Udik dan Polos

Aku pulang dari kampus jam setengah tiga. Tadi itu sesuatu banget. Pak Alek mengajari dua mahasiswa saja. Aku dan temanku. Teman-teman yang lain sudah pulang karena mengira pak Alek libur. Pak Alek bertanya mengenai Islam Nusantara kepada temanku.

Tiba-tiba, perbendaharaan uneg-unegku keluar semua. Sebelumnya, aku hanya memendamnya sendiri. Memikirkannya dan sering bermain pada tataran spekulasi tanpa bukti. Hanya barangkali dan barangkali. Pertanyaanku itu kusampaikan pada pak Alek, dan apa yang terjadi selanjutnya? Aku merasa sangat bodoh diantara pak dosen dan temanku ini.

Ilustrasinya, aku seperti anak kecil yang penasaran pada banyak hal dan reflek saja bertanya pada pak Alek. Ketidaktahuanku mengenai pergerakan dunia ini karena aku tidak begitu banyak membaca, tidak mengikuti berita, serta tidak memiliki komunitas diskusi. Minimal teman ngobrol yang agak berat gitu. Tapi kemudian, aku bertanya-tanya, pentingkah semua pengetahuan itu? Padahal informasi saat ini sangat berlimpah. Kalau kita terlalu mendengarkan apa kata internet, kita tidak akan bisa mendengarkan hati kecil kita. Nah kan?

Bukan berarti harus meninggalkan tekhnologi informasi, namun sewajarnya saja dalam menggunakannya. Asal tidak apatis pada sekitar. Tapi, kurasa aku memang sudah muak dengan apa yang terjadi di dunia maya, makanya aku agak cuek. Emangnya perlu ya segala informasi itu? Kalau ketinggalan infonya, berimbas pada kehidupan kita nggak?

Bayangkan orang-orang sederhana yang tiap harinya hanya mengenal sawah, laut, pasar, hutan, dan desa. Seperti Mamak, apakah beliau akan sangat sedih jika tidak mengetahui informasi yang luar biasa persebarannya? Kurasa tidak. Hidup itu barangkali tidak melulu soal kekinian, melainkan juga bagaimana mengarifi kehidupan melalui bekerja di sawah misalnya. Ke sawah, mengaji, jamaah di langgar, ngobrol dengan tetangga adalah serangkaian potret hidup rakyat biasa. Dan ketika aku sedikit mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan orang Jakarta, aku seperti tidak bisa menerima. Dua kehidupan yang berbeda seratus delapan puluh drajat. Apa yang salah Gusti?

Kehidupan seperti tidak berpihak pada orang kecil. Tadinya mau nulis apa sih kok malah curhat sampai hal-hal begini?

Oiya, aku seperti anak kecil yang merengek-rengek. Bingung membaca dunia. Belum bisa memetakan peristiwa pada tempatnya. Masih sering tumpang-tinding ketika membaca apa yang sedang terjadi. Dan tahu kan kau kalau temanku ini adalah seorang politisi, penceramah, guru, praktisi tarekat, pengusaha? Saat aku melihat hidupku yang sangat datar ini, aku langsung menyimpulkan bahwa aku adalah orang yang sangat polos.

Apakah karena watak kepolosan inilah yang telah melekat padaku sehingga aku belum mampu melihat sesuatu secara heroik? Seperti di film-film itu. Masih memakai kacamata polos. Duh yaa. Cerita hidup seseorang memang sangat berbeda. Aku menyadari bahwa hidup yang kujalani memang sangat biasa-biasa saja, tidak terlampau istimewa. Tidak keren dan mentereng. Terjalnya pun tidak seberapa. Tidak ada gronjalan yang terlalu mengkhawatirkan. Aku masih bisa mengatasinya. Tapi barangkali, hidupku yang sangat biasa inilah yang membuatku berfikir dan bersyukur bahwa hidup yang sangat biasa ini ternyata menyenangkan dan mengasyikkan.

Aku terkaget-kaget mendengarkan sedikit cerita mengenai apa yang terjadi di kalangan orang-orang atas itu. Emm mereka yang disebut politisi. Aku tak menyangka kalau ada cara-cara begitu yang dilakukan orang-orang menengah ke atas untuk mencapai kepentingannya. Kukatakan sebelumnya kalau aku ini orang polos, makanya kayak orang udik yang baru tiba di kota. Heran.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

21 Mei 2017 (0:33)         

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s