Meweekk

Hari Minggu aku melakukan perjanjian dengan Heni untuk mengunjungi mbak Siwi di Bogor. Hal ini kita lakukan untuk menebus dosa karena pada waktu pernikahannya, kita tidak datang ke rumahnya di Kebumen. Akhirnya, kita tetap njagong manten, meski telat banget. Aku dan Heni bersepakat untuk bertemu di stasiun Bojong Gedhe, Bogor.

Aku tiba di stasiun tujuan sekitar jam 11 siang. Saat itu, Heni bilang kalau ia belum mendapat kereta. Artinya, ia belum melakukan perjalanan menuju Bogor. Heni masih berada di Tangerang. Padahal, Jakpus ke Bogor membutuhkan waktu satu jam. Sedangkan dari Tangerang ke Jakpus, lebih dari satu jam. Mau tidak mau, aku harus menunggui Heni selama dua jam lebih di stasiun.

Aku juga bingung mau ngapain dalam waktu yang tidak sebentar itu. Membaca buku, mengamati orang-orang yang berlalu lalang, menonton video, membuka-buka galeri, ngecek facebook, mengintip wa, pergi ke toilet, mondar-mandir, dan lain sebagainya. Aku sampai bosan sendiri di stasiun. Terlebih, aku sangat pusing melihat kereta yang juga ikut mondar-mandir dari arah Bogor menuju Jakarta Kota. Begitu juga sebaliknya. Kereta-kereta listrik itu berada di depanku persis, melewatiku tanpa permisi. Aku duduk delengsotan di sebuah besi bangunan. Setia menunggu Heni. Aku pindah di tempat yang ada rumput-rumputnya. Sebentar kemudian, aku mencium bau tak sedap. Sengak-sengak gimana gitu. Lha kok ternyata aku berada di dekat tempat sampah. Huweek.

Kebetulan sinyal hapeku tidak begitu kuat sehingga menyebabkan komunikasiku dengan Heni tidak lancar. Kutanya Heni berada di stasiun mana. Ia tidak menjawab karena mungkin masih sangat jauh. Kuteror Heni dengan berbagai macam pertanyaan. Kenapa ia tidak lekas sampai, ia berada di mana sih, dst. Tak lupa pula, aku mengancamnya kalau turun dari kereta, ia akan kuporak-porandakan.

Waktu berjalan sangat lambat. Dari jam 11, 12, 13, 14, dan 14.30. Dalam rentang waktu itu, Heni belum sampai juga ternyata. Kutakut-takuti kalau aku akan meninggalkannya ke rumah mbak Siwi duluan. Meninggalkannya begitu saja. Ia memintaku supaya aku menunggunya. Heni bilang kalau tinggal empat stasiun lagi menuju stasiun Bojong Gedhe. Sengaja aku melebaikan smsku. *Hari gini masih pakai sms? iya, soalnya mbak Siwi dan Heni adalah orang langka yang masih menggunakan layanan sms. Aku menulis sms demikian, “Aku tak neng gone mbak Siwi sek yo, aku wes koyo gak kuat sabar ngenteni kowe.”

Smsku yang lebai dan bercanda itu ditanggapi Heni secara serius. Dasar tidak bisa diajak bercanda sih. Aku sudah dongkol setengah mati karena menunggu terlalu lama. Aku berdiri dan mendekat ke setiap kereta yang berhenti. Mencari orang yang bernama Heni. Karena kesalku sudah di ubun-ubun, aku merencanakan suatu pembalasan terhadap Heni. Sepanjang penantian itu, ia terus-terusan memintaku sabar. “Ngomong sabar encen penak,” jawabku.

Aku sudah merancang suatu hal dahsyat sebagai pelampiasan atas kekesalanku. Begitu Heni turun dari stasiun, aku akan meneriaki namanya dengan keras biar orang-orang melihat ke arahnya. Supaya apa? untuk mempermalukan Heni di depan umum. Ketika ia telah mendengar teriakanku, aku akan menghantamkan botol minumku ke badannya. Atau menempeleng kepalanya. Bisa juga mencubit dan menggeplak setiap badannya. Aku sudah mempersiapkan kosakata yang paling buruk untuk memaki-makinya.

Semua sudah kupersiapkan dengan sempurna. Aku akan menganiaya Heni dengan memintanya membelikanku roti maryam yang paling mahal. Juga membelikanku berbagai makanan yang lain. Mukaku sudah kecut, suram, bermuram durja. Aku sungguh tak bisa percaya bahwa pertemuanku dengan Heni untuk yang pertama kalinya harus dengan jalan demikian. Jalan yang sungguh memuakkan.

Kalau saja rencanaku bisa kujalankan dengan baik, tentu itu akan mengobati kekesalan dan kekecewaanku karena menunggu dalam waktu yang sangat lama. Tiba-tiba, di jam 14.30, ada sms masuk dari mbak Siwi. Mengabarkan bahwa Heni sudah sampai di rumahnya. Seketika air mataku dleweran jatuh. Aku menangis dengan sebab yang teramat remeh. Akumulasi dari kekecewaan dan rencana pembalasan yang tidak tersalurkan sungguh membuat emosiku tak karu-karuan. Aku terduduk lagi, menangis tanpa sebab pasti.   Nggonduk dan nyesek. Aku menunggunya di stasiun selama tiga jam lebih, dan ia meninggalkanku begitu saja?? Sungguh ia adalah teman yang teramat baik. Itu semacam perasaan dikhianati. Kenapa pengorbananku tidak mendapat penghargaan yang setara darinya. *Eciieee.

