Dari Balik Layar

Menunda kepulangan karena  menunggu salah satu acara yang akan ditayangkan stasiun televisi swasta. Aku tak akan menyebut nama dan acaranya. Hanya ingin menceritakan apa yang terjadi saat acara berlangsung.

TV A menjemput kami melalui mobilnya di kampus kami. Kami berkumpul jam 3 dan berangkat ke kantor TV nya jam empat. Jalanan Jakarta lumayan lenggang karena hari libur. Kami tidak mengalami kemacetan yang berarti. Sampai di sana jam lima kalau nggak salah. Sudah ada salah satu band yang akan menghibur kami sampai acara berlangsung pada pukul delapan malam. Temen-temen request beberapa lagu. Aku hanya mengikuti liriknya sesekali saja, lirik-lirik yang kuhafal.

Maghrib tiba, kami diberi nasi kotak dan kolak. Ada tambahan teh dan kopinya juga. Aku hanya berpikir, hidup di Jakarta begitu bergemerlap. Boleh mengikuti aliran dan ritme kehidupan Jakarta. Namun, sesekali harus berpegangan pada kedirian kita, apakah benar-benar itu yang kita mau.

Mobil TV A tidak hanya menjemput mahasiswa-mahasiswa di kampus kami. Melainkan juga dari kampus-kampus lain. Istilahnya, kami ini penonton bayaran. Dibayar dengan sekotak nasi, segelas kolak, satu buku, seperangkat tempat selfi dan cetak foto. Kekinian banget ya. Kita dimanjakan dengan hal-hal itu. Pulangnya, kami pun diantar. Beres dah. Yang penting mau aja mengikuti instruksi produsernya. Datang ke ruang acara, duduk manis, bermuka senyum, dan bertepuk tangan. Sudah, gitu aja cukup.

Bandingkan misalnya dengan acara-acara yang didatangi sendiri oleh masyarakat. Orang-orang rela berdesak-desakan mengikuti acara tersebut. Tanpa menginginkan akan mendapat sesuatu yang bersifat material. Barangkali wong Jogja memang orang yang tulus. Di Jakarta, akan sulit jika mengandalkan kedatangan orang-orang secara sukarela. Kami adalah orang-orang pragmatis yang mempertimbangkan manfaat jangka cepat (read pendek). Makanya, mau tidak mau, harus dikonsep sedemikian rupa biar acaranya tidak terkesan sepi penonton. Harus terlihat meriah di layar kaca.

Asisten Produser memberitahu teknis acara tersebut berjalan. Kami harus tersenyum. Kalau ada aba-aba 5-4-3-2, di angka dua, kami harus bertepuk tangan dengan senyum terbaik, tidak boleh makan-minum (aktivitas yang mengganggu ekspresi wajah), harus melihat ke panggung meski nggak paham atau ngantuk, dan lain-lain. Kami yang hanya menjadi penonton bayaran saja sudah sangat tersiksa dengan persyaratan-persyaratan itu, apalagi dengan artis-artis lain. Mereka tidak boleh menampakkan kesedihan. Padahal kata Pak Ihsan, sedih yo sedih wae. Apakah mereka betah hidup dalam kepura-puraan? Ah barangkali aku terlalu cerewet mengomentari dunia selebriti.

Dan lagi El, kamu tidak perlu membanding-bandingan Jakarta dengan Jogja. Jakarta itu tempat duit/kerja. Lha Jogja? Tempat sekolah. Makanya, cara memandang keduanya tidak boleh menggunakan satu sudut pandang. Wajar dong jika Jakarta memberikan fasilitas bermacam-macam. Lha punya duit kok. Kalau aku nggak sependapat, itu terserah aku saja. Tidak bisa menyalahkan Jakarta.

Apa yang kita tahu dari balik layar televisi? Semua adalah settingan, pura-pura, sandiwara, dan lain-lain. Tidak perlu serius menonton tv. Ngapusi kabeh. Lha wong mereka mencari rating tinggi kok. Apapun akan dilakukannya.

 

Asrama Mahasiswa, Matraman Dalam II, Jakarta Pusat

Mei 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s