Bertradisi dengan Gembira

Kursi-kursi dan meja dikeluarkan dari ruang tamu. Ruangan menjadi sangat luas dan lebar. Tidak sempit. Lantai rumah digelari tikar. Tetangga berdatangan secara bergerombol maupun sendiri-sendiri. Aku datang ke rumah tetangga yang mendapat giliran berjanjenan bersama Mak e dan Lisa. Inilah acara mingguan yang dilaksanakan setiap malam Senin. Pembacaan kitab Barzanji.

Ibu-ibu satu RT berkumpul menjadi satu di salah satu rumah warga. Tuan rumah duduk di depan pintu, menyalami tetangga-tetangga yang hadir. Anak kecil berlarian senang karena mendapat permen dari pemilik rumah. Sudah lama aku tidak mengikuti acara ini. Mungkin sudah setahun.

Sempat-sempatnya aku menghitung berapa orang yang ikut serta dalam acara ini. Sekitar 35an orang. Ditambah yang tidak bisa hadir, barangkali sekitar 40 orang. Berarti ada 40 rumah yang didatangi untuk acara ini.

Pada sore hari, pemilik rumah sudah mengantarkan berbagai makanan kepada para tetangga. Tetangga satu RT mungkin. Aku juga kebagian makanan itu. Pisang gorang, bakwan, dan kacang atom. Untuk disuguhkan dan diantar ke rumah-rumah, tentu pemilik rumah telah membuat makanan dalam jumlah yang tidak sedikit. Betapa beruntungnya kami yang hidup di kampung. Memiliki kesempatan untuk hidup guyub dengan sesama.

Kitab Barzanji yang tersedia barangkali hanya 10an. Tidak semua orang memegang kitab Barzanji. Hanya sepuluh orang yang biasanya membaca. Lainnya hanya perlu duduk-duduk sembari mendengarkan bacaan kitab Barzanji. Kitab-kitab itu dimasukkan ke dalam tas kecil yang dulunya aku juga memakainya ke sekolah TPQ. Tas itu berputar mengelilingi rumah-rumah. Orang yang mendapat giliran akan membawa tas berisi kitab Barzanji di minggu sebelumnya.

Mayoritas warga desa beragama Islam. Islam ala NU. Kami bukanlah orang yang sangat agamis lagi alim. Kami biasa-biasa saja dalam beragama. Tidak ekstrim kanan maupun kiri. Sewajarnya saja. Dalam berpakaian pun, kami tidak syar’i-syar’i amat. Bahkan cenderung umuman. Memakai kerudung jika pergi ke sawah atau ke tempat-tempat jauh. Kalau di sekitar rumah, kami tidak berkerudung kecuali beberapa orang saja.

Begitu juga ketika acara berjanjen, tidak semua orang bisa membaca aksara Arab. Mungkin setengah dari peserta saja. Para orang tua yang sudah lanjut menirukan bacaan atau ikut melantunkan sya’ir. Bukan berarti mereka bisa membaca, melainkan karena telah hafal sebagian teks sya’ir.

Kami tidak terlalu khusyu’ mengikuti jalannya pembacaan berzanji. Di beberapa menit, memang terasa hening menyimak para pembaca. Ketika pembaca berhenti (waqaf), kami menjawab bacaannya dengan “Allahumma sholli ‘alaih”. Namun di kesempatan lain, kami juga tertawa ketika ada balita yang beratraksi lucu. Meski saat pembacaan tahlil maupun doa. Kami tidak terlalu sepaneng dalam menjalankan tradisi keagamaan di kampung kami. Kalau ada bocah yang malang melintang dan mondar-mandir, orang-orang sering menarik tangan balita tersebut. Berusaha untuk mendudukkan bocah itu di pangkuannya.

Acara Berjanjenan di awali dengan pembukaan, pembacaan Barzanji, tahlil, membaca shalawat Nariyah, dan wal ‘Asri. Setelah itu, pemilik rumah (dibantu beberapa keluarga dan tetangga) mengeluarkan jajanan yang sudah ditata rapi dalam piring. Pisang, sale, pisang goreng, rempeyek, bakwan. Ah ya, minuman kopi tak pernah luput dari acara apapun di desa kami. Tiga nampan minuman dikeluarkan dari dapur.

Sumanding, 09 Juli 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s