Kenduri Cinta (Takfiri Versus Tamkiri)

Kenduri Cinta diundur tadi malam, malam Selasa. Biasanya digelar pada malam Sabtu. Semula aku akan datang dengan Neli, namun nggak jadi karena Neli baru pulang dari Cikarang dan harus latihan padus. Akhirnya aku datang ke TIM sendirian, diantar Abang Gojek sampai tempat tujuan.

Setiba di lokasi, aku berdiri. Celingak-celinguk mencari tempat longgar yang bisa kududuki. Aku membawa kopi susu dan air putih. Bekal melekan. Tema semalam adalah Takfiri vs Tamkiri. Orang yang mengkafir-kafirkan dan orang yang berbuat makar. Wacana yang sedang in akhir-akhir ini, setelah pilkada DKI. Pada masa-masa lampau, gesekan, konflik, perang, perdebatan, dan semacamnya sudah ada. Tidak perlu kaget karena sejarah perjalanan manusia melalui hal-hal mengerikan.

Berikut adalah hasil rekamanku yang akan kunarasikan. Jadi, tulisan ini bukanlah ide orisinilku. Ini adalah pelajaran yang disampaikan Cak Nun, Kiai Muzammil, Ustadz Nur Shofa, pak Jose Rizal Manua. Aku hanya menuliskan ulang. Dibumbui dengan sedikit-sedikit penafsiran, pemahaman, subyektivitas dan kecenderungan-kecenderunganku.

Saat ini, masyarakat Indonesia seakan terbelah menjadi dua kubu. Pengdukung Anis dan pendukung Ahok. Kalo nggak Anis, berarti Ahok. Kalau nggak Ahok, berarti Anis. Hanya ada dua pilihan. Kalau nggak ini ya itu. Sungguh sangat perlu dikasihani menjadi orang yang mati-matian membela salah satu tokoh.

Banyak orang yang terlalu berharap pada orang lain yang ditokohkan. Anis, Ahok, Jokowi, dan lain-lain. Mereka menaruh harapan pada tokoh-tokoh tersebut. Kalau ada sedikit saja yang menghina atau menjelek-jelekkan tokoh yang diidolakan, mereka akan mudah mengamuk. Sekarang itu, orang-orang tidak hanya bersumbu pendek. Bahkan ada orang yang tidak memiliki sumbu lagi. Setiap ada api yang menyala, ia langsung terbakar dan meledak.

Cak Nun mengajari kita bagaimana supaya tidak terperangkap pada setiap persoalan. Tidak melihat sesuatu sebagai hitam atau putih. Tidak hanya Anis atau Ahok. Kita harus fair dalam memberikan penilaian sebagai rangkaian mata rantai. Tidak perlu terkagum-kagum atau mengkultuskan seseorang. Cak Nun tidak memiliki idola siapa pun. Cak Nun menyandarkan hidupnya pada Allah dan Rasulullah. Makanya, kurang tepat jika kita terlalu mengharapkan makhluk. Inilah yaa,, hal yang telah dilupakan banyak orang. Termasuk juga diriku yang mengesampingkan Allah dan Rasul-Nya.

Orang-orang seolah telah memperjuangkan kebenaran menurut versinya. Cak Nun mencontohkan pihak Ahok pasti yakin dong kalau pihaknya benar. Begitu juga dengan pihak Habib Rizieq, kelompoknya juga pasti meyakini bahwa apa yang sedang mereka perjuangkan adalah kebenaran. Setiap orang menafsirkan kebenaran sesuai dengan kondisi dan semesta pikirannya. Sehingga, setiap orang memiliki kebenaran yang berbeda-beda. Konflik dan eyel-eyelan yang tak kunjung usai ini disebabkan karena salah satu pihak memaksakan kebenarannya pada pihak yang lain. Ini yang bikin repot.

