Harga Sebuah Apel

Novel ini berkisah tentang seorang presiden yang berangkat dari kediriannya sebagai orang kecil. Novel politik berlatar di negara Pakistan. Negara Islam yang semula menyatu dengan India. Sebelum pecah menjadi dua negara, India dan Pakistan adalah satu negara. Dua negara yang sama-sama memerangi Inggris yang saat itu menjajah India.

Setelah memperoleh kemerdekaannya, dua kelompok agama menginginkan supaya negaranya berhaluan sesuai agamanya. Hal itu berjalan lama, perdebatan sengit paska kemerdekaan. Akhirnya, yang beragama Hindu tetap di India sedangkan yang beragama Islam mendirikan Pakistan.

Masing-masing negara itu menjalankan negaranya sesuai dengan kebijakannya sendiri-sendiri. Tentu dengan berbagai dinamika dan gejolak yang berbeda-beda. Namun, Kashmir adalah wilayah yang dipersengketakan. Kok malah sampai sini sih deskripsinya. Langsung to the point ya. Novel ini mengisahkan seorang dosen yang mengisahkan kehidupan orang lain. Taraaa

Dosen sosiologi di Amerika barangkali mengalami kejenuhan dalam beraktivitas sehingga ia diberi kesempatan cuti oleh pihak kampusnya. Sampai pada suatu keputusan, ia memilih untuk tinggal di Pakistan dalam beberapa waktu. Ia akan melakukan penelitian dan kerjasama sebagai wakil kampusnya di Pakistan.

Namanya siapa ya? aku lupa. Ia memposisikan dirinya sebagai orang pertama dalam ceritanya. Sebutlah Aku. Aku yang berkewarganegaraan Amerika mengalami perang batin karena Pakistan sangat berbeda dengan Amerika. Wilayahnya yang kumuh dan kotor, produk-produk yang dijualnya tidak berkualitas (sayuran, buah-buahan, etc), sistem transportasi yang semrawut, dan lain sebagainya. Istri Aku bahkan ingin kembali ke Amerika karena tidak bisa menerima cara hidup yang tidak tertata dan terkondisikan itu.

Aku (Elysa, bingung kan ada dua Aku dalam satu tulisan?) bingung harus menuliskannya dari mana, bagaimana baiknya gitu. Apakah sesuai kronologinya atau mempertimbangkan unsur konflik yang muncul di novel tersebut. Aku tinggal di Pakistan dengan istri dan anak-anaknya. Keluarga Aku tidak perlu pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan sehari-harinya karena ada tukang sayur dan tukang buah yang berkeliling di komplek perumahannya.

Istri Aku mengenal salah seorang tukang buah-buahan yang dipanggilnya Tobi. Dari Tobi, Istri Aku mendapatkan buah-buahan segar berkualitas. Keluarga Aku berlangganan buah kepada Tobi, sudah semacam penjual kepercayaannya. Hubungan antara penjual dan pembeli berlanjut lebih intens lagi. Entah bagaimana mulanya, Tobi mendapatkan banyak informasi dari Aku mengenai sejarah dan apa yang sedang terjadi di Pakistan. Informasi-informasi yang diperoleh Tobi mendorong Tobi untuk memahami Pakistan lebih mendalam lagi. Pemahaman yang nantinya ikut menentukan Tobi dalam mengambil kiprah terhadap negerinya. Tobi ingin melakukan apa yang bisa dilakukannya, untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik lagi di Pakistan.

Tobi memperoleh informasi bahwa harga apel di negaranya lebih rendah dibandingkan harga apel di negara-negara maju seperti Amerika. “Kenapa hal itu bisa terjadi?” adalah salah satu  pertanyaan yang bersarang di kepala Tobi. Hal itu mengakibatkan kehidupan petani-petani Pakistan tidak sejahtera. Apa yang bisa diperbuat Tobi untuk menaikkan harga-harga yang dijualnya?

Semula, Tobi adalah penjual keliling yang harus membiayai orang tua dan keluarga kecilnya. Hidupnya sangat pas-pasan. Di suatu peristiwa pemerintahan yang berdampak pada status pekerjaan Tobi, ia menjadi petugas pemerintahan yang mensurvei kehidupan penduduk Pakistan. Berdasarkan survei tersebut, bantuan pemerintah akan disalurkan sesuai kondisi dan kebutuhan sebuah keluarga. Obat-obatan, biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, maupun yang lain.

DI lapangan, Tobi sering menemui praktek-praktek tidak sehat dari penyaluran bantuan tersebut. Sebuah keluarga yang menurutnya mampu, didaftarkan saudaranya yang pejabat sebagai penerima bantuan. Hal ini juga barangkali terjadi di Indonesia. Upaya-upaya curang dari pejabat pemerintah. Bantuan yang diberikan kepada seseorang yang tidak berhak menerimanya. Gesekan-gesekan seperti itu sangat biasa.

