Aksi Solidaritas untuk Pak Ahok

Aku tak berniat mengikuti aksi tersebut sebelumnya. Aku dan temanku berjalan dari makam Habib Abdurrahman Assegaf di Cikini. Mengantar ziarah pak Maola. Aku belum begitu mengetahui banyak tempat di Jakarta. Pengetahuanku mengenai suatu tempat bertambah ketika ada teman yang memintaku untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Misalkan ke Trans TV menemui mbak Aam. Ke TMII dengan dek Fiqih. Ke UI dengan Opret dan ke Makam Habib di Cikini dengan pak Maola.

Waktu itu sudah sore, sekitar jam lima. Selesai ziarah ketika Maghrib telah dekat. Pak Maola sekalian menunggu maghriban. Kami berjalan ke Matraman setelah Maghrib. Berjalan kaki di sepanjang jalan Cikini. Kendaraan masih berdesak-desakan. Maklum, jam pulang kerja. Lalu kami sampai di Tugu Proklamasi. Aku baru ingat kalau malam itu (10 Mei 2017) ada acara aksi solidaritas untuk pak Ahok karena vonis penjara yang dijatuhkan selama dua tahun.

Aku mengajak pak Maola untuk mampir ke acara itu. Kami tidak langsung mendekat ke panggung. Kami duduk-duduk beristirahat, minum dan menikmati es krim. Duh enaknyaa, apalagi gratisan begitu. Pak Maola tidak ingin merangsek ke barisan depan. Namun, setelah kami mendengar salah satu nama tokoh NU disebut, kami langsung tergerak ke depan. Mencari tempat yang nyaman. Kami berdiri dengan peserta lain. Setelah sekian lama berdiri, kami duduk dengan khidmat. Mendengarkan beberapa tokoh berorasi.

Nama yang sudah kukenal adalah bu Henny Supolo, tokoh pendidikan Indonesia. Tsamara Amany, politisi muda. Aku sudah menuliskan sedikit mengenai sosoknya di halaman sebelumnya. Aku senang bisa berjumpa dengan Tsamara, meski dari jarak jauh. Ia amat emosional sekali atas penahanan pak Ahok. Kelihatan dari orasinya yang terlalu cepat dan menggebu-gebu, ia seperti menahan tangisnya. Tsamara bilang bahwa meski keadilan telah redup, cahaya purnama masih tetap bersinar. Cahaya purnama bisa diartikan dengan dua makna. Pertama, cahaya bulan purnama yang malam itu memang bersinar terang. Kedua, pak Ahok yang memang namanya Cahaya Purnama. Meski satu Ahok telah ditenggelamkan, akan ada Ahok-Ahok lain yang akan muncul.

Selain bu Henny dan Tsamara, ada Gus Nuril juga. Beliau memimpin doa sesuai agama Islam. Sebelum berdoa, Gus Nuril menyampaikan beberapa patah kata yang intinya beliau membela pak Ahok karena diperlakukan secara dzalim. Beliau menganggap pak Ahok sebagai adik angkat Gus Nuril.

Banyak media yang meliput. Aku melihat bahwa pembawa acara itu pura-pura berbicara. Karena tidak mungkin dalam kerumunan massa, suaranya akan terdengar. Pembawa berita hanya membuka mulutnya secara lebar seolah mereka bicara. Nah, nanti tinggal diisi oleh suara lain atau suaranya sendiri ketika disiarkan di televisi.

Bisa dikatakan, aku pernah mengikuti dua aksi yang dilakukan oleh dua belah pihak yang berperang dingin. Pihak FPI cs dengan pihak Silent Majority. Masya Allah, ini hanya kesan pribadiku. Di aksi empat November, aku memang berada di antara saudaraku sendiri yang muslim. Tapi entahlah. Ujaran mereka sangat kasar dan membuat telinga sakit. Ngeri sendiri mendengarnya. Seolah mereka tidak bisa mengendalikan nafsu dan emosinya. Kenapa sedemikian marahnya kepada orang lain? Di Indonesia mengakui enam agama, tapi mengapa mereka ingin menafikan agama lain? Bukankah hal tersebut sudah menyalahi prinsip dasar sebagai warga negara Indonesia?

Banyak hal menarik yang kudapatkan di acara malam itu. Aku lupa siapa saja yang menyampaikan pesan-pesan kebaikan itu. Diantaranya adalah kalah dan menang hanyalah situasional, namun watak pemenang dan pecunang adalah alami dan selalu melekat. Bisa jadi, orang yang menang bukanlah pemenang sesungguhnya. Karena apa? Sudah menang, namun masih menginginkan dan meminta lebih dari apa yang semestinya mereka terima.

Kelompok lain yang berperan dalam hal ini adalah keompok yang galak dan penuh kebencian. Namun, kata salah seorang tokoh, kita tidak boleh melawan kebencian dengan kebencian. Kita harus menggunakan metode cinta untuk membendung arus kebencian. Ada beberapa orang yang berseloroh untuk menangkap dan memenjarakan Habib Riziq. Gus Nuril mengatakan bahwa gerakan cinta tidak mengenal ujaran-ujaran kasar. Sepertinya, Gus Nuril ingin meredakan dan mengarahkan sikap orang-orang yang mulai kalap.

Dibanding dengan aksi islami, aku merasa nyaman berada di aksi malam itu. Kami tenang dan tidak rusuh. Ungkapan verbal pun tidak begitu vulgar, masih sopan. Kami menyanyikan lagu-lagu nasional seperti lirik berikut:

Indonesia tanah air beta/ pusaka abadi nan jaya/ Indonesia sejak dulu kala/ tetap dipuja-puja bangsa/ di sana tempat lahir beta/ dibuai dibesarkan bunda/ tempat berlindung di hari tua/ sampai akhir menutup mata.

Menyanyikan lagu tersebut, rasanya Indonesia banget. Kita semua adalah Indonesia yang tidak memiliki kebencian kepada sesama Indonesia. Selain lagu di atas, kami juga menyanyikan lagu “Kulihat Ibu Pertiwi.” Lagu yang sama-sama mellownya.

Beberapa tokoh agama memimpin doa sesuai agamanya masing-masing. Sikh atau Hindu, Konghucu, Budha, Katolik, Protestan, dan Islam. Kami pulang setelah doa dipanjatkan. Kami berjalan dengan pelan karena mengantri dengan massa lain. Di sela-sela kami berjalan, pengawal meminta jalan untuk Gus Nuril. Pak Maola salaman duluan. Gus Nuril masih berjalan dan aku hampir tidak bisa salim dengan beliau karena desak-desakan. Respek saja aku berkata “Gus, salim Gus” kepada gus Nuril. Beliau berhenti sebentar dan akhirnya aku bisa salim. Duh senengnyaa

Kami melanjutkan perjalanan ke Matraman, mencari warung makan. Kami mampir di warung penyetan Perisai. Kutanyakan apa pendapat pak Maola mengenai Habib Rizieq. Jawab pak Maola, “sebagaimana kita melihat Ahok sebagai manusia, kita juga melihat Habib Rizieq sebagai manusia.” Jawaban netral dan adil sejak dalam pikiran.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

12 Mei 2017 (11:58)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s