Seberapa penting kah kebenaran? Kebenaran diibaratkan Cak Nun sebagai tanah. Di atas tanah masih ada pepohonan yang berbuah. Pohon yang berbuah adalah kebaikan dan keindahan. Bagaimana memperlakukan kebenaran? Kebenaran adalah input. Kita terus mencarinya dengan berbagai proses dan tempaan. Setelah kita merasa memiliki kebenaran, tidak semestinya kita meminta orang lain untuk menerima kebenaran kita. Yang paling penting adalah kebenaran kita membawa kemaslahatan pada orang lain. Kebaikan, keadilan, pertolongan, membuat orang lain bahagia, toleran. Pokoke berbuat baik kepada setiap orang. Falya’mal amalan shalihan. Kebenaran ditunjukkan sebagai output.

Setiap orang memiliki dua sisi. Kebaikan dan keburukan. Energi positif dan energi negatif. Bersyukurlah menjadi manusia karena kita masih bisa memilih untuk melakukan apapun. Bandingkan dengan syaitan yang hanya bisa menggoda kita. Kata Cak Nun, iblis dan syaitan pun bingung karena tak pernah menyangka jika manusia tergoda oleh dirinya sendiri sebelum setan menggodanya. Niat hati setan, ia akan menjerumuskan seseorang ke dalam korupsi satu miliyar, lha kok manusianya sudah korupsi satu triliyun duluan. Setan jadi malas sendiri karena ternyata, kita lebih sadis dan jahat sebelum mereka jerumuskan. Mereka telah bosan dengan tugas mulianya. Duh, kasihan saudara tua kita satu ini.

Jadi teringat pernyataan pak Radhar bahwa beliau adalah pemulung sampah-sampah. Tidak hanya menampung kebaikan. Namun, segala yang ada beliau terima.

Dengan dua energi yang bertolak belakang tersebut, manusia bisa menyala. Konflik dan dinamika kehidupan ini yang akan menentukan sinar kemanusiaan kita bisa menyala atau tidak. So, tidak usah terfokus pada sisi negatif orang lain. Carilah sisi-sisi kebaikannya. Begitu pula dengan hidup, kita jalankan sebisa-bisanya saja. Semampunya kita. Jangan sampai merasa terbebani dengan hidup kita. Mari menjadi orang yang legowo dan ikhlas. Mari mengerjakan tugas-tugas kita dengan ringan hati. Asal jangan sampai menyepelekan dan menggampangkan segala persoalan.

Aku langsung menengok ke dalam diriku yang selama ini selalu merasa keberatan melakukan apapun. Seolah-olah hanya beban sehingga aku tidak bisa enjoy menjalani hidupku. Jangan terlalu sepaneng. Demikian pesan Cak Nun. Mari outbond di dunia ini dengan bergembira. Hidup di dunia digambarkan Cak Nun sebagai permainan sementara, kayak sedang ngelencer atau outbond. Tidak ada alasan untuk tidak bergembira.

Berulang kali Cak Nun menyampaikan bahwa beliau sangat senang bisa melihat kebahagiaan kami, meski dalam keadaan sulit. Tulus datang ke Kenduri Cinta, tidak memiliki pretensi apa-apa. Dengan begitu, kita memang sedang belajar menjadi orang yang lebih baik di kemudian hari. Ingin menjadi orang jujur dan apa adanya dengan diri kita sendiri. Tidak dibuat-buat. Setelah bisa mengenali diri sedikit demi sedikit, kita bisa menempatkan diri kita. Bisa membawakan diri dimana pun berada.

Kenduri Cinta tidak memiliki ideologi apapun. Tidak memiliki logo, cap, atau stempel. Kita tidak perlu mengetahui agama dan ideologi seseorang untuk membantunya. Jadilah orang tulus. Seperti ketika Bantul mengalami gempa 27 Mei, Cak Nun menghimbau Sultan bahwa Bantul baik-baik saja tanpa menerima bantuan dari partai dan lembaga mana pun. Bantul menentukan sikapnya untuk mandiri dari segala bantuan. Hanya ada bendera merah putih yang tertancap. Bayangkan jika bantuan-bantuan itu datang dari berbagai partai, akan ada kepentingan yang bermain di dalamnya. Membantu ya membantu saja.

