Njean dan Keterkungkunganku pada Zaman Baheula

Njean adalah salah satu desa   yang memiliki kedekatan denganku. Saat kecil, aku termasuk jenis bocah yang mudah diajak menginap di rumah saudara. Bahkan betah tinggal di rumah simbah (dari pihak Bapak) selama seminggu. Simbah dekat rumah (dari pihak Mamak) sampai bilang aku mondok jika beberapa hari tidak berada di rumah. Aku mondok di rumah simbah yang letaknya di dekat sekolahku.

Aku pernah menginap di rumah simbah, makdhe Rip, kak Edi, makdhe Marmi, mbak Ru, makdhe Rudi, dan lain-lain. Pasalnya, setelah menginap, aku diberi uang oleh mereka yang kutumpangi tidur. Istilah orang rumah, diburohi (diberi upah). Kalau dipikir-pikir lagi, rasanya kok lucu. Orang yang menginap dikasih uang. Harusnya kan membayar tempat menginap.

Makdhe Marmi adalah kakak Mamak yang mendapat suami orang Njean. Desa Njean merupakan desa kecil yang berada di pedalaman, seperti desaku. Meski tetangga desa, desaku dan desa Njean berbeda kecamatan. Njean ikut kecamatan Keling, sedangkan desa Sumanding berada di bawah kecamatan Kembang.

Saat motor masih menjadi barang mewah di desa, jarang sekali yang memiliki sepeda motor. Hanya segelintir saja. Aku, mbah putri, dan kak Edi berjalan kaki menuju desa Njean. Kami melewati desa Sumanding bagian timur (kampung wetan). Meninggalkan perkampungan dan memasuki area persawahan. Kami harus menyeberangi dua sungai. Dan tahukah kau bagaimana sensasinya ketika menyeberangi sungai? Seperti orang yang memasrahkan nasib hidupnya karena air sungai mengalir deras. Kami takut mendengar suara air yang terlampau kencang.

Kami bertiga hendak berkunjung ke rumah makdhe Marmi yang memiliki cucu baru. Hamim namanya, anaknya mbak Har. Dalam momen-momen lain, keluarga Sumanding berbondong-bondong jalan kaki ke Njean ketika makdhe Marmi memiliki hajatan. Entah itu nikahin kedua anaknya, lahiran cucunya, sunatan cucunya, atau hajatan-hajatan yang lain.

Aku tidak tahu persis berapa waktu yang harus ditempuh dari Sumanding ke Njean. Yang jelas, jarak kedua desa itu tidak dekat. Cukup membuat lelah karena harus melalui jalan terjal, berbatu, licin, pematang sawah, sungai, dan sematjamnya.

Ketika zaman telah bergerak cepat, setiap orang menggunakan alat transportasi menuju tempat-tempat jauh. Termasuk ke Njean. Dan aku berada di posisi mana? Aku belum bergerak mengikuti zaman. Bahkan, aku masih berada di zaman lama, masa ketika aku masih kanak-kanak. Bukti bahwa aku tidak bergerak adalah pola pikir, cara pandang, dan lakuku saat ini yang penuh romantisisme masa lampau. Aku selalu mendamba-dambakan zaman ideal yang kutemui di masa lalu. Aku belum bisa mendamaikan waktu, tempat, dan perubahan zaman.

Meski ragaku telah bergerak kesana kemari, semesta pikiranku tidak ikut bergerak. Bahkan aku melakukan resistensi terhadap hal-hal baru di kota-kota yang kusinggahi. Aku memang keras kepala. Bwahaha. Salah satu contohnya ketika aku sudah hidup di Jogja, lalu aku pulang ke rumah. Aku mengajak kak Edi untuk bermain ke Njean dengan jalan kaki. Jelas jawaban penolakan yang kuperoleh. Makdhe Edi sampai menertawakan ideku. Mamak Juga bilang “saiki wes gak ono wong mlaku, kecuali wong-wong tuo koyo mbahmu.”

