Dua Kisah Pilu

Anak kecil berusia dua tahun itu menangis di pelukan bapaknya. Malam-malam. Bapaknya kewalahan menghadapi anaknya. Ia tak lekas berhasil menghentikan tangis anaknya. Di tengah malam itu, bapaknya keluar dari rumahnya dan mencoba pergi ke jalanan. Barangkali dengan demikian, tangis anaknya reda.

Di tempat lain, ada ibu tirinya yang hanya diam saja. Tidak sudi menyentuh anaknya. Jangankan menggendong anak tirinya, menyapa saja tidak mau. Orang-orang hanya bisa menahan tangis atas rasa kasihan. Bapak membujuk anak balitanya yang tidak mau diam.

Entah bagaimana cerita anak Adam bermula. Serangkaian peristiwa dan kisah yang telah dilalui anak Adam menjadi kisah yang bisa dibicarakan orang lain. Semenjak kelahiran hingga kematiannya. Ada beberapa kisah yang sulit dimengerti dan dinalar akal sehat. Tak habis pikir ada orang yang hatinya membeku, tidak bisa berbelas kasih kepada seorang bocah. Bahkan itu sudah menjadi anak tirinya.

Rumor yang tersebar mengenai ibu tiri yang jarang berbaik-baik kepada anak tirinya juga berlaku di desa kecilku. Kalau sudah begitu, kisah ini menjadi sangat dekat bagi siapa saja yang tinggal di desa ini. Aku yang masih bocah perantauan juga tak pernah tertinggal dari kisah apapun yang tertulis dan tersurat di desa kami. Akan ada suara-suara yang menceritakannya kembali. Mengenai kelahiran, kematian, pernikahan, sunatan, perceraian, konflik antar warga, kegiatan-kegiatan baru, perkembangan desa, dst.

Dua kisah ini merupakan kisah ibu tiri dengan anaknya. Ibu tiri merasa belum bisa menerima suami barunya yang memang berada di bawah suaminya yang lama. Baik dari segi ekonomi, pekerjaan, kedudukan, dan rupa wajah. Karena belum bisa mencintai dan menerima suaminya secara apa apanya, ia juga belum bisa menerima anak-anak dari suami barunya.

Anak tertuanya belajar di salah satu kota besar, ikut tinggal bersama saudaranya. Membantu suatu pekerjaan. Ikut bantu-bantu. Dengan begitu, ia bisa membiayai hidupnya sendiri. Termasuk biaya hidup sehari-hari dan biaya kuliahnya. Sedangkan adiknya yang berumur dua tahun itu semula ikut bapaknya yang telah menikah dengan seorang perempuan. Perempuan yang kini menjadi ibu tirinya tersebut tidak mau merawatnya. Dalam istilah orang desa, ibu tiri tersebut tidak “pintar” kepada anak tirinya.

Merasa tidak tega dengan anaknya, sang bapak menitipkan anaknya kepada ibunya atau nenek si anak. Barangkali jika tinggal bersama neneknya, sang anak akan mendapatkan perhatian dan perawatan yang layak. Tapi, sang nenek sudah terlalu tua untuk merawat dan menjaga seorang bocah. Sudah tidak masanya lagi. Mau tidak mau, sang anak mendapatkan perawatan yang ala kadar. Bagaimana sih tinggal bersama orang sepuh, ia berbeda dengan orang tuanya sendiri.

Aku sebagai penonton dari sebuah kisah memiliki perasaan dan pertimbangan sendiri. Kalau ia (sang ibu tiri) tidak mau menerima konskwensi dari pernikahan baru, kenapa ia menerima lamaran dari seorang duda? nampaknya, ia juga tidak mau menatap mata suaminya. Ibu tiri menolak segala akibat logis dari pernikahan barunya. Suami dan anak-anaknya. Kalau sudah demikian, hubungan rumah tangga janda-duda tersebut tidak lagi harmonis. Seperti cerita awal pernikahan Syahrukh Khan di Rabne Bana di Jodi yang dijodohkan dengan anak gurunya.

Kisah yang lain menceritakan kisah yang hampir serupa dengan kisah sebelumnya. Sepasang suami istri terdiri dari janda dan duda yang telah memiliki anak. Anak tiri dari pihak suami tinggal di desa kami. Ia disekolahkan sebagaimana anak-anak yang lain. Belajar di Sekolah Dasar. Ibu tirinya tidak memperlakukannya dengan selayaknya. Tidak diberi makan dan uang jajan.

Sepulang sekolah, ia tidak langsung makan seperti kita-kita waktu masih SD. Anak tiri tersebut meletakkan tas dan mengganti bajunya setibanya di rumah. Setelah itu, ia melesat pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar atau rumput. Ia pulang lagi ke rumah sambil membawa hasil pencariannya selama di hutan. Kayu bakar dan rumput. Anak tiri berani makan setelah semua pekerjaannya selesai. Itu pun simbah tirinya yang memberinya makan.

Pernah juga ia ikut bekerja di rumah tetangga kami. Entah bekerja apa. Untuk anak seusianya, itu adalah kisah menyedihkan bagi warga desa yang lain. Anak usia sekolah tidak dirawat dan diberi makan. Justru ia harus pergi ke hutan sepulang sekolah. Kami rasa, kisah-kisah semacam itu tidak atau jarang sekali terdengar. Kalau ada, itu sudah melampaui kewajaran.

Apapun bisa terjadi bukan? Semoga lakon dari masing-masing kisah bisa mengambil pelajaran dari setiap detail jalan cerita yang dilaluinya. Masing-masing dari kita juga semoga memiliki kelapangan hati dan kejernihan dalam berpikir.

Sumanding, 01 Juli 2017

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s