampu merah di perempatan Matraman adalah puncak kemacetan karena sedang dilakukan pembangunan jalan bawah tanah. Tentu sangat mengganggu perjalanan. Di hari biasa saja macet, apalagi terhambat pekerjaan konstruksi begitu. Macetnya berlipat-lipat. Beberapa petugas lalu lintas menertibkan pengemudi kendaraan. Namun, karena saking banyaknya, petugas itu tidak bisa menguasai dan mengontrol lalu lintas jalan. Kasihan sekali.

Aku turun di dekat jembatan yang menjulang di atas jalan. Aku sedang malas menyeberang dengan berjubelnya kendaraan. Aku memilih jalan yang paling aman meski harus naik dan turun gunung, eh jembatan. Gerimis masih saja menjatuhkan dirinya ke bumi. Aku berjalan lambat-lambat.

Aku mampir di salah satu pedagang kaki lima yang menjual cireng dan kentang goreng. Kentang adalah makanan kesukaan. Kukeluarkan uang lima ribu untuk menebus makanan favoritku. Kentang segitu bisa dihargai lima belas ribu di Taman Ismail Marzuki. Padahal ukurannya sama. Hanya dibedakan oleh bungkusnya saja. Kentang abang PKL dibungkus plastik sedangkan di TIM berbungkus kertas dengan tulisan tertentu. Makan kentang bisa mengobati bad moodku barangkali.

Teman-teman berada di kampus lantaran acara harlah PMII. Aku tidak mampir, langsung terus saja ke asrama. Aku tidak memiliki rasa keterikatan dengan salah satu organisasi pergerakan mahasiswa tertentu. Termasuk juga dengan PMII. Aku menaruh respek pada aktivis dan orang-orang pergerakan yang bergerak di atas jalan pergerakan itu sendiri. Tidak sekedar ikut-ikutan atau gaya-gayaan. Mereka yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Tidak menggunakan organisasinya untuk memperoleh posisi tertentu.

Aku sedang mencari komunitas yang berasas kekeluargaan dan memiliki sesuatu yang diperjuangkan. Tidak hanya grudak-gruduk ngetan-ngulon karena kehilangan daya kritisnya. Ayayaya pop. Mung nulis tok, pengin-pengin tok tanpa benar-benar mencari. Duhdeek

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

19 April 2017 (12:16)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s