Tobi sering berdiskusi dengan Aku. Ia juga memiliki beberapa kawan dari kalangan mahasiswa. Aku menyarankan supaya Tobi dan kawan-kawannya membentuk gerakan diskusi di kampusnya yang fokus membicarakan masalah-masalah ekonomi dan politik Pakistan. Diskusi dilaksanakan di rumah Tobi dan beberapa kampus. Aku sebagai dosen yang dianggap memiliki pertimbangan-pertimbangan matang, sering diundang ke diskusi tersebut. Pakistan membutuhkan suara dari orang luar. Butuh perpestif lain.

Kelompok diskusi Tobi meluas. Banyak mahasiswa yang ikut bergabung. Apa yang dialami Pakistan tidak bisa lepas dari politik global. Utamanya pertarungan yang tak pernah usai antara blok Barat dan blok Timur. Negara adidaya mencengkeram negara-negara kecil. Termasuk juga Pakistan. Negara adidaya tidak ingin kehilangan pengaruhnya di negara-negara dunia ketiga. Perang sesungguhnya adalah antara dua kekuatan besar. Adapun konflik yang kerapkali kita lihat di sekitar kita hanyalah efek sampingnya saja. Hanya kerikil-kerikil kecil.

Masih ingat dengan apa yang terjadi di Suriah, pilkada DKI, pelengseran-pelengseran presiden (di negara-negara seperti Indonesia, Libia, Mesir, Tunisia, Suriah, Yaman, dkk), isu PKI bangkit. Aduh, kita ini digiring ke wacana yang sudah ditentukan untuk suatu misi tertentu.

Mahasiswa-mahasiswa dari berbagai kampus melakukan konferensi di berbagai tempat. Mereka ingin bergerak bersama untuk membawa Pakistan ke arah yang lebih baik. Masyarakat melihat sebelah mata gerakan mahasiswa karena mereka terkenal labil dan suka demo, berbuat onar. Namun, kelompok mahasiswa tersebut berhasil membuktikan bahwa mereka tidak seperti apa yang masyarakat asumsikan.

Kelompok mahasiswa membentuk partai dan mereka mendapat banyak dukungan. Tobi terpilih sebagai pemimpin partai tersebut.

Meski negara-negara Eropa telah meninggalkan negara dunia ketiga, mereka tidak mau melepaskan jajahannya begitu saja. Semula, penjajahan identik dengan pendudukan dan penguasaan atas sebuah negara. Berbeda dengan sekarang, cara menjajahnya lebih halus lagi. Tidak kentara.

Misalnya Pakistan yang dahulunya dijajah Inggris. Oke Inggris mau pergi dari Pakistan. Namun, ia menciptakan suatu keadaan yang mengharuskan Pakistan tetap bergantung pada negara-negara Barat. Maka diciptakanlah konflik, entah antar suku atau apa. Yang jelas, biar senjata negara-negara Barat tetap laku dan laris manis. Karena apa? Bisnis senjata adalah bisnis yang menguntungkan.

Tobi tidak begitu tertarik dengan militer sehingga memangkas anggaran yang harus dikucurkan ke militer. Peran militer juga dikecilkan karena Tobi menginginkan negaranya berbenah dari segi ekonomi, pendidikan, dan sosial. Masalah pembuangan sampah aja, Pakistan masih keteteran menanganinya. Sampah-sampah masih menumpuk di tanah kosong. Kalau hujan, sampah itu akan mengalir dengan air. Namun setelah itu, masyarakat kembali membuang sampah di tempat itu. Baunya sangat menyengat, tidak ada petugas yang membuangnya. Maka dari itu, banyak penyakit yang menyerang warga.

Tobi mendapatkan tekanan dari banyak pihak. Oposisinya di pemerintahan dan juga Amerika. Amerika menganggap bahwa Pakistan ingin membuat onar karena tidak mau berkompromi lagi dengan IMF dan World Bank. Tobi membuat kebijakan ekonominya sendiri yang tidak mau menggantungkan ekonominya pada dua lembaga keuangan dunia tersebut. Bukan berarti Tobi dan Pakistan menentang Amerika dan sekutunya. Hanya saja, ia ingin menyesuaikan kebijakannya dengan melihat kondisi Pakistan. Pakistan tentu memiliki kebutuhan dan cara-caranya sendiri. Tidak harus mengekor pada Barat.

Dari kebijakan ini, Amerika mulai terusik dan berusaha untuk ikut mencampuri urusan dalam negeri Pakistan. Maka diciptakanlah konflik wilayah. Kashmir yang menjadi persengketaan antara India dan Pakistan dimainkan lagi. Seperti dalam permaianan catur, Kashmir dan beberapa orang menjadi pion Amerika. India menempatkan tentaranya di perbatasan negara. Kalau Tobi tidak mau melunak, akan terjadi pergencatan senjata. Tobi memilih jalan diplomasi dengan mengirimkan surat kepada presiden India. Namun, presiden India tidak membalas surat Tobi dan lebih mendengarkan Amerika.