Di saat menangis sesengukan, sempat-sempatnya ada ibu-ibu yang bertanya mengenai kereta jurusan Bogor. Kujawab “iya” dengan setengah hati. Ibu-ibu itu telah mengganggu ritual menangisku. Kalau saja aku bisa membalas dendamku, tentu aku tidak akan secengeng ini. Tapi yasudah lah. Kuakui, menangisku kemarin sangat lebai dan dramatis. Tidak biasanya aku menangis dengan lancar begitu. Biasanya hanya mrembeh-mrembeh tanpa mengeluarkan air apapun. Lha kemarin itu, sungguh sangat menyesakkan dada. Pertahanku jebol. Keluarlah seluruh air mata.

Menyadari bahwa aku belum sampai di rumah mbak Siwi, Heni merasa sangat bersalah padaku. Heni meminta mbak Siwi supaya mencariku di stasiun. Beberapa kali ia mengirimkan pesan lewat sms dan wa. Aku hanya menjawabnya dengan jawaban yang sama. “Gundul,” ulangku beberapa kali karena saking kesalnya.

Melihat mbak Siwi di pintu masuk, aku semakin menangis. Mukaku sudah nggak jelas. Nggak ke utara atau selatan. Aku tak bisa lagi mendeskripsikan perasaanku dengan kosakata apalagi. Jelas antara sedih, kecewa, jengkel, dan lucu. Di sepanjang perjalanan dibonceng mbak Siwi, aku tak sanggup berkata-kata lagi. Aku tidak bisa menjawab pertanyaan mbak Siwi dengan kalimat-kalimat panjang. Rasa-rasanya sudah lama aku tidak menangis. Dan menangisku kemarin sungguh sangat dahsyat. Aku baru menyadarinya kalau aku pernah menangis sedemikian kencangnya, dahulu kala. Terakhir entah kapan. Aku tidak sanggup mengingatnya karena sudah terlalu lama.

Setiba di rumah mbak Siwi, aku masih ngambek sama Heni dan ogah melihat wajahnya. Kata-kata penuh amarah keluar lagi dari mulutku. Namun, amarahku sudah tidak begitu menggebu karena aku juga capek. Tak berdaya dan tidak bertenaga lagi untuk menambah kadar kemarahanku. Bagaimana nggak lelah dengan penantian yang tak kunjung datang, segerombol perasaan menyiksa, dan menangis telah menguras energiku. Yasudahlah. Heni hanya diam karena ia juga telah menyalahkan dirinya sendiri. Kasiaaan. haha

Aku baru tahu kalau menuju Bogor, Heni menempuh perjalanan yang tidak mudah. Dari tempatnya ke stasiun jauh, habis itu transit dan menunggu kereta yang juga tidak kunjung datang. Aku benar-benar merasa gimana gitu (agak merasa bersalah, agak lho yaa) ketika tahu bahwa Heni tidak bisa pulang ke tempatnya setelah jam delapan malam lebih. Tidak ada bis yang mengangkutnya sampai sana. Berbeda dengan Jakarta Pusat yang sampai jam berapa pun, kita tidak perlu khawatir akan ketinggalan transportasi. Lagian, Heni juga tidak memiliki aplikasi ojek online. Kusarankan ia supaya menginstall aplikasi tersebut supaya hidupnya tidak sulit-sulit amat.  Aku sangat tahu bagaimana tidak bisa mengakses transportasi yang bisa mengangkutku sampai ke rumah karena desaku adalah salah satu desa pelosok di Jepara.

Akhirnya Heni turun di Manggarai, mengikutiku yang turun di Manggarai. Sekeluarnya dari stasiun, Heni nyeletuk kalau ia pingin jalan-jalan. Sebelumnya, kutawarkan apakah ia pengen jalan kaki atau nak bajai menuju Matraman. Hampir setahun hidup di jabodetabek, ternyata Heni belum pernah berlabuh kemana-mana. Kuajaklah ia ke Kota Tua karena tempat itu memiliki nuansa dan suasana yang Jogja banget. Seperti nol kilometernya Malioboro gitu. Sedatar-datarnya hidupku, ternyata ada yang lebih datar lagi. Itulah hidup Heni selama ini. *wek wek

Kami duduk-duduk saja di Kota Tua, memperbincangkan banyak hal mengenai hidup Heni dan juga hidupku. Bertukar kabar dan bicara dari hati ke hati karena kami juga nggak tahu kapan terakhir kita bertemu.

Kami pulang jam setangah sebelas kurang. Menunggu peruntungan bus way yang bisa kami tumpangi sampai Matraman. Halte tutup jam sebelas malam sehingga kami ketar-ketir kalau-kalau sudah tidak mendapat bus way lagi. Kami berlari-lari di halte Dukuh Atas, mencari busway tujuan Pulogadung. Sekian lama menunggu, bus datang jam sebelas lebih. Syukurlah bisa pulang dengan selamat. Heni bilang bahwa orang-orang Jakarta tidak bisa santai ketika ia melihat orang-orang berlari-lari di halte mengejar busway.

Meski lama tidak bertemu, Heni masih seperti yang dulu. Mudah tidur. Beberapa kali transit dan masuk busway yang berbeda, ia sudah merem duluan. Padahal, busnya belum berjalan. Sampai-sampai kepalanya menghantam keras ke kursi. Kuminta ia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi busway. Dari pada kepalanya bergoyang-goyang dan tidak seimbang sehingga bisa mengakibatkan kepalanya terjatuh-bangun, lebih baik ia memposisikan dirinya dengan baik dan benar. Untuk kepentingan bersama. Kalau kepalanya kejedot, tidak hanya ia yang menanggung malu. Aku selaku teman seperjalannya juga malu kalii diliatin orang-orang. Hahaha

 

Halte Harmoni, Jakarta

08 Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s