Mengenal Uang

Entah sebab apa, aku sedang malas menulis. Suer dah, rasanya berat banget. Kayak menjadi sesuatu yang nggak penting gitu. Tapi yang namanya malas, memang embuh apa obatnya. Kalau sudah malas, tidak hanya meninggalkan menulis saja. Tugas-tugas lain pun kubiarkan. Harus dipaksa atau akan menumpuk banyak. Jalan saja bro. Semangatt! Rasa-rasanya telah lama aku tidak pernah menyemangati diriku sendiri. Hajar terus! Maju jalan!

Hari ini dikabarkan tidak ada kelas. Mata kuliah tasawuf dan sejarah Islam Lokal telah usai minggu kemarin. Hanya menyisakan matkul Historiografi Islam Nusantara dan Literatur Islam Nusantara. Pak Alek katanya masih di Kediri. Sedangkan pak Mahrus sedang ke luar kota. Jadinya free hari ini. Meski libur, aku tetap ke kampus karena nggak punya kuota, nebeng wifian.

Aku membuka grup wa kelas, duh ramenya. Sudah ratusan pesan yang masuk. Sedang ngeributin jadwal kuliah yang libur dan pencairan yang nggak cair-cair. Membuat hidup ini asyik dengan ketidakpastian. Kalo sudah punya duit, barangkali aku akan kangen dengan masa-masa kere. Mengharukan sekali ya untuk memperolah seribu dua ribu uang. Pengalaman dan pembelajaran dalam hidup. Di kelas, mas Anis mengingatkanku bahwa kemarin itu waktunya kuliah, bukan waktu bakulan. “Kuliah-kuliah! Bakulan wae!” kata mas Anis. Seketika aku langsung memelototi mas Anis, berhasrat untuk menyemprotnya dengan kata-kata sadis.

“Heh, tau nggak sih kalo sini tuh pinter nyari peluang?” jawabku ngeles.

Sebenarnya aku juga merasa gimana gitu, datang ke perpusnas karena mau mengerjakan tugas yang na’udzubillah, eh alhamdulillah. Perpusnas sedang ultah sehingga menggelar beberapa acara. Diantaranya adalah bazar buku. Dasar otak-otak bakul, aku langsung mendatangi beberapa stand buku, menanyakan harga dan bergaya melakukan tawar-menawar. Padahal, asli aku nggak bawa uang banyak. Dua puluh ribu entah ada atau nggak.

Aku memotret beberapa buku dan wuuushh kukirimkan fotonya di grup kelas. Pak Gilang langsung njapri nomorku, berminat beli. Mas Haidir, bu Zakiyah, dan mas Mukhtar juga tertarik. Mereka kuminta untuk mentransfer uang ke rekeningku. Kukatakan pada mereka bahwa mereka bisa dibelikan buku kalau sudah mentransfer uang, harap maklum karena bakulnya masih sekolah.

Beberapa kali aku membawa barang bakulanku ke kelas. Kaos, poster, buku-buku, dan lain-lain. Menyadari hal ini, kok lucu banget ya. Aku menjadi senang nyari duit daripada sinau. Kalau online menawarkan barang atau menjawab pertanyaan-pertanyaan calon pembeli, semangatku mencuat-cuat. Bandingkan dengan misalnya, ketika aku membaca, terdiam di perpustakaan, menghadap laptop, wajahku bermuram ria. Cemberut akut. Sedikit ada temen yang usil mengganggu pertapaanku, aku ingin melemparkan sandal ke arahnya.

Aku jadi membayangkan bagaimana kondisi psikologis orang-orang yang bekerja, juga orang yang telah kaya. Apakah mereka kepikiran untuk belajar lagi? Kurasa akan sulit karena banyak godaan. Fokusnya sudah berbeda. Tidak salah ketika mbak Nia dalam salah satu kesempatan melarangku bekerja. Saat itu, aku mengutarakan niatku untuk bekerja karena musim paceklik. Beginilah rasanya.

Masih teringat bagaimana pernah bekerja layaknya orang-orang. Dari jam tujuh sampai jam tiga, hari Senin sampai Jum’at. Jam tiga tiba di pondok, istirahat sebentar dan bergegas ke Diniyah jam empat. Malam harinya, aku sudah tidak berdaya melakukan apapun. Jangan tanya aku bisa mengikuti kegiatan pondok dengan baik atau tidak. Aku keteteran membagi waktuku. Setoran pagi bolong-bolong. Bahkan pernah alfa sampai empat kali dalam sebulan, menjadikanku ditanyai Gus Nang.

Setelah itu, aku ngikut teman/bekerja di rumahnya. Menjadi admin toko buku online. Dari jam delapan sampai jam empat, kadang sampai jam lima juga. Di saat-saat bekerja normal seperti itu, aku menjalankan hidupku secara apa adanya. Mengikuti ritme kebanyakan orang. Betapa alur hidup yang seperti itu, aku kehilangan ruh hidupku. Hidup hanya melakukan rutinitas semu, mencari uang. Tidak ada sesuatu yang bersifat prinsipil.

Mungkin saat itu aku belum begitu butuh sama uang sehingga masih bisa bersikap idealis. Tidak menjamin kalau aku sudah memiliki kebutuhan yang ehm, tentu aku akan memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang. Tidak lagi idealis, namun realistis. Seperti keadaanku saat ini yang sudah mulai mengenal uang. Apakah aku terlambat memasuki fase ini? Bisa jadi.

Saat bekerja di dua tempat itu, aku tidak pernah membaca buku. Pernah sih pernah, Cuma hanya sekedar membaca sebagai selingan. Tidak membaca buku-buku berat. Makanya sekarang aku merasa agak kepayahan juga saat membaca buku berat. Aku belum terbiasa sih. Duh, minat bacaku memang sangat rendah. Sedihnyaaa. Hobi mengoleksi buku, tapi entah kapan aku bisa mengkhatamkan buku-buku itu. Bahkan kertasnya mulai menguning, dan aku belum menyentuhnya?? terlalu sekali daku.

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

20 Mei 2017 (23:55)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s