Minggu ini harus mempresentasikan dua mata kuliah, matkul Fiqih Nusantara dan Tasawuf Nusantara. Betapa aku sangat menyadari apa yang belum bisa kulakukan sampai saat ini. Berbicara di depan umum dengan penuh meyakinkan. Setidak-tidaknya dengan pembawaan diri yang oke punya. Sampai-sampai, pak Moqsith mengomentariku supaya aku mendapatkan passionku ketika bicara di depan orang. Wkwkwk. Aku paham dengan keadaanku ini. Tapi aku juga sedang mempelajari bagaimana menjadi orang panggung. Meski dalam lingkup terkecil.

Aku kebagian tema hubungan antara tarekat dengan tasawuf yang kemudian ditanggapi pak Izzuddin. Pak Izzudin bertanya kapan, siapa, dan tarekat mulai melekat ke dalam tubuh tasawuf. sebisa-bisaku, aku mencoba menjawab. Ketika mas Reza dan mas Mukhtar selesai menanggapi temanya, giliranku kemudian yang menjawab beberapa pertanyaan. Aku mulai membuka suara ketika beberapa teman gaduh dan berisik. Termasuk juga pak Izzudin.

Aku tidak langsung menegurnya, tapi menunggu beberapa detik sampai pak Izzudin memperhatikan jawabanku yang keluar karena merespon pertanyaannya. Dalam selang beberapa detik itu pak Izzudin tetap tidak memperhatikanku yang menjawab pertanyaannya. Malahan asyik memainkan hape sembari senyum-senyum.

“Pak Izzudin,” suaraku melengking galak yang menyebabkan tawa teman-teman bergemuruh. Aku juga nggak tahu kalau responku terhadap pak Izzudin akan sedemikian sadisnya. Seperti biasa, teman-teman langsung menciptakan suasana gaduh beberapa kali lipat. Mereka bilang bahwa suamiku kelak adalah seorang wali karena mampu melewati ujian kegalakan dan kecerewetanku. Akibat kemarin pak Moqsith bercerita mengenai kiai-kiai kharismatik yang memiliki istri galak. Kalau mendapatkan istri galak, ada potensi untuk menjadi wali karena telah melalui suatu ujian hidup. Sabar.

Teman-teman juga tak menyangka kalau aku akan bereaksi selebai itu. Tentu mereka kaget melihatku yang selama ini tidak banyak bertingkah dan kalem. Sekalinya membuka suara, kayak singa kelaparan. Wkwkwk. Bu Sri sampai ikut tersenyum. Setelah usai mata kuliah bu Sri, mas Haidir lagi-lagi bawel dan mengejekku, tak menyangka kalau aku bisa galak juga. Hahaha. Emang gue pikiriin.

Dua minggu presentasi lima mata kuliah bukanlah perkara mudah bagiku. Tidurku tidak bisa senyenyak hari biasa. Kepalaku nyut-nyutan. Padahal aku sudah bosan ngomong di depan orang. Aku hanya ingin diam menyimak. Justru kalau kita ingin menghindari suatu hal, kita akan dipertemukan dengan hal-hal yang ingin kita hindari.

Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, aku akan merindukan Sabtu sore. Ketika kuliah terakhir usai dan teman-teman akan bertolak ke rumahnya masing-masing. Menjalani hidup dan kembali pada kesehariannya. *Karena kita juga sadar bahwa hidup tidak hanya Islam Nusantara, STAINU, dan lantai empat. Ketika melihat teman-teman berkemas dan terburu-buru pulang, hatiku bolong. Kami saling berpamitan pulang dan akan berjumpa seminggu kemudian.

Aku merasa seperti murid sekolah kapal di film Teacher’s Diary. Murid-murid dari sekolah kapal menginap di sekolahnya. Saat liburan hari Minggu, mereka dijemput orang tuanya dengan perahu diesel.

Akhir-akhir ini, paska demo berjilid-jilid, di kelas sering terjadi ledek-ledekan masalah nama. Nama-nama temen kami dirubah atau dibubuhi nama-nama tokoh yang terlibat dalam demo atasnama agama itu. Ikin Bamukmin, Gilang Basalamah (Gilang Gumilang, Gilang Bermasalah), akhi Izzudin, akhi Reza. Panggilan akhi atau teriakan Allahu Akbar tidak lagi serem. Padahal, dulu aku sering merasa risih kalau ada yang memanggil saudaranya dengan panggilan yang kearab-araban. Sekarang, istilah-istilah yang populer di salah satu komunitas menjadi istilah lucu di kelas kami. Dasar pada suka ngebanyol sih.

Kalau diskusi berjalan serius pada awalnya, ketika sudah muncul kata akhi, Bamukmin, perwakilan FPI, orangnya Anis, dll, diskusi bubar seketika oleh tawa kami.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

01 April 2017 (10:31)         

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s