Kak Makmun

Nama kak Makmun sangat familiar di telinga warga Hasyim Asy’ari dan Darut Ta’lim. Sewaktu masih di DT, betapa kak Makmun adalah idola bagi banyak santri. Pintar dan santun. Cerita hidupnya diketahui setiap santri. Ketika aku kelas satu Mts, kak Makmun kelas satu MA. Aku lulus Tsanawiyah bebarengan dengan kelulusan kak Makmun dari MA.

Kak Makmun mengambil jurusan Keagamaan. Aku juga berada di jurusan yang sama. Terdengar kabar bahwa kak Makmun diterima sebagai mahasiswa Tafsir Hadits UIN Sunan Kalijaga. Kakak-kakak kelas yang bisa menembus jalur beasiswa, namanya akan sangat akrab di telinga kami. Apalagi kak Makmun.

Di dalam buku harian, aku pernah menulis bahwa aku ingin melanjutkan belajarku di TH UIN SUKA karena dua hal. Pertama, bu Hindun adalah guruku di mata pelajaran Ilmu Tafsir, ilmu Kalam, dan ilmu Tasawuf. Beliau menyampaikan materi pelajaran dengan cara yang berbeda dengan guru-guru lain. Seringkali bu Hindun memotivasi hidup kami dalam menjalani sebuah proses belajar. Optimisme beliau menyalur ke kepala kami. Wawasan beliau akan buku-buku, berita yang sedang ngehits, dan keilmuan kontemporer membuatku terkesima. Sejak saat itu, aku ingin mengikuti langkah beliau. Salah satunya dengan melanjutkan pengembaraanku ke tempat-tempat jauh. Jogja.

Jogja adalah kota impian yang memberikan sejuta harapan bagi kami, remaja usia belasan tahun. Kami ingin menghirup udara Jogja. Menginjak buminya. Menengadahkan muka ke langitnya. Kak Makmun sudah berada di Jogja pada tahun 2007. Artinya, ketika aku bisa kuliah di Jogja, aku masih bisa menjumpai dan menangi kak Makmun di tahun-tahun terakhirnya. Setahun. Sampai detail aku memikirkan hal itu.

Singkat cerita, aku dan beberapa temanku diterima UIN Sunan Kalijaga sebagai penduduknya. Aku, Heni, Khalim, Fathur, Aslam, Rifa’i, Encop. Kak Makmun dan kak Jaelani adalah orang yang mengantarkan kami melakukan regristasi. Kak Jaelani adalah mahasiswa pintar-cerdas, tapi tidak begitu akrab dengan urusan birokrasi kampus. Sedangkan kak Makmun, barangkali sudah terbiasa berurusan dengan birokrasi sehingga kami bisa menyelesaikan urusan administrasi dengan cepat.

Saat itu, kak Makmun berada di tingkat enam dan sedang KKN. Kami datang ke Jogja ketika Ramadhan. Kak Makmun dengan salah satu temannya datang ke kampus, menemani kami untuk membereskan apa yang harus diselesaikan. Kalau diingat-ingat lagi, birokrasi kampus memusingkan sekali. Kami dilempar-lempar dari pihak fakultas ke jurusan, lanjut ke rektorat. Tidak jelas urusan kami di bawah tanggung jawab siapa.

Setelah akhirnya kami bertemu dengan kak Irul, tangan kanan pak Amin Abdullah yang bertugas menyeleksi pendaftar-pendaftar se-Indonesia, urusan kami tidak terlalu ribet. Kak Irul mengenal kak Makmun, sehingga nama kami dalam posisi aman di bawah lindungan kak Makmun. Kak Irul adalah alumni TH juga, mengenal kak Makmun saat kak Makmun mewakili kampus dalam mengikuti perkemahan.

Kak Makmun menjadi wali kami saat kampus memberikan undangan untuk wali mahasiswa. Kami berjalan bersama-sama menuju ruang Teatrikal Perpustakaan. Setiap bertemu temannya di jalan, kak Makmun mengenalkan kami sebagai adik-adiknya. “Ini, adik-adikku,” kata kak Makmun. Kalimat yang membuat kami pede berada di kampus.

Kak Makmun tinggal di Krapyak, ngaos dengan Kiai Hafidz Abdul Qadir dan Mbah Yai Najib. Ketika beasiswa kak Makmun cair, kak Makmun meminta kami untuk menunggunya di depan gang pesantren. Kak Makmun menaiki kobutri jalur 06 dari kampus menuju Krapyak. Aku, Heni, dan Encop berdiri berjajar-jajar. Menunggu kak Makmun seperti menunggu bapak kami pulang. Turun dari kobutri, kak Makmun mampir ke ATM dan membelikan kami sate pak Marzuki.

Kami sering mengeluhkan banyak hal pada kak Makmun. Dan ia menanggapinya dengan sabar, meski mungkin sangat geregetan dengan cara pandang kami yang masih begitu-begitu saja. Kak Makmun membiarkan pola pikir kami berkembang dengan sendirinya seiring berjalannya waktu. Nanti juga akan melek dan terbuka pada hal-hal baru yang belum pernah kami temui sebelumnya. Kak Makmun adalah penyemangat kami, tempat kami bertanya dan mempertanyakan banyak hal.

Kak Makmun adalah orang baik yang membaiki semua orang. Terlihat dari hal-hal kecil, pemikiran dan masukan-masukan terhadap masalah yang kami hadapi. Ketika wisuda, banyak teman kak makmun yang menghadiri. Dengan berbagai latar belakang pertemanan, kak Makmun memperlakukan semua yang hadir dengan baik. Tidak ada yang merasa dicuekin. Bahkan sampai sepupu-sepupunya yang masih balita.

Teman-teman pondok sampai hafal dan tahu siapa kak makmun, gara-gara kami sering menceritakan sosoknya. Sesekali ada mbak-mbak yang iseng menanyakan status hubungan kak Makmun dengan seorang perempuan. Hehe. Jadi kangen masa-masa awal di Jogja.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

14 Mei 2017 (23:30)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s