Pengen Balik

Aku merasa seperti kembali pada masa keberadaanku di Darut Ta’lim. Masa-masa penuh adaptasi dan tangis. Pertama kalinya hidup terpisah dari orang tua. Semenjak tahun kedua di Darut Ta’lim, aku sudah mulai enjoy dengan hidupku. Tidak begitu sering menangis. Ketergantungan atau keterikatan dengan orang rumah tidak lagi kupersoalkan lagi. Aku mulai terbiasa hidup merantau. Ciee merantau….

Ada Apa???

Tiba-tiba teringat banyak hal yang berhubungan dengan kampus kecilku. Iseng-iseng aku membuka fb beberapa dosen dan staf STAINU. Aku mendapatkan beberapa informasi dan dokumentasi foto saat Pascasarjana STAINU dilaunching. Dosen-dosen yang  telah menghidup-hidupkan suasana keilmuan di kampus. Bu Sri Mulyati, pak Radhar Pancha Dahana, pak Deny Hamdani, pak Ulinuha Husnan, pak Ali Mashar, pak Agus…

Woo Cah Gembeng

Seperti biasa, aku memiliki sedikit urusan dengan salah seorang petugas. Aku mengutarakan maksudku dengan stay cool, biasa saja. Ternyata maksudku berbenturan dengan sistem lembaga tersebut. Benar-benar tidak bisa dikompromikan. Padahal, sebelumnya aku pernah mengalami urusan yang sama, dan itu tidak apa-apa menurut petugasnya. Kali ini petugasnya berbeda, mbaknya masih muda. Aku sudah memohon dengan sangat….

Pejalan

Tadi siang aku dari Thamrin. Pulang ke Matraman via basway. *Ayo naik bus biar gak bikin macet. Aku menaiki basway jurusan Kampung Melayu, nanti turun di halte Matraman. Sebenarnya aku berniat pulang setelah Maghrib, ingin menikmati jalanan malam. Namun aku bergidik sendiri karena tempat persinggahanku sudah mulai sepi. Akhirnya jam empat aku menuju halte Bank…

Udik dan Polos

Aku pulang dari kampus jam setengah tiga. Tadi itu sesuatu banget. Pak Alek mengajari dua mahasiswa saja. Aku dan temanku. Teman-teman yang lain sudah pulang karena mengira pak Alek libur. Pak Alek bertanya mengenai Islam Nusantara kepada temanku. Tiba-tiba, perbendaharaan uneg-unegku keluar semua. Sebelumnya, aku hanya memendamnya sendiri. Memikirkannya dan sering bermain pada tataran spekulasi…

Mengenal Uang

Entah sebab apa, aku sedang malas menulis. Suer dah, rasanya berat banget. Kayak menjadi sesuatu yang nggak penting gitu. Tapi yang namanya malas, memang embuh apa obatnya. Kalau sudah malas, tidak hanya meninggalkan menulis saja. Tugas-tugas lain pun kubiarkan. Harus dipaksa atau akan menumpuk banyak. Jalan saja bro. Semangatt! Rasa-rasanya telah lama aku tidak pernah…

Kenduri Cinta (Takfiri Versus Tamkiri)

Kenduri Cinta diundur tadi malam, malam Selasa. Biasanya digelar pada malam Sabtu. Semula aku akan datang dengan Neli, namun nggak jadi karena Neli baru pulang dari Cikarang dan harus latihan padus. Akhirnya aku datang ke TIM sendirian, diantar Abang Gojek sampai tempat tujuan. Setiba di lokasi, aku berdiri. Celingak-celinguk mencari tempat longgar yang bisa kududuki….

Kak Makmun

Nama kak Makmun sangat familiar di telinga warga Hasyim Asy’ari dan Darut Ta’lim. Sewaktu masih di DT, betapa kak Makmun adalah idola bagi banyak santri. Pintar dan santun. Cerita hidupnya diketahui setiap santri. Ketika aku kelas satu Mts, kak Makmun kelas satu MA. Aku lulus Tsanawiyah bebarengan dengan kelulusan kak Makmun dari MA. Kak Makmun…

Menjadi Minoritas

Pak Deny bercerita bahwa beliau habis mengikuti acara KUPI d Cirebon. Kepanjangan dari Konferensi Ulama Perempuan Indonesia. Beliau bercerita bahwa di sana banyak sekali perempuan. Peserta maupun pembicara laki-laki hanya sedikit. Di tempat itu, Pak Deny merasa menjadi minoritas dan rasanya sungguh tidak enak, malu, kikuk. Seolah-olah salah tempat. Padahal, beliau terbiasa berada di forum-forum…

Aksi Solidaritas untuk Pak Ahok

Aku tak berniat mengikuti aksi tersebut sebelumnya. Aku dan temanku berjalan dari makam Habib Abdurrahman Assegaf di Cikini. Mengantar ziarah pak Maola. Aku belum begitu mengetahui banyak tempat di Jakarta. Pengetahuanku mengenai suatu tempat bertambah ketika ada teman yang memintaku untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Misalkan ke Trans TV menemui mbak Aam. Ke TMII dengan…

Harga Sebuah Apel

Novel ini berkisah tentang seorang presiden yang berangkat dari kediriannya sebagai orang kecil. Novel politik berlatar di negara Pakistan. Negara Islam yang semula menyatu dengan India. Sebelum pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan adalah satu negara. Dua negara yang sama-sama memerangi Inggris yang saat itu menjajah India. Setelah memperoleh kemerdekaannya, dua kelompok agama menginginkan…

Meweekk

Hari Minggu aku melakukan perjanjian dengan Heni untuk mengunjungi mbak Siwi di Bogor. Hal ini kita lakukan untuk menebus dosa karena pada waktu pernikahannya, kita tidak datang ke rumahnya di Kebumen. Akhirnya, kita tetap njagong manten, meski telat banget. Aku dan Heni bersepakat untuk bertemu di stasiun Bojong Gedhe, Bogor. Aku tiba di stasiun tujuan…