Mas Abah meminta kami untuk menulis sesuai dengan momen. Misalkan Hari Kartini atau Hari Buku Internasional. Meski tidak dekat-dekat amat dengan buku, aku mencoba mencari bahan yang bisa dituliskan. Mencari data dan sumber yang pas untuk Hari Buku. Akhirnya aku mewawancarai pendiri komunitas kampus yang konsen pada literasi.

Sebelum melancarkan beberapa pertanyaan, aku mengkontaknya terlebih dahulu. Akhirnya diputuskan untuk bertemu jam empat di kampus. Aku molor setengah jam, padahal orang yang kuwawancarai adalah dosen yang terkenal tepat waktu. Jadi merasa gimana gitu.

Aku tiba di lantai dua dan berjalan menelusuri lorong-lorong. Beliau sudah berada di ruang pojok. Semula aku ingin mewawancarainya lewat WA atau email. Namun, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan. Kita tidak bisa menangkap kesan dan pesan dari setiap kalimat. Sebaliknhya, kita bisa menangkap ekspresi setiap narasumber menjawab pertanyaan kita secara langsung. Intonasi, penekanan suara, mimik wajah bisa terbaca dan melengkapi bahan kita. Kita bisa mengimprovisasi hal tersebut ke dalam tulisan kita.

Beliau adalah dosen Bahasa Indonesia yang selalu memberikan tugas keren kepada mahasiswanya. Misalkan dengan mewajibkan mahasiswanya untuk membaca novel-novel terbaik dunia yang telah diterjemahkan. Saat mengirimkan WA pun aku berhati-hati, bisa-bisa kita dibaca dari bahasa tulis kita di WA.

Aku sempat minder dan deg-deg an setiap mau wawancara. Soalnya apa? Aku tidak memiliki kecakapan dalam berbahasa lisan. Entah dilihat dari sisi logika berbahasa, artikulasi pengucapan, alur berbicara, serta kepercayaan diri yang cukup. Kemampuanku di bawah standar. Meski demikian, aku tetap seneng saja ketika menyadari bahwa aku akan menggali informasi yang mendalam dari seorang tokoh. Orang yang memiliki kegemaran khusus pada buku-buku. Aku bisa mendapatkan banyak cerita mengenai buku.

Yang paling penting adalah bagaimana aku melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Apakah aku bisa memperoleh informasi yang komprehensif dan prinsipil. Untungnya, aku tidak perlu bertanya dengan kalimat yang panjang-panjang karena narasumbernya menjawab pertanyaanku secara panjang lebar. Aku tidak harus bersusah-susah mencari perbendaharaan cabang pertanyaan. Pak Narasumber dengan ringan kata, menceritakan segalanya. Mengenai sejarah berdirinya komunitas tersebut, tokoh-tokoh yang berkecimpung di dalamnya, perkembangan dan pencapaian yang diperoleh, pentingnya membaca, tantangan membaca di era budaya komentar, tip-tip menulis, dan lain-lain.

Beliau adalah orang yang sabar lagi penuh humor. Ada seseorang yang mengirimkan tulisannya dan Pak Faris yang bertugas mengedit tulisan-tulisan yang masuk. Beliau bilang bahwa beliau merombak semua tulisannya. Artinya, Pak Faris menulis ulang pikiran penulis dengan bahasanya Pak Faris. Pak Faris tidak menyisakan tulisan tersebut sama sekali, kecuali titik dan koma.

Lalu, Pak Faris membagi-bagikan cara khusus untuk seorang penulis yang ingin menulis tulisan yang bagus. Ketiklah ulang tulisan bagus sebanyak-banyaknya. Misalkan kita mengagumi tulisan seorang tokoh, kita mengetik kembali, persis seperti tulisan tokoh. Dari situ kita bisa merasakan menulis tulisan keren. Pak Faris pernah melakukannya terhadap tulisan Sena Gumira Ajidarma. Pak Faris mengetik dan menghapus ketikannya sebanyak sepuluh kali.

Seseorang yang ingin menulis, tidak perlu mengikuti pelatihan-pelatihan menulis. Fondasi menulis adalah membaca. Jadi, kalau kita sudah terbiasa membaca, kita bisa menulis dengan sendirinya. Percuma jika mengadakan pelatihan keterampilan menulis namun tidak dibarengi dengan kompetensi membaca. Hal itu diperumpamakan pak Faris bagai orang yang menggergaji angin. Sia-sia. Atau orang ngomong yang tidak membaca terlebih dahulu, itu seperti tong kosong saja.

Komunitas literasi ini bermula ketika beberapa punggawanya gagal mendirikan LPM di kampus. Kendala utamanya adalah tidak tersedianya konten, tidak ada stok tulisan. Bahkan sampai empat kali mendirikan LPM. Dari situ, pak Faris merenungkan bahwa tantangan tersebut muncul karena tidak ada orang yang terbiasa membaca. Kalau tidak membaca, akan sulit sekali memunculkan ide tulisan. Sehingga pak Faris berkeinginan untuk mendirikan komunitas membaca. Kegiatan rutinnya adalah mendiskusikan satu buku setiap minggunya.

Pak Faris mengakui bahwa anggota Omah Aksoro ini seperti pendekar silat yang kelihatan jagoan ketika dihadapkan dengan pertempuran. Namun, di hari-hari biasa, mereka tidak menonjol dan bersikap secara biasa saja. Nah, ketika berlangsung diskusi, anggota-anggota Omah Aksoro ini baru terlihat kebernasannya. Aku menarik benang simpul, bahwa seseorang yang belum menjadi siapa-siapa saat ini tidak perlu risau dan galau. Yang penting adalah melakukan yang terbaik. Ketika waktunya tiba, kita akan menjadi seseorang dengan sendirinya.

Tidak bisa tembus dapur redaksi sungguh membuatku sedih. Bagaimana tidak? Ibaratnya kita sudah mewawancarai seseorang. Uraian dan penyampaian narasumber berbobot banget. Hanya karena aku belum terlatih mengolah data menjadi sebuah berita, tulisan yang bersubstansi tersebut tidak naik terbit lantaran tulisanku tidak memenuhi standar berita. Barangkali aku sudah terlatih memilih fakta yang subtil dan bernilai. Hanya saja, aku belum mampu mengemasnya dengan bahasa berita yang pas.

Asrama Mahasiswa, matraman Dalam II, Jakarta Pusat

26 April (13:31)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s