Sepintas Lalu Tentang BBW (Big Bad Wolf)

Aku tiba di ICE BSD jam empat sore. Gedung ICE besar banget, kalau belum terbiasa dengan gedung-gedung menjulang tinggi, akan bingung berada di tempat semacam itu. Setibanya di sana, aku mencari-cari pintu masuk ke tempat pameran. Aku mengamati gerak dan langkah para pengunjung. Setelah memperoleh gambaran, aku mengikuti langkah mereka. Namun aku mending shalat Ashar duluan biar nggak terburu-buru.

Aku shalat di mushalla dan mengecharge hape. Lha kok sudah sore banget. Yasudah, aku maghriban dulu. Aku baru berekspedisi menelusuri buku-buku setelah Maghrib. Aku mengambil trolli dan menyeretnya kesana-kemari. Lama berjalan, tidak ada satu pun buku yang kumasukkan ke dalam troli. Buku itu tidak lolos dalam seleksiku. Proses seleksi mempertimbangkan beberapa aspek seperti harga, bahasa yang digunakan, dan konten bukunya.

Di beberapa rak, aku hanya mendapati buku-buku berbahasa Inggris. Kalau mau tahu apa itu BBW, monggo nyari di internet. Informasinya banyak. Lagian, Google belum tutup. Konon katanya, BBW adalah pameran buku-buku impor atau buku yang ditulis dengan bukan bahasa kita. Tentu aku langsung menghindari buku-buku demikian. Bukunya masih terbilang mahal untuk ukuran kantongku. *Emang punya kantong?

Buku-buku itu sebenarnya buku bagus. Entah ukuran bagusnya diukur dengan tolok ukur seperti apa. Aku hanya mendapatkan gambaran bagus dari artikel-artikel di internet. Buku-buku impor tersebut aslinya berharga mahal. Ketika di BBW, harganya diturunkan beberapa puluh persen. Untung aku belum tahu kalau buku itu buku-buku bagus. Kalau tahu, dijamin duitku habis dan tinggal melongo saja ketika menjalani hari-hariku.

Aku tetap berjalan di ruang pameran, masih mencari peruntungan. Barangkali menemukan buku-buku berharga dan bernilai. Tetap saja tidak menemukan buku dengan harga yang pas. Aku belum cocok dengan harga yang tertempel di plastik sampulnya. Aku masih berjalan lagi dan lagi. Hap. Ketemu deh buku-buku berbahasa kita, bahasa Indonesia. Buku-bukunya sudah agak lama, terbitan Mizan. Yeaayy. Padahal selama ini aku tidak demen mengoleksi novel. Tapi ya rapapa, banyak novel bagus dengan harga sepuluh dua puluh ribu.

Buku-buku sejarah adalah buku yang sebenarnya kuincar. Tapi karena tidak tersedia, aku menurunkan kriteria buku incaranku. Akhirnya aku menemukan buku-buku novel yang berlatar sejarah seperti Arya Penangsang, Putri Paderi, Gajah Mada, Ken Arok, dan lain-lain.

Setelah merasa cukup dengan buku yang penuh di troli, aku meminggirkan troliku. Aku duduk di lantai samping sembari menghitung harga-harga buku yang lolos seleksi. Di kalkulator hape, tertera angka 427.000. Jumlah tersebut melebihi kesanggupan finansialku. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menyortir buku-buku yang akan kubeli. Sebelum ke pameran, seharusnya kita telah menetapkan buku-buku yang benar-benar ingin dibeli. Biar tidak kalap setibanya di tempat pameran.

Ternyata banyak hal yang belum bisa kupahami. Termasuk buku-buku anak yang harganya ratusan ribu. Kok ada ya buku mahal. Kukira semua buku murah harganya. Buku juga memiliki maqamnya sendiri-sendiri. Ada yang untuk rakyat biasa seperti saya. Ada juga yang diperuntukkan bagi kelas middle to up. Apalah saya di jagad perbukuan ini. Masih sama seperti yang dulu. Seseorang yang hidup secara biasa-biasa saja. Termasuk juga hanya bisa membeli buku yang biasa-biasa saja.

Barangkali uang memang menentukan selera. Lihat saja dari barang-barang yang kumiliki seperti baju, buku, dan apa lagi ya? Saya tidak memiliki banyak barang berharga. Tapi saya kira, buku-bukuku mencerminkan isi kantongku. Buku-buku bekas, buku berharga rendah, buku potokopian, ebook pdf, dan sematjamnya. Tidak ada yang bernilai tinggi.

Dan BBW ituh pas banget untuk kalangan berduit. Hahay. Meski begitu, saya sudah puas dengan buku yang ala kadar. Nemu bukunya Pak Prie GS, Pak Hernowo, autobiografi Buya Syafi’i Ma’arif, kiat-kiat menulis, panduan menulis dalam bahasa Indonesia oleh Ainia Prihantini (Santri MJS kah?), Arya penangsang, sejarah perang Bosnia, buku gambar motor untuk dek Uthon, pahlawan dan buku saku matematika untuk Lisa.

Saya mengantongi buku dua plastik yang harus kutenteng sampai Matraman. Kupesan gojek yang akan mengantarkanku sampai stasiun Serpong. Sekira saat itu pukul delapan malam. Jalan-jalan yang kulewati cenderung sepi, gelap, angker, dan menakutkan. Saya merasa sedang memanggil-manggil Tuhan untuk melindungi hidupku. Betapa kita tidak bisa mengetahui hidup kita di menit berikutnya. Duh Gusti, kenapa aku hanya mengingat-Mu di masa-masa sulitku? Ketika aku merasa begitu ketakutan. Apalah hamba yang tidak tahu diri ini.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

25 April 2017 (16:19)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s