Anak dan Orang Tua

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana menjadi orang tua (orang yang sudah sepuh). Anaknya banyak namun anak-anak itu belum tentu bisa mengurus kedua orang tuanya sebagaimana mestinya. Membersihkan rumahnya, memasakkan, mencuci baju, mencuci piring, dan telaten merawat tubuh orang tuanya. Seringkali, sang anak merasa kesal menghadapi hari tua orang tuanya. Orang tua yang tidak bisa menjaga kebersihan tubuh dan rumahnya. Orang tua itu selalu terlihat kotor dan tidak pernah bersih. Lantai rumahnya, kakinya, bajunya, tempat tidurnya, dapurnya, dan lain-lain.

Lalu apa yang dilakukan oleh anak-anak mereka? Mereka hanya bisa mengomentari dan menyalahkan orang tua mereka. Hanya karena hal yang remeh-temeh. Tidak sebanding dengan apa yang telah dilakukan orang tua kepada anak-anaknya. Bahkan, anak-anak itu merasa malu memiliki orang tua yang tidak bersih. Kenapa mereka tidak berinisiatif untuk mengambil alih tugas-tugas orang tua di hari tuanya.

Aku juga tidak tahu persis perasaan orang tua terhadap anaknya. Begitu pula sebaliknya. Seperti halnya Mak e. Beliau akan melakukan  apapun untuk membahagiakan anaknya. Hal itu terlihat ketika Mak e selalu bertanya kepada kami anak-anaknya, mau makan apa. Perkara yang sangat sepele. Ketika Lisa ingin berbuka dengan kelapa muda, Mak e sampe lari mengejar Pak e. Mak e meminta Pak e supaya mengambilkan Lisa kelapa muda di sawah. Mak e membuat banyak makanan untuk kami sekeluarga. Pantas saja Mak e memasak banyak jenis makanan karena kami berbeda-beda selera.

Perasaan orang tua kepada anak begitu besar. Dan aku tak bisa menjamin apakah aku memiliki perasaan yang sangat besar pula terhadap kedua orang tuaku. Tentu aku tak bisa membalas kasih sayangnya dengan setimpal. Jangankan setimpal, sepersepuluhnya pun belum bisa. Aku harus bagaimana? Melakukan sebisa-bisaku.

Lalu aku melihat kehidupan orang tua yang sudah lanjut usia (sepuh). Aku memperhatikan kehidupan mereka secara diam-diam. Dan aku senang bersama mereka. Mereka adalah orang-orang sederhana yang sangat tulus. Namun, mereka telah menyingkirkan hidupnya untuk anaknya. Segala harta bendanya diserahkan sepenuhnya kepada anak-anaknya. Aku belum pernah melihat seorang anak yang telah membaktikan hidupnya kepada orang tuanya secara total. Maksudnya, mencukupi kebutuhan hari tua orang tua mereka. Kebutuhan sandang, pangan, kasih sayang, perhatian, dan merawat badan (raga)nya.

Seperti yang terdapat dalam bait-bait lagu, selamanya anak nggak bakalan bisa membalas segala budi jasa orang tuanya. Tak akan pernah bisa.

Sumanding, 25 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s