Pakistan meminta bantuan dari China untuk mengepung pasukan India.  Di sini lah deal-deal an antara beberapa negara terjadi. Siapa sekutu atau kawan bagi siapa. Siapa lawan atau musuh bagi siapa. China ditekan beberapa negara supaya menarik pasukannya. Mau tidak mau, Tobi tidak memiliki kawan dalam menghadapi India yang mendapat sokongan dari Amerika.

Amerika menyasar Tobi karena Mamarika tidak mau negara-negara dunia ketiga memiliki kehidupan maju dan lebih baik. Amerika ingin memberikan contoh bahwa siapa saja yang berani bermain-main dengan Amerika, ia akan diperlakukan sedemikian  rupa. Bisa saja, presidennya dihabisi. Masih ingat Moammar Khadafi dan Saddam Husein? Duh, Amerika memang kejam kok yaa. Kalau sudah membicarakan satu negara ini, emosiku tidak bisa dikendalikan lagi. Segitunya amat jadi negara. Rakuuuussss dan serakaaaah.

Amerika mencuci otak beberapa warga Pakistan yang tinggal di Amerika. Mereka didoktrin bahwa Tobi adalah pemimpin yang buruk dan sudah semestinya dibunuh. Sampai pada suatu peristiwa, orang-orang tersebut berhasil menembak Tobi di bagian dada, merobek jantung Tobi. Sementara, Tobi mendapatkan serangan dari Amerika, di pihak internal Pakistan pun banyak orang yang ingin mengambil alih kekuasaannya. Banyak kepentingan di sana. Apalagi oposisi Tobi, langsung mengambil tindakan.

Selama dua tahun memimpin, banyak perubahan yang dialami Pakistan. Pemerintah memberikan sosialisasi kepada masyarakat melalui televisi, radio, maupun militer. Bagaimana pentingnya hidup bersih dan sehat. Upaya selama dua tahun itu diluluh-lantahkan dalam sekejap dengan penembakan Tobi. Pakistan tidak stabil lagi. Pejabat-pejabat yang korup dan tidak niat bekerja, menduduki kursi-kursi pemerintahan lagi.

Dengan berbagai tekanan yang dihadapi Tobi, persetan dengan klaim perdamaian dunia. Atasnama perdamaian dunia, nyatanya Amerika melakukan intervensi terhadap negara-negera yang diinginkannya. Terutama negara-negara yang memiliki SDA melimpah seperti Timur Tengah. Negara-negara Timur Tengah, Amerika Latin, Afrika, dan Asia adalah obyek keserakahan negara adidaya itu.

Di akhir cerita, Tobi tidak bisa diselamatkan karena kondisi jantungnya sungguh parah. Tobi ingin bertemu dengan Aku. Ia mengatakan pada Aku bahwa ia tidak menyesali keadaan Pakistan. Tobi menyampaikan terima kasih karena Aku telah membuka jalan Tobi pada Pakistan. Aku mengenalkan banyak hal dan membersamai Tobi dalam mengembangkan potensi dan pengetahuannya tentang Pakistan. Tobi hanya melakukan supaya harga apel di negaranya tidak lagi murah sehingga bisa mensejahterakan kehidupan petani.

Elysa bercermin pada apa yang terjadi di Pakistan. Ternyata tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Indonesia juga disebut penulis novel dalam beberapa kesempatan. Mengenai pandangan umum masyarakat bahwa orang yang bekerja di kantoran lebih keren dibanding pekerja kasar. Lulusan perguruan tinggi banyak yang mengerjakan urusan administratif saja. Sedangkan eksekusi di lapangan seperti membenahi listrik, jalan, dan kerusakan-kerusakan lain, dikerjakan oleh orang-orang yang bukan lulusan perguruan tinggi.

Padahal, masalah teknis justru lebih membutuhkan tenaga orang yang benar-benar ahli. Lalu siapa yang membuat opini bahwa bekerja bersih lebih baik dan mentereng dibanding kerja kotoran seperti bekerja di sawah dan lain-lain. Hal ini lah yang juga barangkali menjauhkanku dari realitas keluargaku yang petani. Sebagai anak petani, aku tidak tahu-menahu mengenai pertanian. Aku juga tidak bisa mengerjakan pekerjaan petani kecuali beberapa hal saja.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

12 Mei 2017 (9:27)

Menuliskan tema ini, lama banget. Tidak langsung selesai. Haduuuh, tersendat-sendat. Alurnya juga tidak runut, loncat-loncat.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s