Melelahkan sekali mencari alamat ICE BSD. Aku berangkat ke pameran buku terbesar di Indonesia dari rumah Teh Udzoh. Aku kondangan dulu lah yau. Aku sampai di stasiun Tangerang pukul sebelas. Kemudian memesan gojek dengan pembayarang Go-Pay 15.000. Kalau pake tunai mencapai 22.000. Kereta lebih murah dibanding ojek. Aku hanya diam sepanjang perjalanan kecuali sepatah dua patah kata saja yang keluar.

Kami melewati alamat yang kutuju sehingga harus putar balik. Kasihan sekali Abang Gojeknya karena jarak yang jauh. Aku agak nggak tega sehingga sengaja isi saldo dengan melebihi pembayarannya beberapa ribu. Awalnya ingin menghemat dengan mengisi go-Pay, tapi lagi-lagi aku sering merasa tidak tega kepada mereka. Juga ketika naik angkot. Melihat Abang Angkot yang wajahnya legam berminyak, kurus, dan sebagainya, aku harus melebihinya seribu-dua ribu.

Dari rumah Teh Udzoh ke ICE, aku naik-turun angkot sebanyak empat kali. Baru pertama kali ke sana, aku harus lebih rajin bertanya supaya tidak kesasar. ICE terletak di jalan Grand Boulevard, tidak ada angkotan yang mengarah kesana. Kita harus menghentikan taksi atau memesan gojek.

Di angkutan yang terakhir, hujan mulai deras. Jendela mikrolet yang kami tumpangi bocor. Sengaja kumasukkan sendalku ke plastik. Air-air di jalan menggenang, banjir kecil-kecilan. Barangkali air yang mengalir di selokan tumpah ke jalanan. Pengendara lain pada berhenti dan berteduh di halte, pos polisi, dan ruko-ruko. Mikrolet kami tetap melaju dengan lambat. Jalanan terlihat gelap karena hujan dan awan yang menyelimuti. Beberapa kali petir dan kilat beradu suara dan kilatan.

Aku diberhentikan Abang Mikrolet di perempatan lampu merah karena mikroletnya tidak melewati tujuanku. Sebelum turun, aku membuka payungku dan berjalan pelan di depan para peneduh. Aku nyeker dengan pede sambil mengangkat baju dan celana biar tidak basah kuyup.

Di tengah hujan deras, aku bertanya alamat ICE pada polisi yang stay di posnya. Aku menyeberang dan berteduh di halte. Menunggu bus atau mikrolet. Ternyata tidak ada yang menuju ICE. Aku berjalan aja terus sampai pos security yang mengamankan kawasan BSD. Oiya, singkatan BSD adalah Bumi Serpong Damai. Semacam wilayah gitu, kayak Matraman, Menteng, Tebet, dan lain-lain.

Aku mendekat ke pos security dan menanyakan nama tempat yang kupijak. “Lapangan Stunburst,” jawab Pak Security. Aku membuka aplikasi gojek dan menuliskan alamat penjemputan dan alamat tujuan. Keluarlah angka 4K yang harus kubayar dengan go-pay. Oke, klik order Go-ride.

Sebelumnya, aku berjalan kaki dari halte ke pos polisi, pos polisi menyebarng ke halte, dari halte ke pos security. Saat berjalan kaki itu, aku seolah-olah mengasihani diri sendiri. Betapa aku kayak hidup sendirian di muka bumi ini. Jalan kaki nyeker, payungan di tengah-tengah hujan gedhe, dan sendirian. Kayak orang hilang. Hahaha. Aku semakin sendirian dan menyendiri. Meski secara kasat mata aku tidak sendiri, namun hatiku yang merasakan kesendirian itu.

Paling lucu ketika aku tiba di rumah Teh Udzoh. Aku masuk ke halaman resepsi, menulis buku tamu dan menyerahkan kado, menuju pelaminan dan salaman dengan pengantin, lalu makan. Semua itu kulakukan sendirian. Tidak kenal siapa-siapa di sana kecuali Teh Udzoh. Apa asyiknya kondangan sendirian? Setelah makan, poto dengan pengantin, sendirian juga. Bandingkan dengan misalnya, datang ke kondangan bareng teman, secara rame-rame. Kan seru. Lha kemarin itu, tidak ada seru-serunya sama sekali. Blas, lucu dan wagu baget. Lagi-lagi, kayak orang hilang.

Sejak itu, aku mencoba merenungkan perasaanku. Ternyata tidak enak hidup sendiri. Bahkan ketika kita telah mencapai banyak hal seperti jabatan, posisi, popularitas, intelektualitas, duit, karir, dan lain-lain. Pernah memperhatikan Princes Syahrini nggak? Princes inovatif yang mencetuskan latah-latah tertentu. Latah yang di kemudian hari diikuti oleh orang kebanyakan. Di balik hidupnya yang penuh sensasi, terlihat hatinya yang kesepian. Kasihan sekali. Inces, mari kita berdoa seperti ini:

رب لا تذرني فردا وانت خير الوارثين

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

25 April 2017 (13:32)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s