Mengkondisikan Buku

Di Jakarta Pusat, keberadaan Perpusnas sangat membantu orang-orang sepertiku. Kampus kami belum memiliki perpustakaan yang cukup representatif. Perpus di dekat TIM, aku belum pernah masuk ke dalam. Hanya mengintip dari jendela. Kurang kerjaan banget kan? Ngintip-ngintip begitu. Sebenarnya banyak tempat nongkrong yang memiliki perpustakaan. Atau perpustakaan yang disetting sebagai tempat nongkrong.

Di awal-awal keberadaanku di sini, aku googling dan mencari referensi perpustakaan-perpustakaan. Memang banyak. Ada Wahid Institute yang ternyata masih dalam proses penataan dan renovasi. Ada Freedom Institute, perpustakaan Prancis, perpustakaan di beberapa kementrian, KITLV, dan lain-lain. Nyatanya, aku baru pernah ke perpusnas, perpus Kemenag, perpus PBNU, dan perpustakaan kampus.

Jakarta sebagai ibukota Indonesia, tentu memiliki banyak keistimewaan. Segala pusat ada di sini. Pemerintahan, bisnis, kesehatan, kemiliteran, pendidikan, dan banyak hal. Tapi siapa pun yang pernah hidup di Jogja, barangkali akan tetap baper dan membandingkan Jogja dengan kota pemerintahan ini.

Perpusnas lebih banyak menyediakan buku-buku lama. Cukup lengkap, termasuk manuskrip, penelitian-penelitian lama (yang ditulis dengan alat ketik manual), dan lain-lain.

Kemarin iseng ke lantai lima, tempat manuskrip-manuskrip. Dua manuskrip yang hendak kulihat-lihat. Hanya melihat, tanpa bisa membaca teksnya. Sungguh tidak mudah lho, biasanya ditulis dalam bahasa dan aksara lokal. Aku senang karena manuskrip-manuskrip itu disimpan dalam tempat yang semestinya. Manuskrip tersebut dibungkus dengan kertas semacam kardus, tebal, dan kokoh. Untuk membuka manuskripnya, kita harus melepas tali bungkus terlebih dahulu.

Manuskrip-manuskrip di Leiden lebih parah lagi. Menurut penuturan Bu Sri, manuskrip di luar negeri diperlakukan seperti bayi. Kalau cuacanya panas, suhu ruangan didinginkan. Kalau cuacanya dingin, suhu ruangannya dihangatkan. Pengaturan suhu tersebut dilakukan untuk menjaga keawetan buku.

Pak Erwin kolektor buku kuno, membubuhkan merica atau rempah-rempah apa (aku lupa) di rak bukunya. Untuk apa say? Biar bukunya tidak cepat rusak. Apalagi di Indonesia yang selalu lembab. Harus dirawat secara khusus.

Aku jadi membayangkan nasib buku-bukuku di rumah yang tidak seberapa. Desaku teramat dingin, lembab. Kan memang berada di lereng pegunungan. Kertas-kertas buku menguning dan kayak basah gitu. Kasihan nggak ada yang merawatnya. Hanya menjadi sarang debu. Besok pas pulang, harus ditata lagi biar rapi sehingga mata ini tidak sepat melihatnya.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

25 April 2017 (12:54)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s