Jumpa Pers

Bagaimana seseorang mendatangi acara jumpa pers dengan tujuan untuk memperoleh informasi baru. Atau menjadi semacam ruang berdialektika. Bisa-bisa saja sih sebenarnya. Hanya saja, ia bakalan berbeda dengan hadirin lain yang sangat siap untuk meliput. Hadirin lain membawa kamera besar, alat shooting, buku catatan, seragam media, kartu identitas dari medianya, alat perekam, dan hal-hal serupa.

Dari penampilan luar saja ia sudah sangat berbeda. Apa yang ia cari di acara-acara seperti itu? Ada beberapa hal yang mendorongnya untuk mendatangi jumpa pers. Pertama, ia penasaran dengan tokoh yang akan berbicara di acara jumpa pers. Kedua, ia tergerakkan isu yang menjadi tema jumpa pers. Ketiga, ia hanya ingin datang. Tertarik begitu saja.

Ketika datang sendirian, ia ditanya panitia regristasi. Sebenarnya ia bingung saat menuliskan identitas di kertas daftar hadir. Ia harus menulis dari media mana di kolom media. Ketika ditanya panitia apakah ia sendirian saja, ia nampak ragu menjawab. Agaknya, ia harus lekas terbiasa dengan muka tembok. Tidak perlu begitu mempedulikan orang lain. Ia juga berhak mendapatkan informasi tersebut dong.

Terpaksa ia menulis salah satu nama media di kertas daftar hadir. Ia merasa cemas dan was-was. lha wong ia tidak ditugaskan media tersebut. Juga tidak mewakili media tersebut. Bisanya ia mengatasnamakan media kelompoknya. Padahal, di media kelompoknya, ia hanyalah pendatang baru yang masih sangat awam dengan segala dunia pemberitaan. Media yang dirujuknya bukanlah media nasional. Dengan begitu, ia merasa aneh dengan apa yang dilakukannya. Sangat konyol.

Bahkan, media bernaungnya adalah media yang mengabarkan berita-berita keagamaan kelompoknya. Kemungkinan kecil jika para kontributor maupun jurnalisnya melakukan liputan di acara-acara seperti peringatan hardiknas, kasus Kendeng, dan isu-isu nasional lain. Barangkali, konsen medianya berbeda dengan media-media nasional.

Ia mendapati wartawan dari TV One, Metro TV, rTV, SCTV, Jawa Post, Kompas, dan lain-lain. Ia mencoba menyelami bahwa wartawan-wartawan yang ditemuinya adalah orang-orang keren dengan ukurannya masing-masing. Mereka bisa seperti itu tentu melalui proses yang panjang. Apalagi dunia kerja di Jakarta memiliki tantangannya sendiri. Ia pernah mendapatkan cerita dari salah seorang jurnalis media online yang ditolak oleh beberapa media. Ia juga pernah mengantar salah satu temannya ke sebuah gedung media di Mampang Prapatan.

Apalah ia di antara jagad media. Hanya remahan rengginang. Hahaha. Pada akhirnya, ia belajar dan mengamati bagaimana orang-orang menyampaikan gagasannya. Tak luput pula bagaimana ia memperhatikan wartawan-wartawan itu mewawancarai narasumber.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

02 Mei 2017 (21:16)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s