Menjadi Minoritas

Pak Deny bercerita bahwa beliau habis mengikuti acara KUPI d Cirebon. Kepanjangan dari Konferensi Ulama Perempuan Indonesia. Beliau bercerita bahwa di sana banyak sekali perempuan. Peserta maupun pembicara laki-laki hanya sedikit. Di tempat itu, Pak Deny merasa menjadi minoritas dan rasanya sungguh tidak enak, malu, kikuk. Seolah-olah salah tempat. Padahal, beliau terbiasa berada di forum-forum akademik. Namun, Pak Deny masih saja merasa tidak at home.

Aku langsung melihat ke dalam diriku yang selama ini berada di antara para bapak. Terkadang, aku merasakan kesendirianku di dalam kelas. Terlebih saat bu Zakiyah tidak berangkat. Aku semakin terasing dengan kaum adam. Setingkat Pak Deny saja masih demikian, apalagi aku yang belum pernah berada di berbagai tempat. Tentu hal ini perlu adaptasi tingkat tinggi.

Seperti halnya Kalis Mardiasih yang saat itu berada di antara para bapak di dalam suatu acara. Oiya, konferensi Rembang kalau tidak salah. Pertama-tama, Kalis masih bergabung dengan tongkrongan para bapak. Selang beberapa saat, Kalis mengundurkan diri dari kerumunan. Etis tidak etis. Entah apa batasannya.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

12 Mei 2017 (12:38)     

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s