Potret Hitam Putih

Aku akrab dengan simbah-simbah di kampungku. Sejak kecil aku sering bersama mereka. Di saat simbah-simbah itu membungkusi nasi berkat di rumah tetangga kami yang sedang berhajat. Ngunduh mantu dan sunatan. Aku duduk dan nimbrung dengan para simbah di sebuah ruangan kecil di bagian belakang. Sedangkan anak-anak lain mungkin bermain di halaman rumah.

Mamak pernah bilang, “wong-wong tuwo sek wes do mati, kowe ra ngerti.”

Kujawab saja, “Ya masak aku berdiam di rumah, menunggui orang-orang tua. Melihat dan menyaksikan sisa hidup mereka.”

Di lingkunganku, masih tersisa beberapa orang tua seperti Mbahe, Mbah Rasyid, Buyut Rohmah, Buyut Kari, dan Mbah Murni. Sering merasa tidak tega kepada mereka yang seolah kini merasa kesepian. Hidup sebatang kara dan tinggal di rumahnya bagian belakang. Rumah bagian depannya diberikan kepada anaknya. Mereka mengalah dengan tinggal di belakang.

Rumah Mbahe terletak di samping rumahku. Berdampingan. Mak e melarang Mbahe masak sendiri. Biarkan Mak e yang menyiapkan segala makanan Mbahe. Namun selera masakan Mbahe adalah makanan yang tidak terlalu asin dan cukup pedas. Sedangkan Mak e sering memasukkan garam dalam jumlah besar sehingga masakannya asin. Kalau sudah begitu, Mbahe mengembalikan makanan yang sudah kuantarkan ke rumahnya. Mbahe tidak doyan makan ikan, telur, dan sebagainya. Masakan yang telah diolah Mak e, selalu dikembalikan Mbahe. Mau tidak mau, Mbahe makan dengan lauk seadanya. Lauk khas orang tua. Sangat sederhana. Labu siam dan cipir dimasak gebal-gebal dengan lauk gesek (Adonan terigu dicampur teri dan digoreng).

Suatu ketika Mak e meminta Mbahe supaya Mbahe masak sendiri karena barangkali Mak e merasa capek sendiri. Masakannya jarang disentuh dan dimakan Mbahe. Benak Mak e, kalau Mbahe masak sendiri, Mbahe bisa masak sesukanya. Memasak sesuai ukuran lidahnya sendiri. Tapi, sore itu, suara Mak e agak tinggi dan aku langsung ingin membela Mbahe. Tidak sepantasnya Mak e berkata demikian ke Mbahe. Tidak apa-apa berkata begitu, asal tidak dengan penuh amarah dan emosi.

Kejadian itu terjadi saat Mbahe berada di dapurku. Sebentar kemudian, Mbah e berjalan ke rumahnya. Aku bilang ke Mak e supaya Mak e tidak berkata demikian ke Mbah e. Aku sama marahnya terhadap Mak e. Mak e mematahkan semua anjuran dan saran yang kusampaikan dengan suara tinggi pula. Tidak bakalan ketemu kalau sedang sama-sama marah. Aku diam saja.

Maksudku, kalau-kalau perkataan Mak e menyakiti hati Mbahe. Aku yang sebagai anak Mak e saja merasa tersakiti jika Mak e berkata seperti itu kepadaku. Apalagi Mbahe yang tidak lain adalah ibu Mak e sendiri. Mbahe tentu akan lebih sedih. Kalau aku sedih kepada Mak e, aku bisa curhat kepada orang lain. Sedang Mbahe? akan melegakan perasaannya dengan curhat kepada siapa? Barangkali Mbahe akan memendam perasaannya sendiri.

Hari berikutnya, dengan was-was aku kembali bicara kepada Mak e. Intinya supaya Mak e tidak berkata-kata yang bisa menyebabkan Mbahe bersedih. Kasihan, sudah tua. Dan kali itu, Mak e hanya diam saja. Tanda kalau saranku didengarkan Mak e. Wkwkwk.