Barangkali hidup di Jakarta, akan sulit menemukan orang-orang yang memiliki ketulusan. Aku seringkali curiga kalau seseorang melakukan sesuatu karena ada maunya. Aku pun demikian. Melakukan apapun jika ada imbalan. Pragmatis sekali ya hidup ini. Aku tak berniat menggeneralisasi, tapi memang ada wilayah-wilayah yang seperti kumaksudkan.

Tadi malam kedatangan tamu pak Jose Rizal Manua. Beliau membacakan puisi yang diiriggi dengan musik. Musikalisasi puisi. Puisi yang dibacakan berjudul biarin, taipan, ibukota dan kota ibu, dan setelah kau sudah kau mau apa. Puisi-puisi tersebut mencerminkan keadaan masa kini banget. Puisi setelah kau sudah kau mau apa mengisahkan orang-orang yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dimilikinya. Setelah menjadi pengusaha, ia menginginkan hotel, lapangan golf, kapal pesiar. Setelah menjadi pengusaha dan kolongmrat, ia tidak ingin mati.

Puisi ibukota dan kota ibu mengandaikan apabila semua yang ada di Jakarta putih, apa yang akan terjadi? Patung kuda putih, monas putih, pucuk masjid putih, taman Untung Suropati putih, lapangan Istora Senayan putih. Pak Jose menggugat apakah melalui warna putih, seseorang bisa cuci tangan atas perbuatan kotornya? Mengambil dalih bahwa putih adalah lambang kesucian. Padahal, putih juga memiliki simbol kekalahan. Kalau semuanya putih, dosa-dosa kita seketika lebur? Kalau semuanya putih, apa menariknya?

Puisi-puisi pak Jose sangat menarik. Menyentuh dengan pembacaan yang penuh penghayatan dari pak Jose. Puisi bernada sarkasme. Yang berjudul biarin juga oke punya. Namun aku lupa bagaimana bunyinya. Nanti bisa dicari.

Setelah Cak Nun memaparkan beberapa hal, sekitar jam setengah tiga, sesi pertanyaan dibuka. Beberapa penanya menyampaikan banyak hal, mulai pengaruh-pengaruh pengajian maiyah di dalam dirinya, mimpi bertemu Cak Nun, bagaimana membawa Makkah-Madinah-Ka’bah ke dalam hati kita, curhat mengenai hidup yang dilaluinya, saran dan nasehat Cak Nun kepada penanya yang bekerja di hotel bintang lima (you know that he must brings wine for hotel’s guest). Pertanyaan-pertanyaan hidup mereka.

Aku hanya ingin menuliskan jawaban Cak Nun kepada pemuda yang bekerja di hotel berbintang. Ehm, intinya ia galau bekerja di sana karena harus menyuguhkan minuman haram kepada pengunjung. Pendidikannya dari jurusan Pariwisata, tentu kalau mau mencari pekerjaan lain, tidak bisa lepas sepenuhnya dari  gaya hidup hotel. Kalau mencari pekerjaan lain, ia tidak tahu pasti karena ia tidak memiliki keterampilan dalam bidang lain. Apakah pekerjaannya haram? Kalau memang iya, ia akan berhenti dan akan mencari tempat kerja lain. Ia berani bertanya demikian karena Cak Nun akan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

Berikut adalah ringkasan jawaban dari Cak Nun. Kalau mau detail menghitung dosa struktural, petugas pelabuhan yang mengizinkan minuman keras masuk ke Indonesia, gubernur yang mengizinkan pendirian hotel, DPR, dan lain-lain juga ikut berdosa. Bukan salah penanya jika ia menyediakan wine ke pengunjung hotel. Andaikan ia tidak melakukan hal itu, akan ada orang lain yang melakukannya. Lagian, penanya tidak memiliki pekerjaan lain.

Meski demikian, saat penanya menyuguhkan wine, alangkah lebih baik jika ia beristighfar dan ngerentek pada Allah, “Ya Allah, kasih aku pekerjaan lain.” Juga dengan membayar kafarat, sodaqah kepada anak-anak kecil, tukang parkir, tukang becak, dan lain sebagainya. Jawaban dan solusi yang tidak menghakimi, namun bagaimana kita mengarifi setiap persoalan. Selain itu, Cak Nun juga mengajari kita bagimana kita harus berhati-hati dari setiap harta yang kita miliki.

