Pengen Balik

Aku merasa seperti kembali pada masa keberadaanku di Darut Ta’lim. Masa-masa penuh adaptasi dan tangis. Pertama kalinya hidup terpisah dari orang tua. Semenjak tahun kedua di Darut Ta’lim, aku sudah mulai enjoy dengan hidupku. Tidak begitu sering menangis. Ketergantungan atau keterikatan dengan orang rumah tidak lagi kupersoalkan lagi. Aku mulai terbiasa hidup merantau. Ciee merantau.

Enam tahun di Darut Ta’lim adalah waktu bertapaku. Kemudian aku melanjutkan perjalananku ke Jogja. Aku semakin terbiasa hidup jauh dari orang tua. Aku hanya pulang sebentar-sebentar saja. Dua sampai empat kali dalam setahun. Melihat hidupku yang begini, aku teringat sama kakak tingkat yang tak pernah pulang ke rumah karena sudah terlalu gandrung sama ilmu-ilmu yang diperolehnya. Sampai-sampai ibunya merasakan kesedihan yang teramat dalam. Imbasnya dirasakan juga oleh adik sepupunya yang juga temanku. Temanku tak diperbolehkan ibunya untuk belajar di Jogja. Takut meniru kakak sepupunya.

Ketika berada di tempat-tempat jauh, kita memang memperoleh banyak hal baru. Teman, pengalaman, guru, saudara, tempat, event, informasi, wawasan, cakrawala, daan nuansa baru. Kadang aku merasa asyik sendiri dengan kebaruan-kebaruan itu. Idealitasku terhadap banyak hal dipengaruhi oleh segala kebaruan. Ketika pulang ke rumah, aku masih menggunakan standar kota dalam melihat dan mensikapi desa.

Sehingga yang terjadi adalah perasaan kecewa karena idealitasku tidak bisa didapatkan dalam realitas desaku. Inilah yaa… kukira aku belum bisa bersikap secara proporsional pada sekitarku. Aku semakin terasing dengan lingkunganku. Apa yang semestinya kulakukan? Berbicara dengan bahasa orang desa, berpikir dengan cara pandang orang desa, bergaul dengan cara orang desa, dan lain-lain. Betapa selama ini aku tidak tahu-menahu apa yang ada di desaku. Masak iya begituu??

Tahun ini adalah tahun pertama Mamak dan Bapak melakukan puasa tanpa ada salah satu anaknya di rumah. Lisa di pondok. Aku juga masih di sini. Tiba-tiba aku ingin menangis begitu saja. Mengingat mereka berdua. Tidak ada yang membantunya melakukan pekerjaan domestik. Buka dan sahur berdua. Di suatu kesempatan, Mamak bertanya pada Bapak apakah mereka berdua akan hidup seperti itu sampai nanti? Cuma berdua di rumah. Bapak hanya menjawab, mau bagaimana lagi, ya begitulah semestinya.

Nyesek mendapatkan cerita itu. Kedua orang tuaku mulai merasa kesepian barangkali. Dan alangkah kesepian telah menggerogoti kebahagiaan secara perlahan.

Saat aku menelpon Mamak dan Bapak yang sedang ngemes di sawah lor, aku bilang bahwa aku akan libur selama tiga bulan. Bapak antusias menjawab supaya aku lekas pulang biar rumahnya tidak sepi. Aku mengiyakan permintaan Bapak. Mamak juga mengaku bahwa beliau sangat membutuhkan tenaga pembantu untuk pekerjaan rumah. Menyapu, mengepel, cuci piring, mencuci baju, dst. Mamak senang bila ada yang mengerjakan urusan domestik.

Selang beberapa hari Mbak Nova mengirim wa dan memintaku untuk ke Depok. Ke pondoknya untuk ikut meramaikan acara pesantren kilat. Karena apa? Mbak Nova sangat membutuhkan beberapa tenaga. Aku bilang ke Bapak dan Bapak mengatakan tak masalah, yang penting ada kegiatan di Jakarta, biar nggak nganggur. Bu Dewi juga menyampaikan bahwa ada kelompok ibu-ibu yang membutuhkan pendamping acara darusan selepas Maghrib. Aku mengiyakan selama dua minggu pertama di bulan puasa.

MUI membuka Program Kaderisasi Ulama tahun ini. Batas waktunya adalah 31 Mei 2017. Tesnya dilaksanakan tanggal 5-7 Juni. Cak Nun juga akan hadir di Taman Ismail Marzuki tanggal 12 Juni. Aku tertarik mengikuti serangkaian acara tersebut. Aku sudah memplanning segalanya. Berniat mengikuti semua acara itu.

Acara-acara itu mungkin belum dialamatkan padaku. Sebentar-sebentar pengen nangis karena pengen balik, sebentar-sebentar bilang “Izuuul, pengen balik”, “ ya Allaaaah”. Aku mengeluh dan merengek, benar-benar kayak orang ngenes, tidak bisa menahan kepulanganku barang sedetik pun. Aku terbayang-bayang desa dan wajah Mamak-Bapak. Pengen balik.

Karena tidak kuat menahan beban kerinduan, aku minta maaf pada Mbak Nova dan bilang bahwa aku belum bisa bergabung ke pondoknya. Mbak Nova adalah orang yang baik banget. Nggak pernah marah. Meski sangat butuh pada tenagaku, mbak Nova sangat memahami situasiku saat ini. Sudah waktunya berbakti pada orang tua. Tidak hanya keluyuran dan memuaskan dahaga diri sendiri. Otomatis juga, aku tidak jadi menunggu Cak Nun, MUI, dan ibu-ibu. Padahal, aku juga menantikan kehadiran Cak Nun.

Aku hanya ingin menghambur ke tubuh Mamak. Pulang secepatnya. Sudah begitu saja. Sebelumnya, aku belum pernah merasakan kecengengan secengeng ini. Duh Mak……

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

30 Mei 2017 (10:50)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s