Njean adalah desa yang menurutku, ketinggalan. Entah atas dasar apa aku menilainya demikian. Anak yang bersekolah sedikit, demikian juga yang belajar di pesantren. Kasus-kasus yang muncul dalam kehidupan orang Njean masih mistik. Sama seperti kasus di desaku yang pernah kutemui saat aku masih MI. Sekolahan di sana nampaknya ala kadar. Hanya ada satu sekolah. Entah TPQ nya ada berapa.

Meski desa kami bertetangga, dialek orang Njean lebih mendekati dialek orang wetanan (Keling).

Lama sekali aku tidak bermain ke rumah saudara-saudaraku. Kemarin Bapak mengantarkanku bermain ke Njean. Mamak membawakanku gula yang harus kuserahkan pada makdhe Marmi. Aku diminta Bapak membeli jajanan chiki-chiki untuk anak barunya mbak Har. Namanya Sheli kalau tidak salah.

Di sepanjang perjalanan, aku mengingat-ingat beberapa tempat yang masih tersimpan dalam memoriku. Tentang rumah pertama yang kami temui setelah persawahan dan pepohonan. Letaknya berada di dekat sungai. Ternyata itu rumah adik simbah kakung (Allah yarham). Aku pernah diajak mbah putri mampir di sana. Sungguh, itu adalah kehidupan yang sangat sederhana.

Aku tiba di rumah makdhe Marmi sekitar pukul setengah lima. Makdhe Marmi sedang menggoreng kopi, mbak Har memasak, Hamim mencuci motor, Afif santai-santai, pakdhe duduk-duduk di rumah, Sherli baru pulang dari TPQ, mbak Sol ikut nimbrung di rumah makdhe. Mereka menyambutku sedemikian rupa gara-gara aku jarang sekali bermain. Keponakan durhaka.

Aku menanyakan keberadaan pemuda yang dulunya menggangguku di kala aku bermain di Njean. Aku sungguh ketakutan dengan pemuda tersebut. Ternyata pemuda itu masih saudaranya makdhe Marmi. Aku ngumpet di kamar makdhe dengan mbak Har dan mbak Sol. Mbak sepupuku membelikan permen yang pegangannya berupa pohon di rumah tetangganya.

Njean. Kehidupan yang terlampau sederhana. Namun, seiring pergerakan masa, ia turut pula bergerak. Aku egois dengan mengutuki zaman, namun menikmatinya pula. Lebih sederhana lagi adalah desa Nduplak yang terletak di antara gunung-gunung. Kehidupan mereka terisolasi dari dunia luar. Kabar terakhir yang kudengar, anak-anak mudanya banyak yang belajar ke Sirahan. Salah satu sekolah di Cluwak, Pati. Almamater Bapak.

Aku berpamitan pada keluarga Njeanku. Mbak Sol memberiku sepatu dan jam. Mereka semua adalah keluarga yang dermawan, meski keadaan mereka sedang sulit. Hiks. Jadi kangen makdhe Marmi yang selalu menciumiku ketika berjumpa. Makdhe memaksaku menerima uangnya. Mbak Sol juga. Di umurku yang sudah tua begini, aku masih menerima, belum bisa memberi.

Kenapa Bapak bersemangat sekali mengantarkanku ke Njean? Padahal beliau baru pulang dari sawah. Bapak memaksaku cepat bergegas dan bersiap-siap. Bapak menyadari betul bahwa keluarga Njeanku sangat menyayangiku.

Ya Allah, betapa kasih sayang-Mu tidak hanya diperuntukkan bagi orang kota bergelimang harta, berkedudukan tinggi, artis-artis ternama, tokoh-tokoh besar, kota-kota maju dan terdidik, kalangan elit, orang partai, sosialita, dst. Ada bentuk kasih-Mu yang lain di desa Njean. Berkahilah penduduknya Gusti.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

03 Mei 2017 (1:20)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s