Kiai Muzammil menambahkan jawaban dari segi pandang fikih. Penanya bukanlah sebab pertama dari kegiatan mabuk-mabukan. Ia tidak mengajak dan menyuruh orang untuk meminum minuman haram. So, tidak apa-apa.

Kali itu sudah jam setengah empat. Cak Nun harus menuju tempat lain pada pagi harinya. Beliau memberi pengertian kepada kita bahwa kita tidak harus bersalaman dengan beliau. Mencukupkan diri pada kebesaran hati masing-masing. Kalau Cak Nun memiliki waktu longgar, beliau akan mendoakan kami dan menerima tangan kami yang ingin salim dengan beliau.

Setelah berdoa, jamaah ma’iyah bubar tanpa mendekat ke arah panggung. Aku juga langsung berjalan menuju salah satu pintu keluar Taman Ismail Marzuki. Ternyata Cak Nun keluar dari pintu yang sama denganku. Beliau dikawal beberapa orang karena harus segera meluncur ke bandara. Namun, ada beberapa orang yang mengerubungi dan ingin mengecup punggung tangan beliau.

Aku hanya berjalan di belakang Cak Nun tanpa berani mengulurkan tangan untuk salim. Takut mengganggu dan menghalangi perjalanan beliau. Aku terus mengikuti Cak Nun dari belakang. Benar-benar di belakang tanpa memiliki keberanian sepeser pun. Tiba-tiba badanku gemetar, entah kenapa. Kupaksa diriku maju melangkah, menunggu sampai orang-orang bubar supaya aku mudah menuju Cak Nun. Aku melangkah ke samping kanan pengawal Cak Nun. Cak Nun sedang menyalimi dua perempaun di sebelah kiri beliau.

Aku hanya diam dan tenang, supaya pengawal Cak Nun tidak mengusirku. Seketika aku langsung meraih pungguh tangan Cak Nun dan menempelkannya ke wajahku. Kalau sudah salim, hatiku tenang. Begitu juga ketika bertemu tokoh-tokoh lain. Aku hanya ingin salim. Aku menunggu Cak Nun sampai menjauh dari penglihatanku. Beliau dengan beberapa orang masuk ke hotel di depan TIM. Aku melanjutkan perjalanan pulang.

Kuotaku habis sehingga aku tidak bisa memesan gojek. Tidak ada orang yang kukenal juga. Malas meminta tetringan orang lain. Mau tidak mau aku berjalan kaki dari TIM, pukul setengah empat lebih, perempuan sendirian. Mula-mula, masih banyak kendaraan yang berlalu lalang. Aku tidak begitu takut. Sampai pada jalan sunyi semi gelap, hatiku mulai was-was. Aku takut dan mewaspadai siapa saja yang berjalan kaki. Memikirkan berbagai kemungkinan orang jahat yang akan menyerangku. Aku mempersiapkan berbagai rencana sebagai antisipasi kalau tiba-tiba ada orang yang berbuat tidak baik padaku. Aku akan berteriak, mengayunkan botol minumku, dan meronta-ronta. Aku juga masih ingat satu jurus silat yang diajarkan Kasmi beberapa waktu lalu. Jurus untuk memlintir tangan lawan.

Mataku melebar, mengamati setiap gerak dan bayangan orang-orang. Telingaku juga tak mau kalah. Aku berusaha mendengarkan suara apapun. Daun-daun yang jatuh dan bunyi langkah kaki seseorang. Tanganku, kakiku, semuanya kusiagakan. Hahaha. Jalanan masih sepi jam segitu. Sampai di pertigaan Matraman, aku bisa bernafas lega. Berjalan dengan santai dan enjoy. Menikmati setiap langkah kaki. Jarak Cikini-Matraman sekitar 3 kilo kali ya. Kalau naik gojek harus membayar 6ribeng. Kalau satu kilonya dua ribeng, maka enam ribeng dibagi dua ribeng sama dengan dua. Hahaha. Mbuh nding.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

16 Mei 2017 (16:03)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s