Ketika masih ada Mbah Kakung, Mbah Putri masih memiliki teman bercakap-cakap di rumah. Lalu sekarang, hanya bercakap dan bertukar pikiran kepada anak-anaknya yang datang hanya sesekali saja. Aku juga begitu. Menemani Mbahe hanya sesekali saja. Menemaninya tidur dan membersihkan rumahnya kalau hatiku sedang lega saja. Selebihnya, aku juga abai kepada Mbahe.

Di suatu sore, aku mendapati Buyut Kari mengunjungi Mbahe di rumahnya. Buyut Kari mengantarkan Uwi rebus. Uwi adalah jenis makanan seperti ketela/umbi-umbian. Bagaimana tidak terenyuh menyaksikan kedua orang tua yang saling berbagi makanan. Seolah dengan berbagi makanan, mereka juga telah berbagi beban hari tuanya. Pada zaman sekarang, makanan Uwi tidak diminati banyak orang. Mungkin hanya orang-orang tua yang masih mau memakannya.

Buyut Kari dan Mbahe saling bertanya apakah masing-masing dari mereka telah menengok tetangga kami yang habis kecelakaan? Faris, tetangga kami yang masih SMP jatuh dari motornya. Di lain kesempatan, Buyut Kari bertanya Mbahe apakah Mbahe telah menengok Pakdhe Tutik yang baru pulang dari rumah sakit. Kalau belum menjenguk, Buyut Kari meminta Mbahe barengan datang ke rumah Pakdhe Tutik.

Buyut Kari maupun Mbahe tidak mengajak anak-anaknya untuk melakukan hal bersama. Mereka lebih memilih mengajak temannya. Buyut Kari telah memiliki cicit. Sedangkan Mbahe telah memiliki canggah. Urutannya, Mbahe-Makdhe Ronji (anak)-Mbak Narsih (cucu)-Yogik(cicit)-Yora(canggah). Buyut dan Mbahe sama sepuhnya.

Apa yang membuat gambaran kehidupan orang sepuh seolah gambar yang hanya berlatar hitam dan putih? Tidak ada warna lain dan cerah dalam kehidupan orang sepuh. Warna hitam dan putih adalah warna yang melambangkan kekunoan hidup mereka. Kita sama-sama tahu sebelum ada foto berwarna, hanya ada foto yang tercetak dalam warna hitam-putih.

Ah ya, beberapa perkara yang membuat kehidupan orang sepuh semakin tampak hitam-putihnya. Klasik. Rumah mereka yang sederhana, kadang masih kayu. Atau sudah tembok berbata-pasir, namun belum dicat alias masih polosan. Terlihat bata dan adonan pasirnya. Beberapa ada yang sudah diplester, namun catnya kusam sekali. Asap dari dapur yang masih berbahan bakar kayu tentu membuat sekeliling ruangan menjadi hitam. Warna hitamnya tidak merata.

Di waktu lebaran, mereka didatangi banyak orang. Anak, cucu, saudara-saudara, dst. Rumahnya sangat ramai. Keramaian itu akan lenyap seturut dengan selesainya hari raya. Kehidupan orang sepuh kembali seperti sedia kala. Sunyi dan sepi. Masih berlatar hitam-putih.

Dalam potret kehidupan yang hitam-putih itu, kita dapat melihat ketulusan. Bagaimana orang tua yang telah melahirkan, membesarkan anak-anaknya, mengantarnya sampai pernikahan, dst. Setelah segala tugasnya sebagai orang tua selesai, orang tua memilih hidup berdampingan dengan kesunyian dan kesepian. Kurasa, tidak semua orang bisa bertahan di dalam kesunyian. Kita masih memiliki ego untuk memperlihatkan diri kita kepada orang lain. Show off. Ingin terlihat sebagai orang yang sukses, mentereng, berkedudukan, bermartabat, berakhlak, beragama, berbudi, dan ber-ber yang lain.

Orang sepuh mengajari ketulusan kepada kita semua. Menjadi diri yang benar-benar diri dalam kehidupan ini. Kita bukan siapa-siapa.

Sumanding, 23 Juni 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s