Timur dan Barat Jawa

Tim Paduan Suara Qatrunnada mendapatkan job lagi di acara HPN hari ini. Aku yang tidak termasuk anggota tim Padus, diminta Neli ikut ke Ciganjur untuk gladi resik karena anak-anak yang lain sedang tidak bisa. Aku sudah membayangkan hal yang tidak-tidak. Aku tidak pernah ikut latihan, tidak hafal lagu hubbul wathon, dan tidak terbiasa tampil di panggung, tentu akan kesulitan kalau ikut gladi resik. Jadi membayangkan kalau aku hanya lipsing saja. Membuka mulut tanpa bersuara.

Selain itu, aku juga sedang mencatat pesanan kerudung teman-teman. Kan bakul pemula olshop. Kalau berangkat ke Ciganjur, bagaimana nasib bakulanku. Ternyata, tugas mencatat dan meneliti barang pesanan sudah selesai. Akhirnya aku mengiyakan ajakan Neli. Bukan karena apa-apa, hanya merasa kasihan pada Padus anyar itu. Karena masih baru, anggotanya belum bisa berjalan dan beriringan secara kompak. Hanya itu-itu saja yang latihan. Kalau padusnya mau dibesarkan, sekalian aja dibesarkan. Ada potensinya kok asal konsisten berlatih saja. Selain itu, acara PBNU banyak banget. PBNU adalah jembatan menuju undangan-undangan manggung.

Apalagi, PBNU adalah lembaga besar. Suaranya didengarkan pemerintah. Akan ada banyak job di acara-acara besar yang didatangi pak Jokowi. Seperti hari ini, pak Jokowi dijadwalkan akan menghadiri acaranya. Nah kan? Peluang untuk menjadi tim padus besar sangat besar.

Jadi teringat padus Gita Savana UIN Sunan Kalijaga. Tim ini telah manggung dimana-mana. Performnya sangat bagus. Pernah menjuarai beberapa event. Penampilannya asyik, tidak monoton. Tapi mungkin karena tim ini tidak berada di ibukota, untuk menjadi besar, perlu upaya yang serius. Di satu sisi, kualitasnya memang oke punya. Namun, tidak memiliki akses untuk masuk ke acara-acara pemerintah.

Di sinilah aku melihat perbedaan Jakarta dengan Jogja. Jogja adalah kota yang memiliki kekuatan/tenaga “dalam” yang terdiri dari intelektualitas, daya pikir, penulis, bacaan-bacaan, buku-buku, penerbit, toko buku, tempat-tempat berdialektika, budaya, dan lain-lain. Bandingkan dengan Jakarta yang terlalu sibuk dengan urusan teknis-birokratis. Untuk menjadi “seseorang,” kukira Jakarta memberikan kemudahan untuk siapa saja yang memiliki tekad kuat. Namun, Jakarta tidak pas untuk menjadi tempat belajar S1 ke bawah. Tidak bisa fokus dengan belajarnya kecuali beberapa orang saja.

Aku pernah mampir di salah satu pondok pesantren milik kiai besar di Jakarta. Meski adem berada di lingkungan pesantren, pesantren Jakarta tetaplah berbeda dengan pesantren-pesantren di Jawa. Aku mencoba melihat ke masa laluku di Darut Ta’lim. Ada mbak-mbak yang nderes, santri-santri Diniyah yang menghafalkan nadzam-nadzam, dan lain-lain. Nuansa itu sangat kuat sekali. El, kutanya padamu, pernahkah kau mendengar pepatah “lain ladang, lain belalang. Lain lubuk, lain ikannya?” Kalau mendengar sih pernah. Paham maksudnya juga. Lha kok? Kenapa selalu membanding-bandingkan? Jangan sewot gitu dong. Kan mencoba mengidentifikasi ciri khas dari masing-masing kota. Halah ngeleess. Padahal karena memang belum bisa mengarifi setiap tempat.

Ibu mbak A’yun pernah melarang adiknya yang ingin kuliah di Jakarta. Kata beliau, “kalau mau belajar ya carilah ke timur. Kalau mau nyari uang ya carilah ke barat”. Artinya. Jawa Tengah dan Jawa Timuran adalah tempat yang cocok untuk belajar. Namun, kalau mau bekerja, merantau ke Jawa Barat dan Jakarta adalah pilihan tepat.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

05 Mei 2017 (11:31)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s